Sajian Tonggak Sejarah Musik Indonesia – Tentang Konser Badai Pasti Berlalu Plus di Yogyakarta

Jika saja Slamet Rahardjo, salah satu pemeran di film Badai Pasti Berlalu (BPB), tidak melakukan persuasi terhadap Teguh Karya, sang sutradara film, agar album OST BPB yang dinyanyikan oleh Broery Pesulima digantikan oleh Chrisye, mungkin album ini takkan menjadi tonggak sejarah musik Indonesia.

Menjadi album terbaik nomer satu dari 150 Album Indonesia Terbaik versi Majalah Rolling Stone edisi 32 (Desember 2007), album ini adalah cetak biru perkembangan musik pop Indonesia untuk era berikutnya. Album tonggak sejarah ini muncul sebagai pembeda di antara album-album yang marak waktu itu. Menonjolnya album ini tercipta ketika orang jengah mendengarkan lagu-lagu Indonesia saat itu.

Walaupun mengadopsi musik Eropa, album ini tampil dengan konten Indonesia. Penulisan lirik yang lebih puitis dengan menggunakan metafora serta keunikan karakter vokal Chrisye dan Berlian Hutauruk semakin memperkuat karakter lagu-lagu di album ini. Perpaduan itulah yang akhirnya menjadikan album ini berhasil menjadi monumen sejarah musik Indonesia sebagaimana ditegaskan oleh Yockie Suryo Prayogo pada konferensi pers sehari sebelum pelaksanaan Konser Badai Pasti Berlalu Plus di Yogyakarta tanggal 6 November 2016.

Konser BPB Plus merupakan serangkaian konser yang dikomandoi Yockie dengan konsep menampilkan mahakarya album BPB dan beberapa karya yang di dalamnya Yockie ikut terlibat menggarap, baik sebagai pencipta lagu, penggubah dan pengarah musik. Yogyakarta menjadi kota terakhir di tahun ini dari lima kota pelaksanaan setelah Jakarta, Bandung, Surabaya dan Malang.

Menurut Dion Momongan dari tim produksi konser BPB Plus, konser ini memiliki visi dan misi mempertahankan roh katalog lagu-lagu lama yang ditampilkan seutuhnya tanpa perubahan aransemen yang signifikan demi sebuah orisinalitas. Jikalau ada pembaharuan sound yang dirasa perlu itu demi sebuah dinamika produk musik. Konser di tiap kota memiliki konsep berbeda dengan penampil yang tak selalu sama. Di Yogyakarta ditampilkan lagu “Serasa” dan “Percayalah Kasih” yang dulunya dibawakan oleh Vina Panduwinata, Iwan Fals dan Yockie di album Penantian (1986).

Ramuan mahakarya katalog lagu-lagu lama dengan aransemen tanpa perubahan drastis ini tersaji rapi di Grand Pacific Hall pada awal November lalu. Menurut direktur Interact Mahanalive Tatit Primadi sebagai promotor, dari 1500 tiket yang disediakan terjual 80 persen. Di dalam gedung berkapasitas 3000 penonton, datang 1200 penonton menurut catatan elektronik penjualan tiket, sepuluh persennya berasal dari luar kota.

Awalnya Kadri Mohammad sebagai salah satu penyanyi di konser itu khawatir acaranya akan membosankan dan membuat penonton pulang lebih awal. Dalam tiga jam penyajian konser, itu tak terbukti. Yockie Suryo Prayogo sebagai komandan dibantu Indro Hardjodikoro & HEi Band dengan pemain biola Didiet, pemain keyboard Eggy, drummer Ray Prasetya dan gitaris Yankjay. Para penyanyi yang memperkuat konser di kota ini adalah Benny Soebardja, Berlian Hutauruk, Debby Nasution, Keenan Nasution, Louise Hutauruk, Dian Pramana Poetra, Fryda Lucyana, Kadri Muhammad, Andy /rif, Ariyo Wahab, Bonita, Gilang Samsoe, Pongki Barata dan Sarah Anjani.

Penampilan Berlian Hutauruk sebagai penyanyi asli lagu “Matahari” dan “Badai Pasti Berlalu”, Benny Soebardja pada lagu “Apatis”, Keenan Nasution yang membawakan “Nuansa Bening”, Lousie Hutauruk di lagu “Khayal”, permainan keyboard Debby Nasution pada lagu “Angin Malam” (ciptaannya sendiri), Dian Pramana Poetra yang membawakan “Kau Seputih Melati” serta Fryda Lucyana yang menyanyikan “Rindu” adalah sebuah sajian bersejarah dan orisinal untuk penonton. Perkecualian ada pada lagu “Khayal” yang aslinya dibawakan oleh Purnama Sultan yang tak terlacak keberadaannya seperti disampaikan Yockie di panggung.

Tampilnya penyanyi-penyanyi muda yang berkarir setelah para penyanyi di atas untuk menggenapi konser ini adalah sebuah eksplorasi dan edukasi nyata atas lagu-lagu bersejarah di dunia musik Indonesia seperti yang diharapkan oleh Yockie. Andy /rif, Ariyo Wahab, Bonita, Gilang Samsoe, Kadri Muhammad, Pongki Barata dan Sarah Anjani terbukti bisa menginterpretasi dengan baik lagu-lagu yang disajikan di konser itu.

Konser dimulai terlambat 20 menit dari jadwal pukul 20.00. Penonton yang hampir semuanya mengalami masa ketika album BPB dirilis dan mengikuti musik Indonesia di tahun 80-an dan 90-an menunjukkan kesabarannya menunggu. Bambang Gundul sebagai pemandu acara membuka gelaran ini dengan meminta penonton berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kemudian Yockie memberikan sedikit pengantar dan dimulailah konser ini oleh Andy /rif & Kadri yang menegaskan identitas mereka sebagai penyanyi rock dengan membawakan Jurang Pemisah yang tak begitu akrab di telinga namun berhasil menaikkan mood penonton Yogyakarta yang adem ayem.

Karakteristik adem ayem ala Yogya berlanjut karena buaian lagu-lagu manis penuh nostalgia semacam “Dalam Kelembutan Pagi”, “Rindu”, “Semusim”, “Apatis”, dan “Khayal”. Benny Soebardja yang menyiratkan kejayaannya saat membawakan “Apatis” berduet dengan Kadri berhasil mengubah suasana menjadi lautan paduan suara. Alur yang mulai berubah menghangat berlanjut saat Keenan membawakan “Nuansa Bening” yang kharismatik. Walaupun belum pada suasana memuncak, suasana adem ayem sudah mulai berubah bak sebuah konser yang dihadiri anak-anak muda yang penuh tenaga.

Bisa jadi kondisi yang tercipta di awal konser disebabkan oleh suasana formal yang terbangun karena Kafispol Gama (Keluarga Alumni Fisipol Gadjah Mada) yang mengelola acara ini mengundang para pejabat akademik Fisipol UGM termasuk Dekan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai alumnus yang duduk bersebelahan dengan Slamet Rahardjo di barisan depan. Suasana cair mulai tercipta ketika Bambang meminta Ganjar ke panggung untuk memberikan sepatah kata usai Yockie membawakan “Citra Hitam”.

Pemandu acara yang alumnus Fisipol UGM ini ikut mencairkan suasana lewat letupan-letupan humor yang dilontarkan pada Ganjar yang juga membalas gurauan ini. Apalagi, setelah sambutan dari Ganjar, Dian PP muncul di tengah penonton membawakan “Kau Seputih Melati” yang disambut puluhan telepon pintar yang memanfaatkan momentum bisa berfoto dengan sang penyanyi flamboyan tahun 80-an itu. Kemudian dia naik ke panggung membawakan lagu “Selamat Jalan Kekasih”.

Dian PP melakukan ice breaking pada separoh perjalanan konser ini menjadikan penonton betah berada di ruang pertunjukan. Bangunan alur yang tertata belanjut ketika Debby tampil bermain keyboard mengiringi Gilang membawakan “Angin Malam”. Tuts keyboard yang dimainkannya sama seperti yang terdengar di album BPB. Bonita semakin melengkapi kenyamanan tontonan ini ketika melantunkan “Merpatih Putih”. Penghayatan total serta suaranya menjadikannya salah satu bintang pada konser ini.

Saat tampil bersama Pongki dan Andy /rif membawakan “Percayalah Kasih”, Bonita berusaha keluar dari karakter Vina Panduwinata yang kuat dan ia berhasil. Andy /rif yang kemudian bersolo membawakan “Anak Jalanan” juga berhasil membangun citra lagu ini sebagai lagu rock ala Andy dengan dukungan permainan musik yang kompak dan megah.

Menjelang penghujung konser dan penonton sudah mulai sedikit melemah setelah hampir dua setengah jam berada di gedung pertunjukan, Ariyo tampil menaikkan kembali mood penonton. Muncul dari arah belakang penonton, lagu “Serasa” dengan beat yang tak terlalu cepat berhasil membuat penonton menggoyangkan badan. Ariyo yang sudah menguasai penonton, meminta penonton berdiri saat membawakan “Juwita”. Tak ayal, penonton ikut larut dalam irama yang asik ini.

Berlian Hutauruk yang tampil di ujung acara mengentak dengan “Matahari” yang dilanjutkan dengan lagu yang sekaligus menjadi judul album monumental dan konser ini, “Badai Pasti Berlalu”. Kualitas vokal yang tetap prima membuat lagu ini diikuti serentak oleh semua penonton. Lagu “Badai Pasti Berlalu” adalah Berlian Hutauruk.

Setelah 21 lagu telah tersaji. Erros Djarot sebagai orang penting di balik lirik-lirik lagu BPB diminta oleh Yockie untuk tampil, sebuah hal yang tak terjadi di empat kota pelaksanaan konser BPB. Erros menyanyikan “Pelangi” sebagai penutup konser malam itu sekaligus rangkaian konser BPB di tahun 2016 dan menggenapi konser ini dengan 22 lagu. Seluruh artis pendukung memenuhi panggung pertunjukan dan bersama Erros mereka membawakan lagu abadi ini, lagu yang tak hanya populer saat dirilis namun tetap dibawakan oleh banyak orang sampai saat ini.

Perpaduan penyanyi pelaku sejarah dengan para penyanyi muda lagu-lagu yang ditampilkan pada konser malam itu adalah sebuah analogi menikmati album kompilasi dengan tema khusus yang lagu-lagunya dibawakan oleh bermacam penyanyi yang sampai sekarang masih menjadi tren penjualan album. Hasil interpretasi bisa semuanya baik namun bisa juga satu atau dua lagu tak memenuhi harapan.

Catatan khusus ditujukan untuk Gilang Samsoe sebagai penyanyi muda potensial. Dia membutuhkan lebih banyak jam terbang agar bisa menaklukkan penonton. Bonita dengan totalitasnya menunjukkan kualitasnya yang akan lebih pas jika sedikit menurunkan power. Ariyo mendapatkan poin dalam menjaga alur pertunjukan jadi hidup yang telah dimulai oleh Dian PP. Penampil lain tampil aman di jalurnya.

Konser BPB Plus di Yogyakarta malam itu memuaskan banyak pihak. Keenan Nasution berpendapat konser ini adalah sebuah karya yang harus diikuti karena semua orang mengenal lagu-lagu di album ini. Bagi Pongki diajak di konser ini adalah sebuah kehormatan. Konser ini merupakan pertukaran energi dari musisi beda generasi. Yockie, sang komandan, menyatakan pelaksanaan konser di kota ini paling memuaskan.  “Ini adalah titik yang paling maksimal di antara konser-konser sebelumnya. Saya berhasil melakukan pendekatan ke generasi musisi muda. Ini lho yang saya maksud dengan bermain musik dengan rasa kultural (Indonesia). Mereka makin fasih dan lebih memahami dibanding konser sebelumnya,” begitu katanya menutup pembicaraan dengan RSI sebelum kembali ke Jakarta.

Tj Singo

 

catatan: Tulisan ini pernah dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi 140 – Desember 2016

2 thoughts on “Sajian Tonggak Sejarah Musik Indonesia – Tentang Konser Badai Pasti Berlalu Plus di Yogyakarta

  1. Pingback: Selamat Jalan Kekasih …..Yockie Suryoprayogo | singolion

  2. Pingback: Dian Pramana Putra – Kau Seputih Melati | singolion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s