Krakatau Reunion Prambanan Jazz– Kesempurnaan Sebuah Reuni

Pertunjukan Krakatau Reunion di pagelaran Prambanan Jazz 2016 adalah sebuah pertunjukan reuni sempurna sebuah band yang sudah lama terpisah.

Dibanding penampilan mereka pada Economic Jazz Live (EJL) XXI 10 Oktober 2015, penampilan kali ini jelas lebih greget karena seluruh personil berjumlah enam orang yang berjaya dengan Krakatau hadir di panggung yang besar di ruang terbuka beratapkan langit dengan hiasan belakang Candi Prambanan yang nyata.

Krakatau yang tampil di Prambanan Jazz pada Minggu, 21 Agustus 2016, membawakan lebih dari sepuluh komposisi yang terdiri dari lagu-lagu yang hits sejak mereka aktif di dunia industri musik Indonesia di tahun 80-an dan juga beberapa lagu baru di album mereka yang segera rilis bulan depan. Penampilan mereka dibuka dengan membawakan komposisi instrumental dan kemudian disusul dengan naiknya sang vokalis, Trie Utami, ke panggung. Gemuruh penonton yang sudah kangen melihat kejayaan mereka langsung terasa.

Lebih dari seperempat abad sejak mereka berkibar dan kemudian para personil sibuk dengan kegiatan masing-masing, Krakatau yang kemudian memainkan genre etnik di paruh tahun 90an tak memperlihatkan penurunan kualitas musikalitas mereka. Yang ada adalah kematangan mereka setelah masing-masing berkelana bereksplorasi dengan musiknya masing-masing dan menyatu kembali (reuni) di panggung sebagaimana mereka dulu.

Kekompakan mereka tak berkurang. Improvisasi masih terus menggeliat tanpa kehilangan sentuhan khas Krakatau. Setidaknya ini terlihat ketika mereka membawakan komposisi Haiti dari album pertama mereka di tahun 1987. Haiti yang menjadi salah satu hits mereka dimainkan dengan improvisasi di awal selama beberapa menit oleh permainan kibor Dwiki Dharmawan dengan rekan tandemnya, Indra Lesmana. Dan setelah beberapa nada Haiti terdengar seperti yang ada di album mereka, penonton langsung bisa menebak dan memberikan tepuk tangan. Mereka rindu mendengarkan komposisi ini secara langsung.

Krakatau yang memulai memainkan musik mereka pada pukul 23.00 dan berada di panggung selama 85 menit tetaplah Krakatau yang dulu. Interaktif dengan penonton, menyapa mereka sebagai keluarga dengan Trie Utami sebagai garda depan dan juga diselingi Indra Lesmana yang bercerita bagaimana Yogyakarta menjadi kota penting bagi perjalanan karir mereka pantas membuat group ini selalu dirindukan. Beberapa penonton berdiri – walaupun mereka memiliki kursi – dan terlihat antusias ikut bernyanyi pada bebarapa lagu yang hits seperti Kembali Satu, La Samba Primadona, Sekitar Kita dan yang lain.

Permainan solo drum Gilang Ramadhan semakin menambah kesan personil group band ini tak surut kemampuannya. Betotan bass Pra B Dharma yang penampilannya tenang serta cabikan gitar Donny Suhendra yang menjadi banyak idola gitaris Indonesia turut memberi kontribusi pada musik Krakatau yang tetap asik dan tak pernah pudar di ingatan para penikmatnya yang disebut Keluarga Krakatau.

Penampilan selama 85 menit tidaklah cukup untuk menyaksikan Krakatau yang sebenarnya. Komposisi yang ada di empat album mereka dengan formasi enam orang ini hampir seluruhnya menjadi hits pada masa itu. Tapi, karena penampilan di acara yang terbungkus tajuk “festival”, mau tak mau waktu harus dibagikan pada penampil lain. Dan malam itu, Krakatau menutup penampilannya dengan lagu Gemilang. Sebuah lagu yang memang gemilang dan menunjukkan bahwa penampilan mereka memang gemilang.

Tj Singo
Krakatau Freak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s