Selamat Jalan Kekasih …..Yockie Suryoprayogo

Pagi ini, hujan gerimis intensif di Yogyakarta. Setelah sampai di sekolah anak saya, saya berteduh sebentar di sebuah warung kecil sambil membaca diskusi di group telepon pintar. Seorang teman mengirim tautan berita tentang meninggalnya Yockie Suryoprayogo. Saya terhenyak. Antara tidak rela tapi harus percaya.

Yockie Suryoprayogo. Saya mengenal namanya dari karya-karya yang dia buat untuk Chrisye di album-album awal karier Sang Legenda, Sabda Alam (1978), Percik Pesona (1979), Puspa Indah Taman Hati (1979), Pantulan Cita (1981), Resesi (1983), Nona (1984) dan Metropolitan (1984). Tentu saja, album OST Badai Pasti Berlalu (1977) yang menjadi salah satu cetak biru industri musik Indonesia juga masuk di daftar kreatif mas Yockie.

Secara personal, saya mengenalnya ketika terhubung lewat sosial media Multiply yang sudah almarhum. Lewat interaksi di sosial media tersebut saya lebih mengenalnya. Ketika sosial media tersebut mengubah platformnya menjadi media bisnis, interaksi kami berlanjut lewat Facebook dan kemudian Twitter. Pertemuan pertama dengan mas Yockie terjadi pada 10 Agustus 2008. Waktu itu beliau datang ke Yogyakarta untuk sebuah acara. Saya lupa acara apa tepatnya. Kami bertemu di penginapan Wisma MM UGM.

Kesempatan ini tak saya lewatkan untuk meminta tanda tangan di semua album yang berisi karyanya. Malam itu, kami lewatkan dengan banyak perbincangan tentang apa saja. Tentang musik, tentang kehidupan, tentang hubungan pribadi maupun kreatif dengan Chrisye. Mas Yockie bicara tanpa basa-basi. Dia bercerita apa saja. Dari yang serius, sedih dan juga peristiwa-peristiwa lucu yang nyerempet agak rasis. Hahaha…. Itu semua dia ceritakan tanpa ada maksud bersifat rasis. Dia berbicara apa adanya.

Perbincangan di hotel kami lanjutkan dengan lesehan makan gudeg di sebuah warung tak jauh dari penginapan. Kami berjalan kaki. Di warung gudeg tersebut ada pengamen. Saat sang pengamen mendapati mas Yockie, dia menghampiri dan bertanya tentang group God Bless. Dan sang pengamen pun menyanyikan salah satu lagu karya mas Yockie.

Di tahun 2010, saya menyempatkan diri ke Solo untuk melihat latihan Drama Musikal Diana dimana mas Yockie menangangi musik untuk pagelaran tersebut. Komunikasi selanjutnya terjadi di sosial media dan telepon pintar. Atas cerita-cerita pada pertemuan pertama, kami saling berkomentar dengan cara kami sendiri yang mungkin tak ada orang yang mengetahui maksudnya. Just the two of us.

Di tahun 2013, Mas Yockie datang kembali ke Yogyakarta atas undangan Kampayo untuk berbagi pengalaman di depan pengunjung tempat makan tersebut. Kali ini, beliau berbicara banyak tentang keprihatinannya pada musik Indonesia yang tidak Indonesia. Dari sinilah saya tahu bagaimana konsep bermusik beliau. Meskipun musik yang dimainkan berasal dari benua barat, tapi bagi beliau unsur kebudayaan lokal haruslah ada. Itulah yang mendasari cara berpikir beliau ketika menggarap Badai Pasti Berlalu. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Di pertemuan yang juga dihadiri oleh Hesty Brizha, salah satu penyanyi orbitan mas Yockie, saya menyiapkan sebuah CD buatan sendiri yang berasal dari album Festival 10 Lagu Terbaik Hasil Lomba Cipta Senandung Yogyakarta 1982/1983. Di festival tersebut, mas Yockie menjadi juri dan beliau sendiri tak memiliki album tersebut. Setelah sesi berbagi pengalaman, mas Yockie memainkan kibor yang ada di panggung. Mas Yockie memainkan salah satu lagu yang ada di album Badai Pasti Berlalu. Permainnannya menghentakkan saya. Musiknya jadi hidup dan membuat saya merinding. Padahal, sebelum beliau memainkan kibor tersebut, band yang memainkan lagu dengan kibor yang sama terasa biasa-biasa saja. Mas Yockie memberi nyawa pada kibor tersebut.

Mas Yockie memang serius jika berbicara tentang Indonesia dan segala unsur budaya Indonesia. Dia tak hanya piawai menulis lagu tapi juga rajin menulis apa yang menjadi unek-uneknya. Secara rutin, dia terus menulis di blog pribadinya, http://www.jsop.net. Dari tulisannya, saya pernah membaca bagaimana beliau meluruskan penggunaan kata “diva” yang sekarang secara gampang disematkan pada penyanyi. Banyak buah pikirnya yang dianggap ekstrim dan tidak lazim karena terlalu mengkritisi zona nyaman banyak orang namun bagi saya apa yang diungkapkannya adalah sebuah kebenaran sederhana dalam bungkus bahasa filosofis.

Mas Yockie memang orang yang lurus. Banyak orang menafsirkan cara bicaranya yang ceplas ceplos dari satu sisi saja. Saya melihatnya beliau ingin menempatkan hal yang kurang benar agar menjadi benar. Di akun sosial medianya, dia bicara tanpa tedeng aleng-aleng. Apa yang tidak suka, dia tidak basa-basi mengungkapkannya. Tak sedikit yang mengkritik keterusterangannya. Tapi, mas Yockie tak peduli. Beliau bukan tipe figur publik yang jaim sehingga banyak juga yang tak berkenan padanya dan berpendapat mas Yockie adalah orang yang garang.

Di balik “kegarangannya”, beliau adalah sosok yang baik. Bagi seorang Hesty Brizha, penyanyi yang diorbitkannya, Yockie adalah orang baik, lembut dan berkarakter. Hesty pantas merasa sedih atas kepulangan mas Yockie. “Mas Yockie adalah orang yang membawa, mengenalkan, dan melindungi saya sampai bisa rekaman di Jakarta Dia pula yang mengubah pola pikir saya.” Begitu kata Hesty mengenang mas Yockie.

Di tahun 2012 ketika terselenggara Konser Kidung Abadi Chrisye, lewat sosial media dan media yang lain, beliau tidak mengijinkan karya-karyanya dibawakan di konser tersebut. Penyelenggara tidak meminta ijin pada beliau padahal ini terkait dengan hak cipta. Akhirnya beliau mengajukan gugatan. Saya meyakini aksi hukum yang dilakukan beliau buat saya adalah sebuah edukasi untuk bangsa ini.

Secara pribadi, saya melihat apa yang dilakukan mas Yockie tidak salah. Dia memiliki hak penuh atas karyanya. Banyak cerita yang kemudian beredar dan cenderung mendiskreditkan mas Yockie. Yang menggembirakan, kasus ini akhirnya selesai secara kekeluargaan atas prakarsa Kadri Mohammad, seorang singing lawyer yang beberapa tahun belakangan aktif memberi semangat pada mas Yockie dengan membuat acara yang melibatkan mas Yockie.

Kebahagiaan tertinggi saya adalah ketika Yogyakarta menjadi salah satu kota yang dihampiri Konser BPB Plus di November 2016. Saya bisa bertemu lagi dengan beliau dan bercanda serta menyaksikan karya-karyanya dipanggungkan. Dan apa yang dipertontokan bisa saya dokumentasikan lewat tulisan yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi 140 – Desember 2016.

Ada perbedaan dengan pertemuan tahun 2016 dengan sebelumnya. Kondisi fisik mas Yockie tidaklah sesegar sebelumnya. Beliau memang sempat sakit beberapa saat sebelumnya. Sakit yang membuat beliau harus beristirahat. Asupan makanan pun sudah tak lagi sesembarangan tahun-tahun sebelumnya. Tapi, semangatnya masih sama. Cara berguraunya pun juga masih sama. Sama gilanya!

Setelah Konser BPB Plus, Kadri Mohammad bersama tim, termasuk teman saya Gideon Momongan, masih melakukan aksi-aksi kreatif yang memberikan semangat pada mas Yockie. Konser Menjilat Matahari di tahun 2017 bisa menjadi contoh. Saya bahkan sempat usul pada mas Yockie untuk membawa konser ini ke Yogya dan beliau menanggapi secara positif. Namun, kenyataan berkata lain. Setelah konser tersebut, Mas Yockie sakit kritis dan harus dirawat di rumah sakit.

Atas sakit kritisnya itu, saya masih berharap beliau sembuh dan kembali beraktivitas. Saya tak lagi menuliskan komentar di halaman Facebook nya. Saya memilih bertanya pada Kadri atau Dion. Ada rasa sedih atas jawaban mereka meskipun ada perkembangan baik berikutnya. Dan, rasa sedih itu terjawab pada pagi ini saat berita kepergiannya telah beredar di internet, sebuah media yang menurut mas Yockie harus disikapi dengan bijaksana. Kepergianmu adalah “Duka Sang Bahaduri”

Owe sedih mas Yockie. Elu sudah pulang ke alam sana. Kita nggak bisa lagi belcanda di sosial media. Tak ada lagi candaan Non Teqi. Owe dengelin lagu Selamat Jalan Kekasih versi Yockie Suryo Prayogo dari album Selamat Jalan Kekasih (1983) sambil membuat tulisan ini. Owe sama sedihnya dengan ketika Chrisye juga berpulang dan owe juga memutar lagu ciptaanmu yang dinyanyikan Chrisye di album Metropolitan (1984).  Lagu yang sama juga owe putar saat acara perpisahan dengan teman-teman kuliah di tahun 1989.

Bernyanyilah engkau di alam sana bersama Chrisye yang pernah menjadi sahabat dalam hidup dan sahabat kreatif. Pasti sudah bebas di sana boleh bersama Non Teqi. Kuiringi kepergianmu dengan lagu ciptaanmu yang menjadi salah satu lagu favorit saya.

Resah rintik hujan
Yang tak henti menemani
Sunyinya malam ini
Sejak dirimu jauh dari pelukan

Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Demi masa depan dan segala kemungkinan

Jangan kau risaukan
Air mata yang jatuh membasahiku
Harusnya kau mengerti
Sungguh besar artimu bagi hidupku

Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Satu hari nanti kita kan bersama lagi
Bersama lagi, kita berdua

Resah rintik hujan
Yang tak henti menemani
Sunyinya malam ini
Sejak dirimu jauh dari pelukan

Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Demi masa depan dan segala kemungkinan

Tiada yang harus kau ragukan
Segalaku untukmu
Walau kini kita berpisah
Suatu hari nanti kita kan bersama lagi…
Bersama lagi,
Kita berdua

 

Tj Singo
05-02-2018

 

One thought on “Selamat Jalan Kekasih …..Yockie Suryoprayogo

  1. Pingback: Dian Pramana Putra – Kau Seputih Melati | singolion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s