Ngayogjazz: Perbelanjaan Modern di Pasar Tradisional

Menghadiri pagelaran Ngayogjazz seperti berada di perbelanjaan modern (pasar swalayan) di pasar tradisional. Ngayogjazz yang selalu diadakan di desa pada tahun ke-10 pelaksanaannya tahun ini diadakan pada hari Sabtu Pon, 19 November 2016 di Padukuhan Kwagon, Godean, Sleman dengan tema Hamemangun Karyenak Jazzing Sasama yang terinspirasi dari Pupuh Sinom Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV. Ungkapan tema ini berasal dari kata Amemangun Karyenak Tyasing Sasama yang artinya berbuat untuk menyenangkan hati sesama manusia. Lengkapnya bisa di baca di sini

Hiraukan sejenak tentang tema tahun ini yang membutuhkan konsentrasi linguistik tingkat tinggi nan filosofis dan agak sulit dihafalkan. Lebih baik saya melanjutkan tentang pasar swalayan di pasar tradisional saja. Ini adalah sebuah cerita pengalaman menghadiri Ngayogjazz tahun lalu yang diadakan di Desa Pandowoharjo, Sleman.

Sejak memasuki desa Pandowoharjo sebelum tengah hari, yang tercium adalah aroma tumbuh-tumbuhan yang masih hijau segar tercampur dengan aroma kandang sapi dan apa saja yang ada di sana termasuk kotoran. Memasuki desa adalah memasuki suasana tradisional di saat orang lebih senang dikatakan sebagai manusia modern. Dan ketika sampai di pusat pelaksanaan acara, terdapat banyak orang berjualan (pasar). Mereka adalah penduduk desa yang jadi pedagang tiban untuk meraih penghasilan lebih banyak dalam sehari.

Kios-kios penjualan memang bagian tak terpisahkan dari pagelaran Ngayogjazz. Di situlah model jualan tradisional terjadi. Sementara, musik-musik yang dipertunjukkan di Ngayogjazz oleh para penampil di enam panggung tersedia bisa dianggap sebagai barang dagangan di pusat perbelanjaan modern alias pasar swalayan tadi. Panitia menyediakan buku panduan untuk memudahkan pengunjung memilih siapa yang akan mereka tonton. Buku panduan berfungsi sebagai brosur daftar barang yang dijual seperti halnya yang tersedia di pasar swalayan atau hypermarket.

Manusia modern yang memegang prinsip efektivitas dan efisiensi, umumnya menyiapkan daftar belanja sebelum memasuki pasar swalayan. Tidak semua tapi sekali lagi, itu katanya demi menghargai waktu dan membatasi bocornya keuangan. Namun dalam perkembangannya, bisa saja ada barang yang dibeli di luar rencana ketika tertarik pada barang yang menggoda untuk dibeli. Saya melakukan hal yang sama seperti orang yang disebut modern. Menyiapkan daftar belanja siapa saja musisi yang akan saya tonton atau temui untuk melaksanakan “ritual” meminta tanda tangan di album-album karya mereka.

Sambil menunggu pembukaan, saya mulai memilih panggung-panggung manakah yang nantinya akan saya datangi untuk menyaksikan penampil yang beraksi. Inilah sebuah pembelanjaan ala pasar modern di pasar tradisional. Di pusat perbelanjaan modern, pembeli bisa memilih barang apa yang akan dibeli dengan lebih nyaman. Cocok, bayar, pulang. Persiapan sudah dilakukan. Seluruh album yang hendak dimintakan tanda tangan sudah dibawa. Sebagian daftar belanja Ngayogjazz 2015 adalah ESQI:EF (Syaharani and Queenfireworks), Ina Ladies (Happy Pretty), Indra Aryadi (feat Krishna Balagita), Indro Hardjodikoro, Kua Etnika & Trie Utami, dan Vickay (feat Roedy Emerald).

Dalam perjalanan dari satu panggung ke panggung yang lain untuk menuju lorong dipajangnya tempat barang yang hendak dibeli, ternyata telinga saya bak mata yang tergoda membeli barang yang tak direncanakan. Bunyi-bunyian yang tercipta dari alat musik dan vokal yang menggoda bagai suara merdu seorang gadis membuat saya jadi lupa barang yang hendak dibeli.

Mlenuk Voice yang tak ada di daftar belanja telah membelokkan saya untuk terpaku “membeli” barang di luar rencana. Amazing Grace yang dilantunkan mereka bak magnet yang menarik besi. Kekompakan mereka melantunkan lagu dan bikin merinding adalah magnet itu. Dexter Band dan Panjoel yang sudah sering saya tonton di tempat mereka sering melakukan pertunjukan tak ada dalam daftar belanja. Tapi malam itu mereka tak seperti biasanya. Tujuan saya yang hendak menonton penampilan Ina Ladies tertahan di sana sampai saya melupakan daftar belanja.

ESQI:EF (Syaharani and Queenfireworks), Ina Ladies (Happy Pretty), Kua Etnika & Trie Utami yang tampil di panggung yang sama di samping makam sebenarnya masuk di daftar belanja tapi tak jadi masuk ke keranjang belanja karena saya terlalu asik menyaksikan Indra Aryadi (feat Krishna Balagita) yang tak pernah saya saksikan. Sementara penampilan terakhir malam itu adalah Kua Etnika & Trie Utami yang sebenarnya bisa saya kejar setelah menyaksikan Vickay (feat Roedy Emerald). Ternyata, barang itu tak terbeli karena alasan teknis. Barang laku jadi rebutan. Akses menuju ke panggung Werkudara tertutup karena penuhnya penonton yang menyaksikan Cah-cah mBantul dibantu “penyanyi cilik” ibukota itu.

Ini pengalaman baru berada di pagelaran Ngayogjazz. Menyiapkan daftar belanja memang penting untuk memastikan bisa menikmati tontonan yang diharapkan sebagaimana membeli barang yang direncanakan. Namun, jika di lokasi sistem belanja modern di tengah pasar tradisional itu rencana jadi berubah, jangan salahkan keadaan. Toh hal ini sering terjadi ketika kita menyiapkan daftar belanja tapi berselingkuh membeli barang di luar rencana.

Itulah Ngayogjazz. Dia bisa membelokkan konsentrasi karena para penampil tak sekedar mereka yang sudah punya nama tapi juga punya kemampuan musikal yang juga asik ditonton dan membuat kita menyeleweng dari rencana. Dan, daftar belanja saya untuk Ngayogjazz 2016 adalah Bonita & The Hus Band, Emerald-Bex feat Dudi Oris, Fariz RM Anthology Kuartet, Jalu TP, Monita Tahalea, Muchichoir, Shadow Puppets dan Harvey Malaihollo, Sweetener & Andi Bayou Project, dan Tohpati and Friends.

Jadi, siapkan daftar belanja sekaligus bersiaplah dengan rencana lain. Anggaran belanja bisa bertambah terjadi karena adanya perselingkuhan. Tapi ini perselingkuhan yang tidak menyakiti pasangan dan bukan dosa. Bisa juga target belanja tak terbeli karena sudah habis diborong orang. Sampai jumpa di Padukuhan Kwagon, Godean, Sleman beberapa hari lagi.

 

Tj Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s