NonaRia – Menikmati Indonesia Masa Lalu

Di Ngayogjazz 2017 yang diadakan di Dusun Kledokan, Selomartani, Kalasan, Sleman pada 18 November ada group baru yang pertama kali tampil di sana. Namanya NonaRia. Mereka membawakan lagu-lagu Indonesia 70-an dan lagu-lagu rakyat dengan kemasan gaya jadoel berbalut sound kekinian. Bermain musik dengan santai, segar, menghibur, jenaka serta kocak dipertontonkan membuat penonton takluk dan meminta tambahan lagu, sebuah hal yang “menyita waktu” karena dalam sebuah festival semacam Ngayogjazz manajemen waktu sangatlah tertata rapi karena banyaknya penampil. Veni, Vidi, Vici. NonaRia datang, melihat dan menaklukkan (penonton).

Apa yang mereka pertontonkan di panggung Ngayogjazz kini dikuatkan dengan karya album pertama mereka berjudul sama dengan nama trio yang beranggotakan Nesia Ardi, Nanin Wardhani dan Yashinta Pattiasina. Album berisi delapan lagu ini menjadi identitas yang mereka pilih untuk bermain musik bergaya jazz swing dan ragtime. Gesekan biola Yashinta, permainan akordeon Nanin dan snare plus vokal Nesia sangatlah menguatkan karakter “kuno” itu.

“Kejadoelan” mereka tak hanya pada musik yang mereka mainkan. Delapan lirik lagu yang mereka ciptakan kecuali “Sebusur Pelangi”, yang diciptakan Eppi S Rachman, juga mengingatkan pada lagu-lagu Indonesia lama yang kaya akan rima, sebuah gaya penulisan lirik lagu yang belakangan ini tak begitu mendapat perhatian karena alasan kemajuan jaman. Padahal, rima jelas menambah keindahan sebuah lagu dan mempermudah pendengar mengingat lirik lagu.

Kekuatan NonaRia pada rima juga dibalut dengan kata-kata sederhana kosakata Indonesia. Rima juga adalah sebuah ciri karya sastra. Musik lama, lirik lagu kaya rima dan kosakata sederhana. Semua mengingatkan pada musik Indonesia yang berjaya beberapa dasawarsa yang lalu dimana musik masih menjadi kemewahan yang hanya diputar lewat piringan hitam dan didengarkan dari kotak bersuara bernama radio sambil menikmati secangkir teh atau kopi di pagi, sore dan senja hari.

Mari dengarkan “Salam NonaRia”, “Senandung”, “Hari Bahagia”, “Sayur Labu”, “Sebusur Pelangi” (menampilkan Junior Soemantri), “Maling Jemuran”, “Santai” dan “Antri Yuk” sambil membayangkan Indonesia masa lalu dimana budaya antri masih tertib, salam terucap ketika bertemu orang, rindu yang terungkap ketika bertemu pujaan, sambil menunggu nasi tanak untuk menikmati masakan asli negara ini saat sebusur pelangi muncul setelah hujan reda sembari mengawasi pakaian yang dijemur di halaman. Mari dengarkan lagu-lagu mereka dengan santai.

NonaRia memang nona yang riya. Mereka memamerkan karya sederhana berciri sastra penuh rima indah dan jenaka. Di panggung atau di karya yang bisa direkayasa dalam bentuk cakram, mereka sama saja. Sama-sama membuat bahagia pendengarnya. Lewat album ini, NonaRia mengajak kita kembali menikmati Indonesia masa lalu dengan budaya yang masih ramah dan sederhana.

Tj Singo

One thought on “NonaRia – Menikmati Indonesia Masa Lalu

  1. Gaya musik mereka yang unik dan lirik lagu mereka yang sederhana tanpa pretensi dan penampilan mereka yang ceria…benar-benar mereka grup musik yang menawarkan alternatif pilihan bagi khalayak penggemar musik Indonesia dan selalu menyajikan keceriaan dalam penampilannya.

    Saya pribadi suka banget dg mereka. Benar angin segar bagi musik Indonesia.

    Salam dari Sukabumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s