Antara Vina Panduwinata, Trie Utami & Ruth Sahanaya

 

Ketiganya adalah penyanyi favorit saya. Ketiganya adalah penyanyi yang membentang waktu panjang dalam berkarya. Ketiganya adalah penyanyi yang konsisten dengan karirnya. Lalu apa yang hendak dibicarakan? Tulisan ini hendak menjabarkan karya-karya mereka dan semoga bisa memberikan masukan yang lebih produktif.

Urutan nama pada judul di atas dibuat lebih karena mencari rima yang nyaman dibaca. Tak ada alasan lain karena ketiganya memulai karirnya dalam waktu yang hampir bersamaan, era 80-an. Lagu-lagu yang disebutkan dalam tulisan ini hanyalah contoh karena tidak mungkin menuliskan semua lagu yang populer karena keterbatasan ruang tulis.

Sekarang waktunya “menguliti” karya masing-masing.

 

Vina Panduwinata
Karir Vina Panduwinata di Indonesia dimulai dengan album pertamanya Citra Biru di tahun 1981. Album yang musiknya digarap Addie MS melambungkan namanya “Citra Biru” ciptaan James F Sundah dan “Mawar Merah” ciptaan Rudy Gagola dan sederet lagu-lagu lain di album itu tak kalah populernya waktu itu. Perjalanan berlanjut ke album Citra Pesona dua tahun kemudian. Lagu “September Ceria” ciptaan James F Sundah menjadi super hits. Lewat “Di Dadaku Ada Kamu” ciptaan Dodo Zakaria, “Dia” ciptaan Randy Anwar dan “Selamat Tinggal Kenangan” ciptaan Ricky Basuki serta lagu-lagu lain di album Citra Ceria di tahun 1984 Vina semakin memantapkan posisinya sebagai penyanyi papan atas Indonesia. Karirnya terus berlangsung lewat album Cinta yang dirilis tahun 1985 dengan lagu-lagu “Kumpul Bocah” ciptaan Dodo Zakaria, “Cinta” ciptaan Chrisye dan Adjie Soetama serta “Dua Anak Manusia” ciptaan Vina Panduwinata sendiri serta lagu-lagu lain yang juga tak bisa dikatakan tidak bagus.

Perjalanan album Vina berlanjut dengan album Cium Pipiku di tahun 1987 yang menghadirkan “Surat Cinta” dan “Logika” ciptaan Oddie Agam. Kemudian di tahun 1989, album Wow yang berisi “Wow” ciptaan Oddie Agam, “Bukalah Matamu” ciptaannya sendiri dan “Sungguh” ciptaan Fariz RM serta lagu-lagu lain semakin mengukuhkan karya Vina Panduwinata di dunia musik Indonesia. Di tahun 1991, sebuah mini album Rasa Sayang Itu Ada berisi empat lagu dirilis. Berlanjut ke tahun 1996, lagu “Aku Makin Cinta” ciptaan Loka Manya dan empat lagu lain yang dibawakan oleh Vina serta tiga lagu yang dibawakan penyanyi lain ada di album Aku Makin Cinta.

Di tahun 2000, Vina merilis album Vina 2000 dalam dua versi. Di tahun 2001 album Bawa Daku menyertai perjalanan karirnya dan berlanjut ke album Vina For Children di tahun 2002. Album kompilasi yang merupakan kumpulan lagu-lagu terbaik Vina dirilis secara resmi di tahun 2006 dengan tajuk Vina Terbaik 1981 – 2006. Di tahun 2010 Vina merilis album Kekuatan Cinta dan setahun kemudian merilis album Abdimu. Seluruh lagu di kedua album tersebut merupakan ciptaan Ria Prawiro. Album Abdimu merupakan album rilis terbatas yang tidak dijual.

Selain album-album pribadi, Vina juga terlibat di album Cinta Indonesia (Guruh Sukarno Putra III, 1984), Kita Adalah Satu (Bimbo, 1985), Ilusi Rumah Kayu (Gloya Gladi, 1984) dan Tantowi Yahya & Friends (2005) serta album-album kompilasi Suara Persaudaraan (1985), Mallisa (Dodo Zakaria, 1986), Penantian (Yockie Suryo Prayogo, 1986), Bahasa Cinta (Broery Pesulima, 1987), Nurleila (Rumpies, 1988), Kariza (1989), Tamu Istimewa (Oddie Agam, 1990), Adjie Soetama & Rekan (1989), Legenda Pop Indonesia (1992), Forum (1997), Remembrance Of Allah (2009).

Tak berhenti di album pribadi dan kompilasi, Vina menjadi salah satu penyanyi Indonesia yang merajai festival. Keikutsertaannya dalam Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI) dimulai tahun 1982 membawakan “Bisikan Malam”. Di FLPI 1983 Vina membawakan “Salamku Untuknya”. Pada FLPI 1984, Vina membawakan Aku “Melangkah Lagi” dan “Tuhan Ternyata Ada” (duet bersama Masnait VG). FLPI 1985 menjadi istimewa buat Vina karena lagu “Burung Camar” yang akhirnya disematkan menjadi panggilannya. Selain itu, Vina juga menyanyikan “Satu Dalam Nada Cinta”. Vina membawakan “Dilema” di FLPI 1988 dan bersama Harvey Malaihollo yang digelari macan Festival, Vina membawakan “Begitulah Cinta”. Vina juga berpartisipasi di festival lain yaitu Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1982/1983 lewat lagu “Suara Hati Yang Damai” dan “Sapa Pertiwi”.

 

Trie Utami
Harus diakui, popularitas Trie Utami menjadi gemilang ketika dia bergabung menjadi vokalis Krakatau. Sebelum bergabung dengan Krakatau, Trie Utami adalah vokalis Kahitna saat band dari Bandung ini masih bermain di ranah jazz. Bersama Krakatau, Trie Utami menghasilkan album Krakatau (1987), Second Album (1988), Top Hits Single (1989), Kembali Satu (1990), Mystical Mist (1994), Magical Match (2000) dan bergabung kembali dengan Krakatau Reunion lewat album Chapter One (2016) dan Chapter Two (2018).

Kiprahnya tak hanya bersama Krakatau. Trie Utami yang menguasi enam bahasa asing dan banyak bahasa daerah di Indonesia ini juga memiliki album solo dan album kompilasi sebagaimana Vina Panduwinata. Album solonya adalah Centil = Aced, Gimana, Sesungguhnya dan Untuk Ayah Ibu Tercinta. Keempatnya dirilis di tahun 1991. Centil = Aced dan Gimana adalah album mini. Centil = Aced merupakan album disko pop Sunda. Dua album lain yang disebutkan di atas merupakan album penuh. Di tahun 1995, Trie Utami yang lebih akrab dipanggil Iie merilis album Aku Cemburu. Di tahun 2007 dia merilis album Kekasih Bayangan dan setahun berikutnya dia merilis album pop Menado, Voor Ngana.

Trie Utami memang cair dan produktif. Selain album solo dan bersama Krakatau, dia juga merilis album duet atau kerja sama. Bersama Atiek CB, Malyda dan Vina Panduwinata, mereka membentuk Rumpies dan merilis tiga album (Vina hanya bergabung di album pertama). Bersama rekan-rekan lain, Trie Utami bergabung dengan kelompok 7 Bintang dan menghasilkan tiga album. Dengan Deddy Dhukun, dia merilis tiga album, satu album berisi lagu-lagu yang dinyanyikannya sendiri atau bersama Deddy, dua album merupakan album various artists. Bersama Utha Likumahuwa, dia merilis dua album dimana satu album merupakan album dengan lagu-lagu mereka secara solo dan duet dan album lainnya benar-benar album baru mereka. Trie Utami juga mengisi album Adjie Soetama & Rekan membawakan “Tinggal Bilang”. Ada juga album OST Elegi Untuk Nana dan beberapa album kompilasi lain seperti Tembang Perduli (1988) dan Legenda Pop Indonesia.

Sama halnya dengan Vina Panduwinata, Trie Utami juga meramaikan jagat ajang festival di tahun 80-an. Bersama Yopie Latul, dia membawakan “Bila” ciptaan Jossie Hitijahubessy/Olvi Heumase di FLPI 1990. Setahun berikutnya, bersama Utha Likumahuwa, Iie menyanyikan “Kisah Kehidupan” ciptaan Andre Hehanussa. Yang tak bisa dilupakan adalah ketika Trie Utami membawakan “Keraguan” di ajang LCLR 1987. Lagu ini sangat melambungkan namanya. Di LCLR 1988, Trie Utami membawakan lagu “Rencana” ciptaan Roedyanto dan Chandra Purnama.

 

Ruth Sahanaya
Sebagaimana Trie Utami, Ruth Sahanaya yang akrab dengan panggilan Uthe pernah bergabung dengan Kahitna dan Krakatau. Sebelum Krakatau merilis album pertama, Ruth Sahanaya memutuskan bersolo karir dan merilis album pertamanya Seputih Kasih di tahun 1987. Sebenarnya, di tahun 1983, Uthe merilis album Pop Amboina. Album ini berisi lagu-lagu pop Ambon dan tak pernah masuk discography pada artikel-artikel yang menceritakan karirnya.

Setelah sukses dengan Seputih Kasih, Ruth Sahanaya berturut-turut merilis Tak Kuduga (1989), Kaulah Segalanya (1992), kompilasi Yang Terbaik (1994). Album kompilasi Yang Terbaik ini juga dirilis di Jepang dengan tambahan satu lagu. Album selanjutnya dari Ruth Sahanaya adalah …uthe! (1996), Kasih (1999), Greatest Hits (2002), Bicara Cinta (2003), Jiwaku (2006), Thankful (2010), Simfoni Dari Hati (2015) dan yang terbaru adalah Rinduku (2018). Selain album pop, Ruth Sahanaya juga merilis empat album rohani; Berserah Kepada Yesus (1997), Yang Kurindukan (2000), Joyful Christmas (2007) dan Giving My Best (2009).

Bersama Krisdayanti dan Titi DJ, Ruth Sahanaya membentuk 3 Diva dan menghasilkan dua album: Semua Jadi Satu (2006) dan Di3va (2008). Perjalanan karirnya juga dilengkapi dengan mengisi album band Karimata dengan membawakan “Masa Kecil” di album Lima (1987). Ruth juga mengisi album-album kompilasi dengan membawakan “Harus Kumiliki” di album yang menggunakan judul lagu itu sebagai nama album (1994). “Kaulah Segalanya” yang meningkatkan popularitas Ruth Sahanya karena keberhasilannya menjadi pemenang di Sun Song Festival di Finlandia tahun 1992 membuat lagu ini digubah dalam bahasa Inggris dengan judul “Say You’ll Always Be Mine” dan dimasukkan di kompilasi Best Slow Hits pada tahun yang sama.

Ketika Pertamina berhari jadi ke-35 (1992), BUMN ini merilis sebuah album non komersial. Ruth Sahanaya membawakan “Sepanjang Jalan Kenangan” ciptaan Is Haryanto, “Melodie D’amour” ciptaan Edmoundu Ross dan “Persembahanku” ciptaan Iskandar. Masih di tahun yang sama, Ruth Sahanaya menyanyikan “White Christmas”, “Jesu Bambino”/”Silent Night” dan “The Christmas Song” pada album White Christmas yang musiknya digarap oleh Aminoto Kosin. Di tahun 2004, Ruth mendapat kepercayaan dari Erwin Gutawa yang mengaransemen ulang lagu-lagu Koes Plus/Bersaudara membawakan “Andaikan Kau Datang” dan lagu ini menjadi super hits di album Salute To Koes Plus/Bersaudara tersebut.

Di jagat festival dalam negeri, Ruth Sahanaya juga pernah berpartisipasi dengan membawakan “Ini Dan Itu” ciptaan Hermawan dan Inge Maskun di FLPI 1989. Keikutsertaannya di ajang FLPI tercatat hanya satu kali dan untuk LCLR, Ruth tidak pernah bergabung di sana.

And then…….
Apakah mereka bertiga pernah bergabung dalam sebuah proyek bersama? Pernah. Mereka tergabung dalam Indonesian Voices membawakan lagu “Kita Untuk Mereka” ciptaan Glenn Fredly bersama penyanyi-penyanyi Indonesia lain. Lagu ini ada di album kompilasi Kita Untuk Mereka yang dirilis oleh Sony Music Indonesia sebagai sebuah proyek pengumpulan dana yang disalurkan kepada korban gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara di tahun 2004.

Vina Panduwinata, Trie Utami dan Ruth Sahanaya berkarya untuk musik Indonesia. Mereka memiliki album solo. Mereka pernah berkolaborasi. Mereka pernah mengisi album-album kompilasi. Mereka juga pernah menjadi bagian dari ajang festival dalam negeri. Lalu, apa yang membedakan ketiga penyanyi solo tersebut?

Dari seluruh catatan yang saya miliki, Vina Panduwinata pernah menciptakan lagu. Setidaknya lagu-lagu ciptaannya dinyanyikan sendiri. “Dua Anak Manusia” dan “Agar Kau Mengerti” ada di album Cinta, “Selamat Malam” di album Cium Pipiku, “Bukalah Matamu” dan “Selamat Jalan” ada di album Wow dan “Untuk Apa Lagi” yang dinyanyikannya bersama Broery Pesulima di album Bahasa Cinta (1987) dan bersama Ria Prawiro dan Dodo Zakaria, Vina menciptakan lagu “Anakku” di album Bawa Daku (2001).

Lagu ciptaan Trie Utami? Di Krakatau, Iie menciptakan “La Samba Primadona” bersama Indra Lesmana dan “Cita Pasti” bersama Dwiki Dharmawan di Second Album dan “Rasa” yang ada di album Top Hits Single. Bersama Dwiki Dharmawan/Pra B Dharma mereka menciptakan “Sekitar Kita” dan bersama Wiwie GV menciptakan “Damai Yang Hilang” yang terdapat di album Let There Be Life.

Di album solonya, Trie Utami menciptakan “Mon Cherie”, “Sayap Cinta” (bersama Wiwie GV), “Terima Kasih”, “Satu Yang Satu” (bersama Analta), Akhir Zaman dan Seharusnya. Bersama Pra B Dharma, dia menciptakan “Takkan Kumiliki”, “Kekasih Bayangan”, “Tak Pernah Mati”, “Bintangnya Cinta” dan “Nirwana”. Bersama Pra dan Dwiki, Iie menciptakan lagu ”Race Against Time” yang ada di album Kekasih Bayangan. Tujuh dari sembilan lagu di album Voor Ngana adalah ciptaannya bersama Nyong Anggoman.

Trie Utami juga menciptakan lagu untuk penyanyi lain. Lagu “Hei” yang dibawakan penyanyi cilik Natasha adalah ciptaan Trie Utami. Dia juga menciptakan lagu untuk Titi DJ berjudul “Kesabaranku”. Untuk group ME, Trie menciptakan lagu berjudul “Kasih Putih” dan “Ada Satu”. Lagu “Di Ujung Rindu” milik Harvey Malaihollo yang hits merupakan ciptaan Trie Utami. Lagu ini ada di album Tetaplah Bersamaku (1996). Di album yang sama, juga ada lagu “Kutitipkan Cinta” yang juga ciptaan Trie Utami.

Bagaimana dengan Ruth Sahanaya? Di seluruh album-albumnya yang saya miliki, saya tidak (belum?) menemukan sebuah lagu ciptaannya. Sebagai seorang pemujanya, saya sangat ingin idola saya ini bisa menghasilkan karya, menciptakan sebuah lagu. Kalau sudah ada satu, akan ada dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. Dengan menciptakan lagu, lengkaplah karirnya di dunia musik Indonesia. Portofolionya tak hanya sebagai penyanyi tapi juga seorang pencipta lagu! Bagaimana Mama Uthe? Bikin lagu donk ….. I believe you can. Pasti bisa!

 

Tj Singo
Pecinta Vina Panduwinata, Trie Utami dan Ruth Sahanaya

 

2 thoughts on “Antara Vina Panduwinata, Trie Utami & Ruth Sahanaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s