Di Balik Panggung Krakatau Reunion Prambanan Jazz – Catatan Kecil Pengagum Krakatau

Di antara sekian banyak pengagum Krakatau, saya termasuk orang yang beruntung. Begitu mengagumi mereka sejak awal mereka merilis album diikuti album-album berikutnya yang totalnya hanya empat, saya yang dulu sangat berharap bisa bertemu dan mengenali mereka dengan dekat akhirnya bisa bertemu dan dekat. Dari Krakatau-lah saya bisa menikmati musik jazz yang dulu saya tidak suka.

Menonton mereka di panggung hanya terjadi satu kali pada masa mereka aktif. Itu terjadi di tahun 1987 tepatnya tanggal 24 Oktober di Sport Hall Kridosono. Masih teringat bagaimana suasana pertunjukan mereka di Yogyakarta yang dulu tak punya banyak pilihan untuk pertunjukan musik. Kerasnya volume suara yang memekakkan telinga membuat telinga berdengung ketika keluar dari tempat pertunjukan. Bagaimana mereka yang saat itu masih berusia belasan tahun sudah menjadi musisi yang luar biasa dan bagaimana saat lagu terakhir selesai dibawakan kemudian Trie Utami memeluk Indra Lesmana semuanya tak pernah hilang dari ingatan saya.

Kesedihan muncul ketika akhirnya Krakatau menyisakan tiga personilnya dan bahkan akhirnya sang vokalis juga harus meninggalkan group ini. Dan, perkenalan dekat dengan mereka terjadi justru ketika mereka tak lagi berenam dengan formasi yang tercatat di dunia industri musik Indonesia dan dikenal luas oleh pendengar musik Indonesia.

Bermula dari berkenalan dengan sang vokalis, Trie Utami, yang sering datang ke Yogyakarta di tahun 2007, kemudian diikuti perkenalan dengan sang gitaris, Donny Suhendra, yang melakukan pertunjukan di Yogyakarta. Selanjutnya bertemu sang bassist (Pra B Dharma) dan drummer (Gilang Ramadhan) yang juga cukup sering ke Yogyakarta. Pertemuan dengan sang gitaris, bassist dan drummer terjadi di tahun 2008. Di tahun 2009 bertemu Dwiki Dharmawan yang tampil di Yogyakarta dengan World Peace Orchestra dan disusul bertemu dengan Indra Lesmana di tahun yang sama.

Setelah itu, saya tak lagi bisa menghitung berapa pertemuan lagi dengan mereka. Di tahun 2015 lalu, harapan bertemu dengan keenam personil ketika mereka tampil di Economic Jazz Live harus tertunda. Mendekati hari mereka manggung, Indra Lesmana tak bisa tampil karena harus menjalani pengobatan. Di tahun ini keingingan bertemu mereka baru terwujud. Foto bersama dengan mereka pun tak boleh dilewatkan.

Saya mendapat kesempatan menemani mereka sejak H-1 sebelum tampil di Prambanan Jazz pada hari Minggu, 21 Agustus 2016. Hari Sabtu malam itu, mereka mengadakan latihan kecil di Riverside, sebuah villa kecil milik teman lama. Meskipun mereka sudah menjadi musisi profesional, mereka tak ingin mengurangi kualitas. Latihan tetap mereka jalani. Minggu pagi, mereka menjalani uji coba tata suara di tempat pertunjukan. Namun karena ada halangan, mereka balik ke hotel.

Uji coba tata suara pun berganti jadwal. Mereka berangkat ke tempat pertunjukan lebih awal dari rencana. Pukul 17.30 seluruh personil sudah ada di tempat pertunjukan dan mereka langsung melakukan uji coba. Kira-kira 60 menit mereka melakukannya dan kemudian dilanjutkan dengan makan malam di sebuah restoran yang tak jauh dari lokasi pertunjukan. Suasana makan malam yang santai. Dan untuk tidak mengurangi kualitas sebuah band, mereka menyempatkan diskusi untuk penampilan mereka beberapa saat ke depan dan juga rencana-rencana lain.

Pukul 20.30, seluruh personil Krakatau Reunion telah kembali ke lokasi pertunjukan untuk menunggu jadwal tampil. Diskusi antar personil, obrolan dan canda tawa semuanya terjadi di ruang tunggu berupa tenda. Minuman dan makanan kecil yang tersedia di tenda juga tak terlewatkan untuk dinikmati. Terjadwalkan tampil pukul 22.00 dan kenyataannya baru terealisasi pukul 23.00 sebenarnya cukup membosankan bagi saya. Saya ingin segera menikmati penampilan mereka sebagaimana dulu saya menonton mereka 29 tahun yang lalu. Tentu saja kali ini ada yang berbeda. Kali ini, saya bisa ikut mendokumentasikan penampilan mereka. Satu hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya tak lagi hanya menjadi penonton tapi juga berada di dekat mereka.

Malam itu menjadi malam tak terlupakan buat saya karena saya bisa berada di samping mereka sebagai seorang pengagum berat dan juga sebagai seorang kawan serta Keluarga. Saya menyaksikan sendiri bagaimana group buat saya tak pernah luntur ketenarannya menunjukkan sikap profesionalisme mereka. Walaupun mereka sudah bisa dikatakan sebagai musisi top, mereka masih menjalani “ritual” sebuah pertunjukan. Mereka melakukan uji coba tata suara sebagaimana menjadi keharusan bagi sebuah band yang usianya bisa dihitung dengan jari tangan. Mereka juga berada di lokasi pertunjukan jauh dari jam pertunjukan agar penyelenggara tak harus mengulur waktu menunggu mereka tampil.. Dan ketika berada di panggung, energi mereka dicurahkan untuk memuaskan penonton.

Sikap-sikap yang mereka tunjukkan dan lakukan inilah yang membuat saya semakin respek. Sebuah sikap yang belum tentu dimiliki musisi baru terutama yang mengalami gegar budaya saat sedang berada di atas, menjadi bintang dan meraih ketenaran. Tak terbersit sedikit pun bagi mereka untuk menyusahkan penyelenggara. Mereka mengabdi pada profesinya, pada kehidupannya.

Terima kasih Krakatau yang memang pantas dijadikan idola. Saya hendak menikmati minuman hangat sore sambil mendengarkan komposisi Senja, salah satu komposisi favorit yang sudah berusia 29 tahun, hampir tiga dasawarsa namun usia karyanya tak senja.

 

Singo Tj
Krakatau Freak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s