Bintang Indrianto – Soul of Bromo

“Saya Bintang Indrianto, pemain bass Indonesia.”

Kalimat itu selalu diucapkan Bintang saat manggung baik di panggung kecil tak berbayar maupun panggung besar yang memberinya penghasilan dan kepuasan batin.

Bintang seorang pemain bass, dia tak pernah mengatakan bassist, yang sangat Indonesia. Dia menangkap inspirasi yang datang dituangkan menjadi komposisi yang Indonesia. Alat musik boleh berasal dari luar negeri tapi bagaimana selanjutnya alat musik menghasilkan produk yang Indonesia itulah yang sebaiknya dilakukan musisi Indonesia. Inilah concern almarhum Yockie Suryoprayogo yang berkali-kali disuarakannya. Bermain musik tak hanya meniru pola asal tapi perlu dikembangkan bahkan menghasilkan produk budaya Indonesia.

Bintang sepaham dengan almarhum Yockie. Komposisi-komposisi yang dihasilkannya berciri Indonesia. Albumnya bersama Trio +++ berjudul Festival (2015) memotret tentang pasar malam, sebuah pertunjukan rakyat Indonesia masa lalu. Tentang album itu, bisa dibaca di sini. Setelah itu, Bintang mengekplorasi karya-karya seniman Jawa dalam album Gambang Suling Ki Nartosabdo di tahun 2016. Tak usah ditelaah, album ini jelas Indonesia.

Di tahun ini, Bintang kembali menerjemahkan semangat Indonesia dengan inspirasi Gunung Bromo pada album Soul of Bromo. Album ini sebenarnya sudah paripurna tahun lalu namun dirilis tahun ini bersamaan dengan penampilannya pada Jazz Gunung di Bromo akhir Juli lalu yang tahun ini sudah menginjak usia sepuluh tahun.

“Album ini wujud apresiasi saya terhadap kumpulan foto keren pak Sigit Pramono yang dikemas sangat apik di salah satu buku beliau yang berjudul “Equilibrium”” begitu tulis Bintang di kata pengantar album ini.  Booklet album ini berisi sebagian kecil foto-foto karya pak Sigit. Sampul album juga merupakan salah satu foto karya pak Sigit, orang nomer satu di balik suksesnya Jazz Gunung.

Mendengarkan sebagian besar lagu di album ini membawa pada perenungan karena latar belakang karya-karya ini adalah sisi kelam bencana erupsi Gunung Bromo tahun 2010. Namun, di balik sisi kelam selalu ada harapan. Every cloud has a silver lining kata orang dunia barat atau setiap kejadian ada hikmahnya istilah kita. Hikmahnya adalah – masih menurut Bintang – supaya kita ingat terhadap Sang Pencipta.

Dibantu oleh Eugen Bounty pada alto sax/clarinet, Ronal Lisand pada kendang/saluang/sarunai/salempong/suling, Gihon Siahaya pada rindik/ceng ceng/rebana/perkusi, Imam Garmansyah pada kibor, Freza pada gitar dan vocal serta Endah Widiastuti pada elektrik gitar dan vocal dan Bintang Indrianto sendiri pada bass, album ini mengeksplorasi kekayaan musik Indonesia dengan memasukkan alat musik tradisional dan juga suasana yang khas Indonesia.

Dibuka dengan “Nature Whisper” yang berisi selipan suara alam nan lembut di awal, lagu ini ritmenya meningkat menunjukkan semangat dengan dominasi instrumen yang dimainkan Gihon dan Ronal serta tiupan instrumen yang dilakukan Eugen. Cabikan bass Bintang memberi sentuhan seperlunya mempermanis komposisi.

“No Tears” sebagai komposisi kedua menyiratkan kepedihan pada awalnya. Petikan dan cabikan bass Bintang menyayat perasaan. Vocal Freza yang terdengar mirip vocal Fadly Padi pada lirik awal menjadi sebuah titik ekspektasi dan vocal Endah di lirik akhir adalah ajakan untuk menjadi optimis di balik terjadinya bencana.

Berlanjut ke “Are You Going With Us” dengan suara cabikan dan petikan bass Bintang yang menonjol, komposisi dengan tempo medium ini seolah mengajak untuk bersama-sama melangkah menuju titik cerah setelah terjadinya sebuah bencana.

Endah yang – penulis sebut – seorang story telling singer mengajak pendengar lagu ini memliki harapan baru pada lagu “Hope”. Suara suling yang ditiupkan Ronal mengkondisikan suasana alam pedesaan yang damai di Bromo. Suara Endah yang tegas dan ditambah permainan bass Bintang yang sama kuatnya tak saling mengganggu tapi menjadi perpaduan yang memperkuat lagu ini.

Dari judulnya, komposisi “Hold My Hand” adalah sebuah sebuah ajakan untuk saling bahu membahu. Tiupan sarunai Ronal yang tradisional ditemani petikan bass Bintang yang barat serta permainan saxophone Eugen pada lagu ini adalah sinergi east meets west yang menghasilkan rasa dan aroma Indonesia. Nikmat di telinga sambil menyeruput teh atau bermacam kopi yang bertebaran di bumi negara ini.

“Tengger” adalah komposisi favorit penulis. Tempo sedang pada komposisi ini menghasilkan irama riang. Ada keceriaan suku asli penduduk Bromo walau mereka mengalami bencana alam yang dipercaya menjadi takdir dalam hidup mereka. Seluruh instrumen dimainkan proposional sesuai porsinya. Ibarat nasi goreng, komposisi bumbunya sangat pas dan maknyuss – meminjam frasa yang sering diucapkan almarhum pak Bondan, presenter acara kuliner di televisi.

Di booklet yang terdapat di album ini, “Keep Moving” digambarkan oleh sebuah foto karya pak Sigit yang bercerita hidup terus berjalan walau langit nampak kelam karena sisa letusan yang belum hilang. Ayo bergerak…. Begitu seolah Bintang mengajak pendengar komposisi ini.

“Awesome” artinya mengagumkan. Entah apa yang mengagumkan; bisa jadi suasana Bromo, bisa jadi semangat orang-orang Tengger dalam merespon kehidupan mereka pasca bencana. Bintang mengajak orang bersuka lewat komposisi yang terasa jazz karena tiupan saxophone Eugen.

Judul “Universe” jelas lebih praktis dan mengena disematkan pada komposisi ini dibanding alam semesta yang terlalu panjang meskipun artinya sama. Tetabuhan alat musik tradisional yang terdengar pada komposisi ini adalah sebuah dinamika. Perpaduan dengan alat musik lain khususnya pada petikan gitar adalah sinergi menuju sebuah pencerahan”.

“Bromo” sebagai penutup adalah sebuah harapan, keceriaan baru dan ketertambatan hati akan pesona alam dan keindahan harta karun alami anugrah Sang Maha Kuasa di bumi Indonesia.

Sepuluh komposisi di album ini adalah sebuah rangkaian cerita yang dimulai dengan alur lambat kemudian merambat, sesekali naik ke puncak kemudian turun lagi seperti rangkaian fluktuasi dan berakhir dengan klimaks sebagaimana orang mendaki gunung dan menaklukkan puncaknya. Musiknya sedap dinikmati dalam keheningan apalagi ditemani cerita yang dilagukan oleh Endah Widiastuti sambil ditemani kopi panas kesukaan sang pembuat karya, Bintang Indrianto, pemain bass Indonesia.

Jika ketagihan berlanjut, jangan salahkan Bintang tapi berterima kasihlah pada karyanya yang bisa membawa pendengarnya memahami Indonesia lewat permainan musiknya.

 

Tj Singo
Penyuka Karya Bintang Indrianto

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s