Padi Terlahir Kembali

Di saat group-group lain menggunakan kata ‘reunion’ untuk menandakan kembalinya mereka ke dunia musik Indonesia, Padi yang beranggotakan Ari pada gitar, Fadly sebagai vokalis, Piyu pada gitar, Rindra pada bass dan Yoyo pada drum memilih frasa ‘reborn’ saat menancapkan batangnya agar dapat kembali hidup dan dipanen dari ladang musik di negeri tercinta.

Padi memang punya ciri yang berbeda. Di saat musisi menamai album mereka dengan salah satu judul lagu yang ada di album tersebut, Padi menamai albumnya dengan judul lagu yang akan dirilis di album berikutnya. Lagu “Lain Dunia” di album kedua dijadikan nama Album pertama (1999). Sesuatu Yang Tertunda sebagai album kedua (2001) adalah judul lagu di album ketiga, Save My Soul (2003) dan lagu “Save My Soul” sendiri ada di album keempat yang menjadi album self-titled (2005). Tak ada judul lagu “Padi” di album kelima, Tak Hanya Diam (2008). “Tak Hanya Diam” adalah lagu yang disiapkan untuk album berikutnya.

Padi yang menabukan album kompilasi terbaik alias Best Of akhirnya “Patah” oleh idealismenya. “Tak Hanya Diam” masuk di album kompilasi terbaik The Singles (2011) bersama dua lagu baru “Terbakar Cemburu” dan “Tempat Terakhir” karena mereka masuk masa vakum yang sebenarnya tak pernah diinginkan. Inilah dinamika sebuah band. Ada masa di atas, ada masa di bawah. Sebuah hukum alam yang jamak dialami group, bahkan yang mendapat julukan super group.

Uniknya lagi, lagu-lagu yang dijadikan judul album popularitasnya tidak setinggi lagu-lagu yang ada di album. Apakah penamaan album seperti ini memang strategi Padi agar tidak menjatuhkan (penjualan) album? Entahlah. Saya lupa tanya ketika bertemu mereka malam Minggu lalu.

Kembali ke paragraf pembuka tentang Padi terlahir kembali. Seorang penyanyi tahun 80-an pernah mengatakan pada saya ketika sebuah group ditinggal salah satu personilnya dan kemudian berjalan sendiri-sendiri namun perjalanan mereka ternyata tak sebaik ketika mereka berada di group sebelum ditinggalkannya itu artinya mangkok (kehidupan) mereka sebenarnya ada di group itu. Saya tak berhak menjustifikasi pendapat ini karena saya tak pernah ada di sana.

Sebagai seorang pendengar, pengagum dan pecinta group tertentu, saya hanya ingin mereka terus ada. Saya hanya merasakan kebersamaan di awal ketika masih ‘kéré’ kemudian terpisahkan oleh keadaan akan membawa mereka kembali saat mereka mengingat bagaimana awalnya mereka berjuang dan merasakan kekosongan tanpa personil di masa awal mereka meraih kebebasan (finansial). Kalau kata Ahmad Dhani: “cintakan membawamu kembali di sini

Setelah vakum di tahun 2010 dengan pentas terakhir yang saya tahu di Yogyakarta di acara panggung musik yang digelar stasiun televisi, Padi mengalami apa yang terjadi pada band-band lain. Mereka vakum dengan meninggalkan kewajiban kontrak yang masih tersisa pada perusahaan rekaman sehingga dirilislah album The Singles yang dulunya mungkin tak hadir di benak mereka.

Di 28 April 2013, mereka sempat bereuni kecil di Yogyakarta atas prakarsa Sobat Padi pada tajuk Jambore Sobat Padi kedua yang cerita detilnya bisa dibaca di sini. Setelah itu sebenarnya mulai ada pembicaraan untuk berjalan lagi tapi selalu ada hambatan yang terjadi. Antara bisa dan tidak bisa dan mau dan tidak mau. Usaha bersatunya Padi bagi pecintanya seolah hanya wacana. Di awal 2016, seseorang yang pernah menjadi inner circle Padi mengatakan pada saya bahwa mereka serius dan tinggal menunggu waktu. Sebuah kabar gembira yang saya konsumsi sendiri. Saya tak punya keberanian menyebarkan ini. Lagipula saya menulis tak seperti kaum infotainment yang suka main “katanya” atau “gosipnya” dan segala hal yang berbau mengambang.

Kehidupan adalah roda yang berputar. Setahun dua tahun belakangan ini, kejayaan masa 90-an kembali terangkat. Banyak group yang lahir dan besar di masa itu kembali ke panggung hiburan. Lihat saja betapa banyak panggung musik yang membawa sentimen nostalgia sepuluh sampai duapuluh tahun yang lalu. Seperti tumbu ketemu tutup sebuah ungkapan bahasa Jawa yang berarti bertemu dan cocok bisa klop untuk menggambarkan kembalinya Padi ke kancah musik Indonesia.

Adanya tangan yang dikirim Tuhan dan situasi yang memang dikehendaki membuat comeback Padi seperti datang tepat pada waktunya. Dengan perundingan penuh kedewasaan, terbentuknya sebuah tim baru, segala rancangan yang ditata rapi serta timing yang pas, Padi terlahir kembali…. Padi Reborn! Dimulai dengan pemutaran sinetron “Menanti Sebuah Jawaban” di stasiun televisi SCTV tepat pada Hari Sumpah Pemuda dilanjutkan Mega Konser Padi Reborn di RCTI pada Hari Pahlawan Padi kini sudah di depan mata pendengar musik Indonesia.

Konser Padi Reborn ini langsung direspon oleh perusahaan rokok ClassMild dengan divisi kegiatan luar ruang AuthenticityFest membawa mereka ke kota Palembang, Bandung, Yogyakarta dan Makassar. Mari kita sambut Padi Reborn yang tak berubah dalam sikap rendah hati, mau melayani permintaan Sobat Padi dan semua orang yang ingin berfoto bersama termasuk para petugas keamanan saat menunggu mereka selesai manggung di Stadion Kridosono, Yogyakarta, 25 November 2017.

“Semua ini rancangan Gusti Allah,” kata Rindra kepada saya. Dia mempercayai memang Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya dan inilah jawaban bagi pendengar musik Indonesia dan Sobat Padi pada khususnya yang sudah lama Menanti Sebuah Jawaban.

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

One thought on “Padi Terlahir Kembali

  1. Pingback: Padi Reborn: Kejayaan Yang Terlahir Kembali | singolion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s