Andika Putrasahadewa – Pergi Dengan Indah

Hari ini, sebagaimana hari-hari lainnya, saya membuka hari dengan optimisme dan penuh semangat sampai menjelang tengah hari ketika salah satu anggota grup diskusi telepon pintar Mahapatih menyampaikan kabar duka yang menyesakkan. Tak percaya tapi nyata. Andika Putrasahadewa, bassist Kerispatih telah berpulang. Lemas seketika. Optimisme dan semangat berubah menjadi lunglai. Seorang idola yang berubah menjadi menjadi teman begitu cepat berpulang.

Semuanya begitu cepat berlalu. Baru seminggu lalu bertemu Anton sang drummer dan kepo menanyakan kapan Dika akan menikah setelah beberapa kali saya mendukungnya untuk segera merealisasikan keseriusan hubungannya di dinding komentar akun sosial medianya dan Anton menjawab dengan diplomatis: “tak semudah membalik telapak tangan, pak” dan kemudian kami pun tertawa terkekeh-kekeh. Pertemuan dengan Anton diakhiri dengan berfoto lalu saya unggah ke media sosial Instagram saya.

Dika berkomentar: “Cocok pak…langsung nikahin aja ♥♥♥♥
Dan saya membalasnya: “tidak semudah membalik telapak tangan, jack!
Anton pun berkomentar atas interaksi ini: “haha…

Bagi saya, anggota Kerispatih tak hanya idola tapi kami sudah biasa bercanda sebagaimana teman biasa.

Anton yang mengabarkan bahwa Dika sudah sehat setelah beberapa saat lalu sempat menjalani operasi menjadi kabar gembira bagi saya. Dia sudah gemuk lagi, begitu keterangan Anton yang disusul posting Dika di akun Facebook-nya tanggal 6 April dengan tulisan: “AKU GEMUK LAGIIII TAK TUNTUANG TAK TUNTUANG!”

Pernyataan Anton ditambah posting Dika menyiratkan optimisme akan berlanjutnya Kerispatih yang tanggal 22 April ini akan memperingati hari jadinya ke-15.

Tuhan berkehendak lain. Perjalanan hidup Andika berhenti hari ini. Kabar membaiknya kondisi kesehatan Dika menimbulkan pertanyaan buat saya apa penyebab kepergiannya. Saya menghubungi kekasihnya. Satu hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Kami hanya saling tau saja, belum kenal secara pribadi. Tapi saya memberanikan diri meneleponnya.

Di ujung telepon, terdengar jawaban lirih dengan isak tangis. Sambil menyebutkan nama saya, saya langsung mencoba menguatkan Nicky atas peristiwa ini. Sambil mengucapkan terima kasih, dia menangis. Sambil sesekali tersedu-sedu, Nicky bercerita kejadian terhadap Dika beberapa hari lalu ketika dia tiba-tiba terjatuh dengan analisa stroke ringan tapi observasi di rumah sakit menyatakan tidak terjadi masalah berarti. Saya tak tega berkomunikasi lebih lanjut karena saya sendiri juga shocked dan menitikkan air mata atas kepergian seorang idola sekaligus teman.

Setelah memutus telepon, pikiran dan tangan saya tergerak memencet daftar lagu Kerispatih di gawai saya. Lagu yang langsung terpikir adalah lagu bertema hubungan yang terputus karena kematian, “Mengenangmu” dari album Kerispatih Kenyataan Perasaan (2007) dan Delapan (2015). Kenyataan Perasaan merupakan album Kerispatih yang pertama saya beli setelah saya memutuskan untuk memasukkan karya mereka dalam katalog koleksi saya. Lagu ini saya putar berulang-ulang. Bahkan sambil berbicara dengan seorang musisi lokal, lagu ini berulang terputar tanpa henti.

Menulis status dan caption di akun sosial media juga saya lakukan. Dalam sekejap, berita kepergian Andika sudah menyebar. Dinding akun Facebook-nya mulai diserbu ucapan duka cita dari teman-teman di akun Facebook-nya. Diskusi kelompok di telepon pintar juga tak berhenti. Ada yang berencana untuk datang ke pemakaman, sebagian besar menunjukkan ketidakpercayaan kepergian Andika. Kesedihan terungkap secara massal. Tak sedikit yang memuji Dika sebagai orang yang sangat rendah hati. Kekaguman Mahapatih terhadap band terjadi karena karya dan juga antara lain karena kehangatan seorang Andika.

Andika memang one of a kind. Dia tak pernah menganggap fans sebagai pengagum tapi lebih menganggap mereka sebagai teman. Keakraban yang ditunjukkannya pada semua orang juga terbaca pada komentar teman-teman di dinding akun Facebook. Teman sekolah, teman bermain game serta sesama musisi memiliki kesan yang sama. Dika adalah orang yang apa adanya. Ceplas ceplos. Dia tak pernah jaim. Tak jarang dia menggunakan umpatan “kampret” ketika ada komentar yang menurutnya tak asik. Sebuah ungkapan yang sangat hati-hati digunakan oleh figur publik. Tapi Dika adalah Dika.

Kerendahan hati Dika sudah saya tangkap sejak pertama kali kami bertemu di tahun 2008. Kami bertukar nomer telepon. Di pertemuan keempat saat Kerispatih manggung di Yogya tanpa Sammy kami berkomunikasi murah menggunakan SMS. Ketika berganti nomer, Dika pun mengabarkan pergantian nomernya. Obrolan kami menjadi lebih sering ketika tren telepon berganti menjadi gawai, dari Blackberry sampai Android.

Dika adalah teman ngobrol yang asik banget. Diskusi kami yang awalnya serius bisa berubah menjadi ajang tawa canda. Bisa saja pemecah keseriusan itu dia, bisa juga saya. Dari obrolan serius lalu berubah ke plesetan. Bisa saja berhenti di dia, bisa juga saya yang kehabisan bahan untuk membalas plesetannya. Topiknya bisa apa saja. Kadang juga tentang Kerispatih. Saya beruntung bisa mengenal Kerispatih lebih banyak dari dia. Bagaimana perjalanan karir mereka yang menanjak sampai keliling ke banyak kota dan tak pulang ke rumah, permasalahan yang muncul, problematika yang ada.

Dengan kekritisannya, Dika selalu menjaga obyektivitas ketika terjadi perselisihan pendapat di antara anggota band. Dia bisa menjadi pemecah kebuntuan atau ketegangan dengan kekonyolan dan sense of humor yang dimilikinya Dengan enteng dan tanpa beban, dia bisa melemparkan ungkapan yang membuat suasana menjadi cair.

Dika…..
Kamu pergi terlalu cepat. Di saat kalian berencana untuk bertemu dalam rangka memperingati hari jadi Kerispatih ke-15 dengan mengundang seluruh personil dan eks personil, crew dan mantan crew serta Mahapatih untuk membahas rencana Kerispatih ke depan, engkau lebih dahulu menghadapNYA. Kita tak lagi bisa bersenda gurau, bertukar pikiran, saling ejek, bersahutan plesetan. Tak ada lagi yang bisa memberi masukan pada saya tentang disain kaos bertema bass(ist) yang hendak saya buat. Kamu pergi bahkan sebelum saya sempat meminta kamu follback akun Instagram, yang saya yakin kamu pasti mau melakukannya.

Saya terlalu sedih untuk melanjutkan banyak kesan tentang kamu. Lagu ini terus saya putar sepanjang hari. Dengan seijin pencipta lagu, Badai, saya mengubah sedikit liriknya agar lebih tepat dinyanyikan.

Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya Kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini kau masih sendiri

Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu …

Reff:
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi …

Selamat jalan, Dika. Terima kasih telah memasukkan nama saya pada ucapan terima kasih di album Melekat di Jiwa dan Delapan. Sambil terus merenung, bersedih dan meneteskan air mata untuk kepergianmu, saya juga memutar komposisi “Take Off” dari Karimata, band Jazz Indonesia idolamu.

Fasten your seat belt…. God has brought you to take off to eternity…… Kamu “Pergi Dengan Indah” …….

 

Singo
10.04.2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s