Prambanan Jazz 2018

“Pengalaman adalah guru terbaik.”

Pepatah ini menjadi pegangan bagi Rajawali Indonesia Communication (RIC) yang menyelenggarakan acara Prambanan Jazz untuk keempat kalinya di tahun 2018 ini. Setelah penyelenggaraan pertama dan kedua yang meninggalkan banyak kritikan dan pekerjaan rumah serta penyelenggaraan ketiga tahun lalu yang memunculkan “drama Korea” yang menghabiskan tenaga pikiran, tahun ini Prambanan Jazz jauh lebih tertata dan jauh lebih bagus serta memuaskan baik bagi penonton, penampil maupun penyelenggara.

Di Prambanan Jazz kedua dan ketiga yang dihadiri penulis, sangat banyak musisi dan group yang tampil. Banyaknya penampil mengakibatkan tak adanya jeda antar penampil pada susunan acara yang tertulis. Dan ini juga berakibat tertumpuknya para musisi di sekitaran panggung serta tertundanya penampil yang harus menunggu penampil yang masih berada di panggung. Kondisi ini menjadi masalah ketika pengelola panggung (stage manager) meminta pembawa acara untuk menghentikan musisi yang sedang beraksi di panggung.

Puncak kekacauan Prambanan Jazz 2017 adalah ketika salah satu penampil diminta menghentikan penampilannya karena musisi manca di panggung lain memprotes suara yang muncul di panggung yang digunakan penampil dari negeri sendiri itu. Penolakan menghentikan penampilan ini berbuntut panjang. Lampu panggung dimatikan sehingga tak ada penerangan. Ketiadaan tata lampu tak menyurutkan penonton untuk bernyanyi.

Suara yang dikeluhkan penampil manca negara tersebut akhirnya terbungkamkan dengan dimatikannya tata suara. Tak ada lagi suara nyanyian yang muncul dan kemudian terganti suara sorakan ketidakpuasan penonton. Selanjutnya terjadi perang argumen di media sosial. Kesannya saling menyalahkan yang tidak memecahkan masalah namun malah menjadi pertengkaran yang kontra produktif bagi kedua belah pihak.

Di penyelenggaran tahun 2016, salah satu group yang tampil hanya membawakan sedikit lagu. Penampilan mereka harus dihentikan karena waktunya bersamaan dengan berkumandangnya azan Magrib. Seluruh penampil yang terjadwal tetap tampil namun karena manajemen waktu yang kurang baik membuat jadwal tampil menjadi molor. Ini juga terjadi pada Prambanan Jazz 2017. Pengelola panggung yang meminta penampil menghentikan penampilannya menimbulkan ketidakpuasan. Ibarat orang yang sedang menikmati makanan tiba-tiba harus menghentikan santapan. Padahal saat itu bisa saja dia sedang makan dengan nikmat atau belum kenyang.

Kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan, baik bagi penampil maupun penyelenggara. Akibat pemotongan durasi penampilan, beberapa group tak bisa tampil sesuai jadwal. Kahitna dan Yovie & Nuno yang mestinya membawakan sekitar delapan lagu harus memberi diskon 50%. Panggung festival yang mestinya berakhir pukul 21.00 terus berlanjut sementara panggung spesial yang terjadwal dimulai pukul 21.00 juga berlangsung karena penonton di panggung tersebut sudah berkumpul. Glenn Fredly yang terjadwal selesai pukul 21.00 baru selesai tengah malam sementara KLa Project di panggung spesial telah menyelesaikan penampilannya pada pukul 23.00.

Kacaunya jadwal tampil dan masalah yang muncul di hari kedua serta umpatan-umpatan negatif yang berkeliaran menghujat penyelenggara di media sosial karena “maha benar netizen dengan segala umpatannya” tanpa memahami kejadian karena tak berada di sana menjadi titik balik balik bagi RIC.

Prambanan Jazz yang berlangsung tanggal 17 – 19 Agustus lalu kali ini benar-benar berbeda. Tak lagi ada penundaan penampilan musisi di panggung. Semua terjadwal dengan baik. Belajar dari pengalaman sebelumnya dan keinginan untuk menjadi baik, RIC mengubah eksekusi di lapangan. Jika di tahun-tahun sebelumnya, seluruh eksekusi dilakukan pihak penyelenggara, tahun ini RIC memperkerjakan Asthie Wendra, seorang pengarah acara alias show director dari Jakarta yang sudah berpengalaman menangangi beberapa pertunjukan besar sebelumnya.

Hasil evaluasi penyelenggaraan sebelumnya digali kelemahannya kemudian ditentukan langkah perbaikan. Dengan segudang pengalamannya, Asthie merumuskan langkah-langkah yang harus ditempuh. Di tahun ini, sesi uji coba tata suara hanya diberikan pada musisi atau band yang tampil di panggung spesial, Rorojonggrang Stage. Mereka yang tampil di festival show tidak dijadwalkan melakukan uji coba tersebut. Namun, tak ada sanggahan atau keberatan dari musisi atau band. “Semua itu bisa terjadi karena komunikasi,” begitu kata Asthie dalam percakapan dengan penulis di belakang panggung.

Jumlah penampil tahun ini tidak sebanyak tahun lalu namun pengelolaan waktu sangat efektif dan efisien. Tak ada keterlambatan jadwal yang di tahun-tahun sebelumnya menjadi makanan utama. Ada jeda antara penampil satu dengan yang berikutnya. Menurut penulis, hal ini juga baik untuk penonton yang tak harus berdiri berjam-jam tanpa istirahat. Waktu jeda bisa mereka manfaatkan untuk mencari makanan dan minuman atau membeli cindera mata acara ini.

Penonton bisa mengembalikan stamina sejenak untuk kembali bersemangat ikut bernyanyi mengikuti lagu musisi atau band yang ada di panggung. Pada penampilan Hivi di hari pertama di sore hari, penonton yang memenuhi arena festival Rorojonggrang Stage masih segar. Mereka ikut bernyanyi sepanjang penampilan Hivi. Tak hanya kaum milenial, beberapa penonton usia paruh baya juga mengenal lagu mereka. Hivi yang popularitasnya terus meningkat belakangan ini menyajikan tontonan yang menggembirakan dengan lagu-lagu mereka yang sudah populer seperti “Pelangi”, “Kereta Kencan”, “Orang Ketiga”, “Remaja” dan lain-lain. Penampilan Hivi berlanjut ke Yura Yunita yang tak kalah menarik.

Selepas Magrib, di Hanoman Stage yang merupakan panggung festival saja, Iwa K beraksi. Jagoan rap yang moncer di tahun 90-an ini bisa membawa penonton terus bernyanyi dengan lagu-lagunya semacam “Bebas”, “Malam Indah”, “Kram Otak”, “Ku Ingin Kembali” dan lain-lain. Penguasaan panggung Iwa K dan kemampuan persuasif membuat penonton menuruti instruksi yang diberikan Iwa yang seminggu sebelumnya tampil di Malioboro Festival Nights. Dia berhasil membuat penonton menunggang “mesin waktu” kembali ke tahun 90-an.

Para penonton berusia menjelang paruh baya terus bertahan sampai Java Jive berada di panggung. Sepanjang penampilan Java Jive, para penonton yang tadinya bernyanyi saat Iwa K beraksi juga ikut mendendangkan lagu-lagu hits Java Jive seperti “Gerangan Cinta”, “Kau Yang Terindah”, “Gadis Malam” “Keliru” ciptaan Fatur dan Capung yang aslinya merupakan lagu Ruth Sahanaya di album Kasih (1999) dan lain-lain. Group asal Bandung yang sepanjang karirnya tak pernah ganti personil malam itu berhasil menyibak romantisme masa muda di bawah sinar bulan yang hampir bulat dan udara yang cukup dingin seolah seirama dengan lirik lagu “….malam kian terasa larut dan dingin//hasrat pun ingin terus bersama//sinar bulan yang terang terbayang//terbias indah di matamu…..

Perjalanan penulis berlanjut ke panggung spesial menyaksikan penyanyi Malaysia, Sheila Majid, yang tampil bersama Rio Febrian dan Marcell diiringi oleh Tohpati. Panggung spesial dengan harga tiket di atas pertunjukan festival terisi padat hingga penonton yang datang terlambat kesulitan mencari tempat. Sepanjang pertunjukan spesial malam itu, penonton tak berhenti bernyanyi. Pesona Rio Febrian dan karisma Marcell membius mereka ikut membawakan lagu-lagu yang mempopulerkan nama mereka.

Sheila Majid yang berbadan mungil dan memiliki banyak hits dari puluhan album sudah ditunggu penonton. Ini penampilan kedua Sheila Majid di Yogyakarta dengan selisih 30 tahun setelah penampilan pertamanya di Stadion Kridosono bersama antara lain Krakatau dan Warkop DKI. Sheila Majid yang masih tetap populer dan dikenal banyak orang berseloroh di atas panggung: “Ini penampilan saya kedua kali di Yogya setelah yang pertama di tahun 1988. Kalian sudah lahir?”

Pantaslah Sheila memberikan ice breaking seperti itu karena dia melihat banyak penonton dengan beragam usia,.dari yang sudah menikmati lagu-lagunya di tahun 80-an sampai yang masih berusia belasan ke tigapuluhan. Malam itu Sheila menampilkan beberapa lagu populernya seperti “Antara Anyer Dan Jakarta”, “Legenda”, “Sinaran”, “Warna” dan lain-lain. Sepanjang pertunjukan, lagu-lagu populer yang dibawakan Sheila diikuti koor massal penonton.

Setelah Sheila Majid, penonton semakin bersemangat ketika Kahitna dan RAN naik ke panggung dan melebur menjadi KahitRAN. Panggung Rorojonggrang diisi lima belas orang dan bisa menjadi rekor tersendiri dalam sebuah pagelaran musik. Tak ada kesunyian sepanjang mereka di panggung. Bergantian menyanyikan lagu-lagu hits Kahitna dan RAN disertai aksi panggung menawan, penonton tak hanya bernyanyi tapi juga beberapa kali menyuarakan pekik histeris.

Pelaksanaan hari pertama sukses. Tak ada ketidakpuasan penonton maupun penampil yang beraksi di panggung. Semuanya bersuka, semuanya gembira. Perjalanan penulis langsung berlanjut ke hari ketiga karena ada kesalahan medis pada penulis di hari pertama yang mengharuskannya bertandang ke posko kesehatan yang tersedia sebagai sebuah syarat standar pertunjukan. Tiga puluh menit berada di posko kesehatan bisa memulihkan penulis untuk selanjutnya menikmati penampilan Java Jive manggung namun membuat penulis beristirahat untuk tak datang pada hari kedua di festival ini.

Di hari ketiga, penulis menyaksikan penampilan Jikustik yang berada di panggung saat matahari masih terik membakar. Dengan balutan busana yang seragam Jikustik mengobati kehausan penonton yang berada di area Hanoman Stage. Dengan hits-hits abadi semacam “Setia”, “Selamat Malam Dunia”, “Puisi” dan beberapa lagu yang ada di album setelah formasi Jikustik berganti vokalis, penonton yang memiliki rentang usia bervariasi terus bernyanyi. Mereka berusia belasan sampai menjelang paruh baya. Penampilan Jikustik yang disertai koor massal penonton menunjukkan kejayaan Jikustik yang masih ada. Dengan vokalis yang sekarang pun, massa masih menikmati lagu-lagu mereka yang menandakan ada kerinduan pada group asli Yogyakarta ini.

Saat matahari mulai menuju ke arah barat dan memberi kesejukan, panggung Rorojonggrang menyajikan musik bergenre jazz yang dimainkan salah satu musisi jazz papan atas Indonesia Idang Rasjidi yang sore itu juga menampilkan Syaharani. Meskipun penonton tak sebanyak pada saat Hivi berada di panggung yang sama, mereka sangat menikmati penampilan Syaharani dengan iringan Idang Rasjidi yang dibantu Iwan Wiradz pada perkusi.

Lagu “Tersiksa Lagi” ciptaan Christ Kayhatu & Georgie Leiwakabessy yang menjadi lagu jazz standar Indonesia disambut hangat oleh penonton. Lagu ini pernah dibawakan oleh almarhum Utha Likumahuwa di album kompilasi Nada & Apresiasi (1982) maupun Syaharani sendiri di album pertamanya, Tersiksa Lagi (2000). Selain itu, Lulu Purwanto dan Ireng Maulana juga pernah merekam lagu ini di album mereka secara instrumental.

Syaharani mampu mengarahkan penonton untuk ikut aktif bernyanyi. Idang juga menikmati suasana sore itu dengan mengatakan: “asik ya sore-sore begini mainin jazz dengan Candi Prambanan sebagai latar belakang panggung dan anginnya juga bikin tambah asik aja.” Kuantitas penonton yang tak banyak tertutup oleh kualitas penonton yang ikut aktif dan menikmati penampilan bergenre jazz ini.

Gigi yang tampil di panggung yang sama setelah adzan Magrib menutup pertunjukan festival di panggung Hanoman. Jumlah penonton yang menggelembung ikut bernyanyi bersama Armand Maulana yang aksi panggungnya sangat enerjik dan menghibur. Penonton tak henti melantunkan hits-hits band ini. Romantisme lagu “11 Januari” yang membuat penonton terhanyut dalam irama melankolis berubah menjadi ramai saat “Nakal” dibawakan. Gigi yang memiliki penggemar cukup lebar rentang usianya berhasil membuat penonton berteriak dan menikmati pesta di panggung Rorojonggrang.

Seusai Gigi tampil, area dibersihkan untuk persiapan pertunjukan spesial malam itu. Penonton yang memiliki tiket pertunjukan festival berpindah ke panggung Hanoman untuk menikmati romantisme berikutnya bersama Glenn Fredly. Pesona dan karisma Glenn menarik puluhan ribu orang berdesakan di depan panggung. Yang terjadi adalah lautan karaoke massal sepanjang Glenn berada di panggung dengan lagu-lagu “Terserah”, “Januari”, “Kisah Romantis”, “You’re My Everything” dan lain-lain. Glenn memang magnet terutama bagi kaum Hawa.

Tulus yang tampil setelah Gleen juga memberikan sajian yang tak kalah romantis. Dengan lagu-lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, “Sewindu”, “Cahaya”, “Monokrom” dan beberapa yang lain, penonton juga tak berhenti bernyanyi. Tulus yang memiliki kebiasaan bertanya pada penonton: “Bagaimana? Senang? Bahagia?” dan sesekali memberi sedikit pengantar pada lagu yang dibawakannya berhasil menguasai penonton dan membuat mereka bernyanyi. Tak perlu menyanyikan lagu secara utuh, Tulus bisa menghemat suaranya dan yang terdengar adalah lautan suara manusia dari pemilik tiga album dan telah merilis single baru berjudul “Labirin’ pada tanggal 24 Agustus lalu. Tulus sebagaimana penonton sangat bahagia malam itu. Dari wajahnya terpancar kepuasannya tampil di Prambanan Jazz selama tiga tahun berturut-turut.

Sebelum Tulus mengakhiri penampilannya, panggung Rorojonggrang sudah terisi oleh lautan manusia yang menyaksikan Dewa19 bersama Ari Lasso. Group asal kota Surabaya pimpinan Ahmad Dhani ini juga menciptakan lautan koor massal dengan lagu-lagu “Aku Milikmu”, “Cukup Siti Nurbaya”, “Satu Hati” dan lain-lain. Penonton dari segala usia tumpah ruah di arena festival yang terlalu sempit bagi penonton yang ingin menikmati band ini.

Di penghujung penampilannya, Dewa19 membawakan “Kangen” yang menjadi masterpiece band ini. Seluruh kru dan juga CEO RIC, Anas Alimi, menikmati keberhasilan acara yang mereka gelar dengan bernyanyi bersama mengikuti lagu ini. Tak ada batas antara pimpinan dan pekerja. Sambil bernyanyi mereka juga melakukan unggahan Insta Story dan swa foto bersama. Lagu “Separuh Nafas” yang menutup penampilan Dewa19 mereka nikmati bersama di belakang panggung sambil bernyanyi dengan suara yang keras. Mereka menikmati pesta yang tahun ini berlangsung sangat rapi dan terkelola dengan baik.

Dewa19 bukanlah band yang menutup gelaran tahunan ini. Boyzone, band populer di tahun 90an menutup pesta ini di panggung spesial. Namun buat penulis, lagu-lagu Indonesia lebih menarik untuk dinikmati dan ditonton sebagai produk dalam negeri yang harus dicintai.

Sungguh, Prambanan Jazz 2018 sudah berubah. Tak ada lagi kekacauan jadwal dan perselisihan antara musisi dan penyelenggara. Semua berjalan lancar dan terorganisir dengan baik. Wawancara media massa dengan musisi yang tampil juga difasilitasi oleh penyelenggara dengan rapi dan disediakan tempat khusus. Tenda untuk kru juga disediakan terpisah, satu hal yang tak terjadi sebelumnya.

Tentu saja tak ada pesta yang sempurna. Area kelas festival di panggung Rorojonggrang adalah salah satu yang harus dievaluasi. Dengan menampilkan band-band dan musisi yang memiliki penggemar banyak seperti Hivi, Yura Yunita, Sheila Majid, Kahitna, RAN, Gigi, Dewa19 dan Boyzone, area kelas festival perlu diperbesar.

Seorang teman yang memiliki tiket terusan mengeluhkan prosedur pengecekan yang kurang praktis dan kurang efisien. Jalur masuk ke area kelas festival panggung Rorojonggrang juga dikeluhkan penonton yang harus antri agak lama karena peralatan pengecekan dirasakan kurang jumlahnya.

Seorang musisi yang tampil hari kedua bercerita bahwa dia agak terganggu saat tampil karena pengaturan tata suara yang sudah dilakukan mengalami perubahan justru saat dia sedang tampil. Dia melihat teknisi musisi lain berada di FOH setelah lagu kedua. Ada baiknya FOH dibuat steril dan tidak dimasuki teknisi musisi yang tidak sedang tampil agar pengaturan tetap seperti yang telah dibuat.

Lepas dari kekurangan yang ada, sekali lagi penulis memberikan pujian dan ucapan selamat pada penyelenggaraan Prambanan Jazz 2018 yang terorganisasi sangat baik. Sangat jauh dari kekurangan yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Sampai jumpa di Prambanan Jazz tahun depan dengan pilihan musisi berkualitas dan laris serta ada penambahan lebih banyak musisi jazz yang ditampilkan sebagaimana disampaikan Idang Rasjidi yang diwawancarai seusai manggung agar gelaran yang dibungkus dengan kata jazz ini tetap menarik untuk ditonton, dinikmati dan disenangi oleh penggemar musik.

Bravo Prambanan Jazz!

Tj Singo

 

One thought on “Prambanan Jazz 2018

  1. Pingback: Prambanan Jazz: Festival Musik Kaum Milenial | singolion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s