Yon Koeswoyo: Kesederhanaan Seorang Legenda

Pagi 5 Januari 2018. Belum sempat tubuh sadar sepenuhnya dari istirahat malam, telepon berdering. Seorang teman mengabarkan kepergian seorang Legenda Musik Indonesia, Yon Koeswoyo. Antara sedih, terkejut dan tidak siap menerima berita ini, tangan tergerak membuka sosial media. Banyak ucapan duka atas meninggalnya Sang Legenda. Ada juga yang menyebutnya Maestro. Ingatan saya langsung tertuju pada pertemuan dengan beliau pada 16 April 2017.

Hari itu seluruh anggota Koes Bers (Nomo, Yon dan Yok Koeswoyo) datang ke Yogyakarta untuk sebuah pertunjukan. Akses yang saya dapatkan dari penyelenggara membuat saya bisa berada di dekat mereka. Saat itu, mas Yon bertanya pada saya: “Kamu yang dulu pernah minta tanda tangan di banyak kaset Koes Plus/Koes Bers ya?”. Saya mengiyakan. Saya merasa tersanjung seorang musisi besar, mas Yon Koeswoyo masih mengingat peristiwa yang terjadi pada 10 Juni 2011 saat pertama kali saya bertemu mereka.

Pertemuan pertama berlanjut ke pertemuan kedua pada tanggal 7 Maret 2015. Di pertemuan kedua, seusai manggung, saya beruntung bisa bersama mas Yon menghabiskan malam dengan menyantap hidangan bakmie Jowo di sebuah warung sederhana tak jauh dari hotel tempat pertunjukan. Warung sederhana di pinggir jalan yang sangat dinikmati oleh mas Yon tak mengesankan beliau adalah seorang yang besar dan tenar. Saat itu, saya memujinya yang masih nampak segar di usia 75 tahun. Beliau dengan semangat menceritakan masih rutin berolah raga. Di usianya itu, suaranya masih prima, tak berubah banyak.

Mas Yon selalu bersemangat diajak berbicara tentang musik Indonesia, negara dan apa saja. Beliau juga sangat antusias membagikan pengalaman hidupnya. Sesekali beberapa petuah muncul dari mulutnya. Petuah tentang hidup yang menggariskan kebijaksanaan yang dibagikannya. Ingatannya kuat. Ketika saya menceritakan pengalaman menonton Koes Plus di Banyuwangi di akhir tahun 1970-an, beliau masih ingat nama tempat pertunjukan tersebut.

Tentang musik Indonesia, beliau bercerita bagaimana Koes Bers/Koes Plus mengeksplorasi kekayaan Indonesia menjadi lagu seperti “Nusantara”, “Kolam Susu” dan lain-lain. Kecintaan pada negara dan rasa nasionalismenya tinggi. Beliau juga menyayangkan menurunnya persatuan bangsa akhir-akhir ini dengan menyempitnya fanatisme agama yang terjadi belakangan ini. Bukan bermaksud membandingkan dengan jaman ketika beliau masih aktif berkarya di beberapa puluh tahun silam, tapi memang kualitas persatuan yang menurun sangatlah menyedihkan beliau.

Koes Bers/Koes Plus yang berjaya dengan jumlah album mendekati angka seratus hidup di jaman yang salah. Aturan royalti yang saat itu belum berlaku membuat mereka tak bisa merasakan kenikmatan finansial. Album-album Koes Bers/Koes Plus yang diterbitkan ulang dalam bentuk cakram tak memberi kontribusi finansial sepeser pun pada mereka. Namun, mas Yon tak menyesali hal itu. Masih dikenal dan dihargai banyak orang merupakan kebahagiaan buatnya. Ia dengan sabar melayani permintaan berfoto penggemarnya yang tak jarang meminta berfoto sampai berkali-kali.

Kesabarannya menghadapai penggemar yang kadang tak tahu diri – menurut saya – adalah rasa syukur dan kebahagiaannya dalam hidup. Aksi panggungnya yang masih enerjik meskipun usianya tak lagi muda adalah cerminan pengabdiannya pada dunia musik. Musik adalah panggung hidupnya. Penonton dan penggemar adalah penyemangat hidupnya.

Mas Yon bersama saudara-saudaranya mengabdikan dirinya pada dunia musik khususnya musik Indonesia. Musik yang dimainkannya mengubah peta industri musik Indonesia. Koes Plus/Koes Bers tak hanya berkarya menghasilkan album pop Indonesia tapi juga album rohani (Natal), religi (gambus), melayu dan Jawa. Perbedaan keyakinan di tengah keluarga memicu kreativitas berkarya. Bisa jadi inilah yang menjadikan beliau prihatin melihat kondisi persatuan bangsa yang menurun. Ketika masih produktif, perbedaan keyakinan menjadi kekayaan tapi sekarang ketika jaman dikatakan lebih maju, yang terjadi justru tak seperti dahulu.

Meskipun berjaya di jamannya, beliau tidak hidup bergelimang harta. Sikapnya tetap sederhana. Dari referensi yang saya baca, mas Yon juga pernah mengalami kesulitan finansial yang seharusnya tak terjadi pada seorang musisi besar yang bayaran manggungnya pada saat itu sangatlah fantastis. Keadaan ini sebenarnya sungguh miris. Tapi, sekali lagi, beliau memilih berkarya dan terus manggung.

Dedikasi yang dilakukan mas Yon bersama Koes Bers/Koes Plus telah membuka pintu lebar bagi musisi setelahnya. Mas Yon bersama saudara-saudaranya adalah seniman sejati yang menjadi panutan dan inspirasi besar bagi banyak musisi Indonesia. Eross Sheila on 7 di awal masa karirnya pernah mengatakan ia ingin bisa menciptakan lagu seperti Koes Bers/Koes Plus yang karyanya sederhana namun terus diingat banyak orang.

Dari tiga pertemuan dengan mas Yon Koeswoyo, saya hanya berkesempatan berfoto berdua pada pertemuan pertama. Pada pertemuan tahun 2017, seusai manggung, beliau langsung menuju kamar beristirahat setelah di tahun 2016 beliau sempat sakit dan harus beberapa hari berada di rumah sakit. Kondisinya memang tak seprima sebelum sakit di tahun 2016. Pertemuan di tahun 2017 adalah pertemuan terakhir dengan beliau.

Sangat banyak lagu yang telah kau nyanyikan semasa hidupmu. Saya ingin mengutip lagu “Andaikan Kau Datang” yang khusus diciptakan oleh mas Tonny buat mas Yon yang cinta sejatinya pada seorang gadis kandas di tengah jalan:

Terlalu indah di lupakan
Terlalu sedih di kenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau ku tinggalkan

dan juga “Why Do You Love Me” yang diciptakan mas Yok:

The time has come
That we must be apart
The memory is still in
My mind
But you have gone
And you leave me alone

Mas Yon, lewat lagu “Andaikan Kau Datang” seolah engkau berbicara pada kami bahwa engkau telah meninggalkan kami di dunia fana dan lewat “Why Do You Love Me” kami mempertanyakan mengapa engkau meninggalkan kami.

Kematian adalah rencana Tuhan. Selamat jalan menuju ke keabadian, mas Yon. Teruslah bernyanyi sambil bermain gitar di alam sana. Banyak orang yang kau tinggalkan menangisi kepergianmu. Ada rencana kreatif beberapa musisi bersamamu yang belum tersampaikan. Mereka semua berterima kasih pada karya dan pengabdianmu untuk musik Indonesia. Sampai berjumpa lagi di waktu yang kami tak tahu. Mungkin esok atau di lain hari ….. seperti lagu ciptaan mas Tonny yang sering dinyanyikan orang pada akhir sebuah pertemuan.

Kapan kapan kita berjumpa lagi
Kapan kapan kita bersama lagi
Mungkin lusa atau di lain hari
Kapan kapan kita pergi bersama
Kapan kapan kita bersenda gurau
Mungkin lusa atau di lain hari

 

Tj Singo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s