Emerald BEX – Sebuah Memori, Improvisasi & Atraksi di Ngayogjazz

Ngayogjazz, sebuah perhelatan jazz ndeso yang gaungnya sudah menasional, adalah sebuah perhelatan unjuk kebolehan bermain musik jazz sesungguhnya. Di kala banyak event yang menyematkan kata jazz namun sebagian besar penampilnya bermain di genre pop yang populis, Ngayogjazz konsisten, menurut istilah Hatta Kawa salah satu board pagelaran ini, hanya menyematkan prosentase kecil musisi yang bermain di ranah pop. Itu pun dengan syarat musik yang mereka mainkan berbalut jazz.

Puluhan artis yang tampil di acara setahun sekali di Yogyakarta selalu memberi dilema penampil mana yang hendak ditonton. Campuran musisi lama dan tunas-tunas muda yang terus berkembang memainkan jazz menjadi adonan yang hasilnya bikin mabok ketika harus memilih. Entah apa rahasia dapur ramuan mereka sehingga bisa menyodorkan buah simalakama bagi penonton yang serius ingin menikmati musik jazz secara live di enam panggung berbeda pada saat yang bersamaan.

Di tahun 2016 ini misalnya. Dilema itu adalah Emerald-BEX, Tohpati & Friends, Bonita & The Hus Band, Nikita Dompas Trio feat Mian Tiara dan Fariz RM Anthology Kuartet. Mereka bermain di sesi terakhir di tiap panggung. Sebenarnya masih ada kesempatan menonton Fariz RM karena permainannya sedikit lebih malam dari yang lain tapi nyatanya akses menuju ke jalan itu sudah tertutup dengan penuhnya penonton yang ingin menikmati sang Sakura di Barcelona itu. Jadi, pilihan yang mantap diambil adalah menikmati Emerald-BEX yang menjadi salah satu ikon jazz Indonesia tahun 80an.

Emerald-BEX yang mencuat dengan karya Karapan Sapi dan membawa mereka ke Jepang dengan komposisi ini pada akhir tahun 80an adalah kejayaan fusion jazz yang kala itu populer di Indonesia. Bisa jadi pilihan ini dibuat karena ingin kembali ke masa lalu yang cemerlang. Tapi pada akhirnya, yang dinikmati bukanlah hanya kenangan melainkan juga permainan apik nan rapi dengan bonus atraksi.

Siap di panggung pada jadwal yang tertera, pukul 21.45, Emerald-BEX memulai dengan Billiard. Ini adalah karya di album pertama mereka, Cemas (1987). Ini merupakan satu dari dua komposisi instrumental di album tersebut. Emerald mengemas sepuluh karya dengan vokalis Diah Parwita dan vokalis tamu Jean Retno Ariyani dan almarhum Utha Likumahuwa. Permainan mereka pada Billiard di Panggung Kripik menjadi pemanas di tengah udara panas malam itu.

Seusai memainkan komposisi tersebut dan mendapat tepuk tangan meriah, Roedy sang pencabik bass menyapa penonton kemudian memperkenalkan komposisi yang akan mereka mainkan berikutnya. Terinspirasi oleh nama pantai, meluncurlah Natsepa yang ada di album Beda (2015) yang penjualannya bagus dan mengalami cetak lebih dari satu kali. Walaupun berjarak 21 tahun dari album Marunda di luar album kompilasi terbaik (2009), komposisi ini menunjukkan konsistensi Emerald memainkan aliran fusion jazz.

Dahaga dan kerinduan penonton akan Emerald terlihat dari bagaimana mereka menikmati tontonan ini. Konsentrasi mereka tertuju di panggung walaupun sebagian penonton asik dengan gawai mereka ikut mendokumentasikan pertunjukan baik dalam bentuk gambar bergerak maupun foto. Yang jelas, penonton yang menikmati Emerald sejak tahun 80an seakan tak mau kelihangan momentum nostalgia dan kenikmatan sebuah permainan fusion jazz Emerald yang menunjukkan kekompakan Roedy, Morgan, dan Iwang yang sudah bermain selama 37 tahun! Kekompakan mereka tunjukkan ketika terjadi improvisasi menuju ending. Aksen dan hentakan dari masing-masing alat musik yang dimainkan menjadi bukti mereka yang telah bersenyawa dan bahkan tersaji menjadi sebuah atraksi yang mengundang tepuk tangan keras penonton yang terhibur.

Tampilnya Dudi Oris membawakan lagu Hanya Angan yang dulu dibawakan almarhum Ricky Johannes di album Baralek Gadang (1991) disambut meriah penonton yang berusia 30an. Mereka mengenal Dudi di band dimana dulu Dudi meniti karirnya. Lantunan bibir yang bergerak menirukan lirik lagu ini muncul pada penonton usia 40an. Dudi sangat menguasai lagu ini. Almarhum Ricky Jo adalah salah satu role model buatnya berkarir sebagai penyanyi.

Kondisi penonton yang menghangat teredam oleh lagu berikutnya yang menyisakan Iwang Noorsaid pada kibor mengiringi Dudi di panggung membawakan Satu Lagi dalam tempo yang pelan. Suasana sentimentil tercipta. Penonton nampak terhanyut. Bisa jadi mereka teringat almarhum Ricky Jo yang menciptakan lagu ini bersama Iwang atau memang Dudi yang bisa mengaduk emosi penonton dan melempar memori mereka akan lagu yang bisa bikin – istilah kekinian – baper ini? Saya lupa bertanya pada penonton.

Tak perlu tambahan lagu bertempo lambat untuk larut dalam kebaperan. Dudi kembali mengangkat emosi penonton lewat Pasti Dapat yang ada di album Karapan Sapi (1989). Lagu bertempo sedang ini menunjukkan kejayaan Emerald. Penonton yang datang bersama mantan kekasihnya malam itu terus larut bernyanyi bersama. Permainan gitar Morgan Sigarlaki yang mengalirkan melodi dan cabikan bass Roedyanto menjaga keaslian lagu ini dengan tambahan improvisasi sebagaimana adanya musik jazz.

Penampilan drummer muda Yandi Andaputra yang memanggil personil lain dengan sebutan “om” karena jarak usia menunjukkan perbedaan usia di musik bukanlah penyekat. Ia bisa blend dengan para om di panggung dan menjadi penguat musik Emerald karena permainannya yang enerjik dan juga atraktif. Ini ditunjukkannya di akhir penampilan mereka malam itu lewat Karapan Sapi yang ada di album dengan judul sama dengan lagu tersebut (1989).

Gebukan drum yang bertenaga tak jarang mengundang tepuk tangan penonton. Kehadiran Yandi memperkuat Emerald-BEX menjadi jembatan datangnya penikmat baru band ini. Permainannya yang kekinian menjadi daya tarik bagi peminat muda usia. Dan, Yandi mendapat ruang bebas di Emerald-BEX melakukan improvisasi sesuai kemampuannya sebagaimana hakikat musik jazz itu sendiri.

Waktu menunjukkan pukul 22.35 saat Karapan Sapi usai. Lima menit lebih lama dari rundown acara. Sempat terdengar teriakan “more….more…” dari penonton. Teriakan yang tak begitu keras. Teriakan ala Yogya yang alon-alon waton ora krungu. Bukan teriakan ala Madura dimana Karapan Sapi menjadi tradisi yang digubah menjadi komposisi yang melambungan nama Emerald. Mungkin teriakan itu perlu dilakukan ala Madura biar para personil Emerald mendengarnya dan tahu bahwa penonton terhibur agar Emerald kembali ke panggung menjadi joki Karapan Sapi. Moooooowwwww

 

Tj Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s