Padi Reborn: Kejayaan Yang Terlahir Kembali

Pemutaran sinetron “Menanti Sebuah Jawaban” di stasiun televisi SCTV pada Hari Sumpah Pemuda dan dilanjutkan Mega Konser Padi Reborn di RCTI pada Hari Pahlawan menjadi pertanda Band Padi terlahir kembali untuk pendengar musik Indonesia. Seolah menjadi jawaban “Menanti Sebuah Jawaban”, konser musik ini direspon oleh perusahaan rokok ClassMild dengan divisi kegiatan luar ruang AuthenticityFest.

Yogyakarta menjadi kota ketiga setelah Palembang dan Bandung yang dihampiri Konser Padi Reborn. Ini bukan pilihan yang salah. Bagi musisi Indonesia, Yogyakarta merupakan kota tolok ukur keberhasilan musik yang mereka mainkan karena di kota ini terdapat jutaan orang dengan usia target pasar industri musik dan barang dagangan lain. Tiket masuk gratis bisa diperoleh dengan menunjukkan kartu identitas yang berlaku.

Sobat Padi sudah tak sabar menunggu tanggal 25 November 2017 untuk menyaksikan penampilan Padi Reborn di Stadion Kridosono sebagaimana publikasi yang menyebar ke sudut-sudut kota. Inilah penampilan Padi setelah tujuh tahun lalu mereka tampil terakhir di lautan massa di sebuah acara di Alun-alun Utara atas prakarsa sebuah stasiun televisi swasta.

Terjadwal tampil pukul 21.30, Padi Reborn yang beranggotakan sama seperti ketika masih memakai nama Padi dengan Ari pada gitar, Fadly sebagai vokalis, Piyu pada gitar, Rindra pada bass dan Yoyo pada drum naik ke panggung pada pukul 21.50 setelah dihantar oleh pembawa acara Gundhissos. Membuka penampilan mereka dengan “Sang Penghibur” dari album Tak Hanya Diam (2008), penonton langsung menyambut histeris. Mereka rindu penampilan band ini.

Hentakan lagu berhasil memancing penonton turut bernyanyi dan memberi energi balik pada seluruh personil. Menjelang lagu kedua, Fadly memberikan sedikit kata “malam ini, langit Yogya begitu indah” Penonton yang tahu lagu yang akan dibawakan langsung menyambut dengan tepuk tangan. Melantunlah “Begitu Indah” dari album pertama, Lain Dunia (1999).  Dengan tempo yang lebih pelan, penonton ikut menikmati dan berpaduan suara massal. Energi yang diberikan penonton membuat Fadly begitu bersemangat dan tidak terlalu emosional seperti yang selama ini terjadi di panggung saat membawakan lagu ini bersama Musikimia.

Setelah Fadly memberi sedikit ucapan, lagu sentimentil “Mahadewi” menggema. Urutan yang sama persis dengan urutan di album pertama band yang memulai karir profesionalnya lewat album kompilasi Indie Ten dengan lagu “Sobat” di tahun 1998. Piyu yang memainkan gitar favoritnya, Kamikaze, mempertontonkan kepiawaiannya sambil sesekali mengangkat kepala gitarnya ke langit seolah berkomunikasi dengan semesta yang malam itu begitu cerah.

Beranjak ke lagu berikutnya “Perjalanan Ini” dan “Semua Tak Sama” dari album kedua, Sesuatu Yang Tertunda (2001) Padi Reborn kemudian kembali ke album pertama dengan lagu “Seperti Kekasihku”. Penonton tak henti ikut bernyanyi dan terus menyatukan sinergi para personil Padi Reborn di panggung. Demam panggung setelah lama tak berada di panggung bersama semakin terkikis dan berlanjut dengan solo gitar Ari mengantarkan lagu “Bayangkanlah” dari album kedua. Pada lagu ini, Yoyo sempat mempertontonkan kepiawaiannya menggebuk drumnya.

Tak hanya mengganti kostum yang sudah basah oleh keringat, Piyu juga mengganti gitarnya dengan gitar akustik Gibson Chet Atkins dan aksi panggung mereka berlanjut dengan lagu “Harmoni” dari album kelima. Lagu akustik yang bercerita tentang harapan untuk bersatu ini dibawakan oleh Piyu dibantu oleh Fadly. Suasana akustik berlanjut dengan lagu yang selalu ditunggu, “Kasih Tak Sampai” dari album kedua. Lagu yang mendapat sentuhan permainan harpa Maya Hassan di album memang merupakan masterpiece Padi. Fadly meminta penonton untuk menyalakan lampu di telepon pintar untuk membawa suasana pada romantisme. Sayang operator tata cahaya tak terlalu peka dan tak mematikan lampu panggung sehingga kurang mendukung suasana menjadi sentimentil.

Energi dari penonton sekali lagi memberi efek positif. Fadly yang beberapa kali membawakan lagu “Kasih Tak Sampai” setelah Padi vakum biasanya terbawa situasi emosional dan hampir tak bisa membawakan lagu ini dengan sempurna karena diselingi oleh suasana hati yang sedih seperti saat terlihat di konser yang disiarkan RCTI, malam itu tampil dengan baik dan bisa menggerakkan penonton larut dalam lautan koor massal.

Seusai lagu yang mendayu-dayu tersebut, Piyu memberikan sedikit kata-kata dan menghatarkan pada lagu berikutnya, “Menanti Sebuah Jawaban” dari album keempat yang merupakan album self-titled tahun 2005. Penonton masih terus ikut bernyanyi sampai lagu berikutnya, “Hitam” dari album ketiga Save My Soul (2003). Lagu yang disebut Fadly sebagai lagu dari album yang “tidak laris” tak membuat penonton tak hafal dengan lirik lagu ini. Mereka terus larut dalam kegembiraan malam itu.

Tanpa disadari penonton, lagu tersebut sebenarnya menjadi penutup. Pembawa acara yang memancing penonton meneriakkan permintaan lagu tambahan berhasil membuat personil Padi Reborn kembali ke panggung. Piyu yang sudah tak memiliki persediaan kostum panggung melepaskan pakaiannya dan bertelanjang dada. Piyu kembali memainkan Kamikaze-nya dan membuka lagu “Sesuatu Yang Indah” dari album kedua.

Malam semakin larut. Waktu menunjukkan pukul 23.10. Pertunjukkan Padi Reborn ditutup dengan lagu “Sobat” yang mengantarkan mereka menjadi salah satu super group di Indonesia. Hentakan irama dengan tempo cepat membuat semuanya yang ada di sana melompat-lompat dan sejenak melupakan usia yang semakin bertambah. Suasana di stadion Kridosono menjadi milik generasi 90-an. Meskipun tak sampai membludak, kehadiran mereka memberi kontribusi pada personil Padi Reborn untuk memberikan penampilan terbaik dan masa kejayaan Padi kembali hadir di Yogyakarta yang malam itu cerah, tak diguyur hujan.

Setelah turun dari panggung, Ari, Fadly, Piyu, Rindra dan Yoyo sejenak melepas penat di tenda di belakang panggung. Puluhan Sobat Padi menunggu di luar pagar pembatas agar bisa berfoto dengan idola mereka. Padi yang berfilosofi makin berisi makin tunduk tak mengabaikan mereka. Padi tetaplah Padi dengan segala kerendahan hati dan bersedia melayani permintaan berfoto para sobatnya hingga waktu menunjukkan tepat tengah malam, waktunya Cinderella dan kereta kuda pulang dari pesta atau kembali menjadi labu dan tikus.

Inilah masa “menanti sebuah jawaban” selama tujuh tahun. Padi telah terlahir kembali, Padi Reborn!

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

 

Tentang Padi Reborn, silahkan click di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s