Konser Sepenuh Cinta 2017 – Gita, Cita dan Cinta & Yogyakarta (bagian Kedua)

Waktu menunjukkan pukul 21.45. Bintang utama Konser Sepenuh Cinta (KSC) 2017 telah berada di panggung dan membuka penampilan mereka dengan mengajak penonton bekerja dengan cinta. KLa Project membawakan “Hey” dengan intro cuplikan puisi dari penyair besar Khalil Gibran dari bukunya Sang Nabi:

Kerja adalah cinta, yang ngejawantah
Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cara
Hanya dengan enggan
Maka lebih baik jika kau meninggalkannya
Lalu mengambil tempat di depan gapura candi
Meminta sedekah dari mereka
Yang bekerja dengan suka cita

Lagu berusia seperempat abad dari album Pasir Putih langsung menggebrak ruang pertunjukan dan menghadirkan tepuk tangan membahana dari penonton khususnya KLanese yang selalu merindukan penampilan group yang namanya besar karena judul lagu yang sama dengan nama kota ini, Yogyakarta.

Lima menit berlalu, Katon sebagai lead vocal melanjutkan dengan “Gerimis” dari album KLaKUSTIK #1 (1996). Lagu ini seolah bersenyawa dengan cuaca di luar gedung dan mengiringi gerimis yang terjadi. Masih dari album yang sama dengan lagu pembuka, mengalunlah “Tak Bisa Ke Lain Hati” yang dinyanyikan bersama dengan para penonton. Lagu yang berdurasi lima menit lebih empat belas detik di album, malam itu menjadi lebih panjang dua menit tanpa kehilangan romantisme.

Setelah tiga lagu dibawakan, Katon menyapa para penonton, seolah menjadi seorang guru di ruang kelas, dia mengabsen dari mana saja penonton yang hadir di tempat pertunjukan malam itu. Seusai kata pengantar yang disampaikan, Jordy sang peniup terompet melangkah ke tengah panggung menuruni tangga dan mencari tempat nyaman memainkan terompetnya. Jordy memainkan “Indonesia Pusaka” ciptaan Ismail Marzuki dengan khidmat selama tiga menit sebagai pembuka “Terpuruk Ku Di Sini”.

Katon yang sarat pengalaman manggung mengajak penonton berdiri. Bak seorang dirigen, Katon bisa membawa penonton untuk menyanyikan lagu dari album Ungu (1994). Album pertama tanpa Ari Burhani sang drummer. Lagu dengan tema cinta bertepuk sebelah tangan ini dilanjutkan dengan lagu yang bercerita tentang hubungan yang tak disetujui, “Waktu Tersisa” dari album pertama KLa Project (1989). Lagu yang berusia hampir tiga dasawarsa menciptakan koor masal di gedung pertunjukan.

Usai “Waktu Tersisa”, Katon memainkan gitarnya dan muncullah “Lagu Baru” dari album Kedua (1990) yang membawa group ini memiliki ikatan batin yang kuat dengan kota Yogyakarta. Lagu Baru dengan beat cepat ini sangat fleksibel diimprovisasi. Pernah dimainkan dengan improvisasi ska atau dangdut dan malam itu dimainkan dengan dukungan brass section dan terasa sangat segar. Dengan durasi dua kali lipat dari yang ada di album, lagu ini terus menghidupkan suasana penonton mengikuti alur yang dibangun oleh KLa Project.

Enam lagu sudah dibawakan. Katon menyerahkan panggung pada Lilo sang gitaris yang kemudian memberikan ungkapan tentang KSC dan melanjutkan pertunjukan malam itu dengan “Romansa”. Lagu yang di album V (1995) dibawakan oleh Katon, malam itu dinyanyikan oleh Lilo yang memiliki lengkingan suara yang khas. Setelah usai membawakan “Romansa”, Lilo memberikan panggung pada Adi Adrian sang pemain kibor. Penyerahan panggung pada Adi untuk mengeksplorasi kepiawaiannya bermain kibor adalah tanda bahwa lagu selanjutnya adalah “Semoga”.

Tiga menit Adi memainkan kibor Roland RD-700NX menunjukkan kepiawaiannya dan Katon memasuki panggung kembali menyuarakan lagu “Semoga” dari album yang sudah berusia 27 tahun. Delapan menit lagu ini dimainkan di panggung menghadirkan kesyaduhan lagu cinta yang dipersembahkan oleh group yang memulai karirnya di tahun 1988.

Perjalanan melompat ke tahun 1995 dengan lagu “Terkenang”. Katon yang menguasai panggung mengajak penonton mendekati panggung. Tak ayal mereka langsung merangsek meninggalkan tempat duduk. Berdiri di tepi panggung dengan telepon pintar mengabadikan momentum yang ditunggu. Panggung menjadi ramai. Petugas keamanan tak lagi bisa membendung ratusan penonton yang berada di bibir panggung. Posisi penonton yang masih berada di bibir panggung terus bertahan saat Katon membawakan lagu kesepuluh malam itu, “Menjemput Impian” dari album kompilasi The Best Of (2001). Lagu sentimentil ini dijadikan soundtrack sinetron dengan judul yang sama.

Masih dengan keriuhan yang terjadi, pertunjukan yang juga disaksikan oleh Novia Kolopaking ini berlanjut ke lagu yang merupakan masterpiece dan membuat band ini identik dengan kota ini, Yogyakarta. Lagu berusia 27 tahun ini menjadi karya tanpa batas usia. Banyak orang menyanyikannya saat mereka rindu, sedang dalam perjalanan atau tengah berada di kota ini. Fenomenalnya lagu ini membuat produsen merilis dua versi album dalam bentuk kaset. Yang pertama “Lagu Baru” di urutan pertama dan “Yogyakarta” di urutan kedua sedangkan versi kedua urutan tersebut bertukar posisi.

Penonton yang masih terlihat bersemangat dan tak terlihat lelah kemudian menikmati “Tentang Kita”. Inilah lagu yang menghantar group ini ke jajaran dunia industri musik Indonesia. Lagu yang masuk di album kompilasi 10 Bintang Nusantara pada tahun 1988 ini sama fenomenalnya dengan lagu Yogyakarta. Berada di urutan kedua pada versi pertama, beberapa bulan kemudian diproduksi ulang dan berada di urutan pertama menggeser lagu yang sebelumnya di urutan pertama. Lagu ini kemudian dimasukkan ke album pertama KLa Project.

Dimainkan dengan durasi dua kali lipat dari lagu yang ada di album, lagu ini sedianya menjadi penutup perhelatan itu. Namun penonton meneriakkan permintaan encore. KLa Project yang sangat memahami apresiasi penonton naik lagi ke panggung. Lilo menyanyikan lagu yang identik dengan dirinya, “Meski Tlah Jauh” dari album V dan kemudian bersama Katon membawakan “Anak Dara” dari album pertama. Sebuah lagu yang tak sering dibawakan di panggung.

Setengah jam menjelang tengah malam KLa Project mengakhiri pertunjukan mereka di Konser Sepenuh Cinta 2017.

Menyaksikan KLa Project memang tak pernah membosankan. Di setiap panggung, mereka memainkan lagu-lagu dengan aransemen berbeda. Di pagelaran KSC mereka hadir dengan brass section yang membuat musik mereka ramai dan segar. Pengalaman di panggung selama hampir tiga dasawarsa menjadikan penampilan mereka matang dan rapi. Selain anggota band, pemain musik yang mendukung mereka tak berubah.

Harry Goro pada drum, Hendry pada bass, Nina KD sebagai penyanyi latar dan Arie Kurniawan pemain saksofon merupakan pendukung KLa Project selama bertahun-tahun. Di konser KSC, ada juga Bening Septaria yang menemani Nina sebagai penyanyi latar dan Jordy peniup terompet serta Jodie peniup trombone melengkapi barisan brass section yang sudah dua tahun belakangan digunakan KLa Project untuk menambah keramaian dan keasikan menikmati musik mereka dimana durasi setiap lagu hampir dua kali lipat dari lagu yang ada di album.

KSC 2017 memang istimewa. Ketiga pengisi acara yang ditampilkan membawakan lagu dengan unsur judul “Yogyakarta”. Hal yang belum tentu bisa berulang. Hal yang bisa jadi hanya terjadi kali ini saja. KSC juga penuh dengan cinta. Cinta pada budaya, cinta pada negara dan cinta pada sesama. Sampai jumpa di KSC 2018 ……

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s