Ngayogjazz – Kawah Candradimuka Komunitas Jazz

Kata ‘jazz’ menjadi kata yang seksi untuk ditempelkan pada pagelaran acara musik yang disebut festival beberapa tahun belakangan ini. Sebut saja International Jazz Day, Java Jazz, Jazz Atas Awan (Dieng), Jazz Goes To Campus, Jazz Gunung (Bromo), Jazz Traffic, Loenpia Jazz (Semarang), Ngayogjazz, Prambanan Jazz, Ramadhan Jazz Festival, TP Jazz (Bandung) dan lain-lain. Dari sekian pagelaran tersebut, beberapa menyematkan jazz sebagai tempelan saja.

Musisi jazz yang tampil di pagelaran tersebut bisa dihitung dengan jari dua tangan atau dengan prosentase yang jauh lebih kecil dibanding musisi yang tidak memainkan jazz. Mereka bermain di ranah non jazz namun sangat populer. Pada satu sisi, penampilan mereka bisa menarik lebih banyak penonton namun di lain sisi bisa juga menyesatkan para pendengar musik yang tanggung pengetahuan. Mereka akhirnya menggeneralisasi semua musik adalah jazz.

Namun, ada yang menarik dengan festival jazz yang sampai sekarang masih bertahan dengan idealismenya. Salah satunya adalah Ngayogjazz yang tahun ini sudah memasuki tahun penyelenggaran ke-12. Ngayogjazz, sebuah festival jazz ndeso yang gaungnya sudah menasional, adalah sebuah perhelatan unjuk kebolehan bermain musik jazz sesungguhnya. Kebolehan sesungguhnya yang bagaimana?

Inilah Ngayogjazz. Pengisi acara yang tampil sudah memiliki nama di dunia jazz. Di dunia sempit jazz, penikmat jazz mengenal mereka. Sebutlah yang pernah tampil di Ngayogjazz seperti Bintang Indrianto, Dewa Budjana, Donny Suhendra, Dwiki Dharmawan, Idang Rasjidi, Indro Hardjodikoro, Jeffry Tahalele, Nita Aartsen, Oele Pattiselano, Syaharani, Tohpati, Trie Utami dan lain-lain. Nama mereka adalah jaminan jazz sesungguhnya. Itu saja? Tidak berhenti di situ.

Ngayogjazz adalah sebuah festival yang punya konsep, idealisme, komitmen serta visi dan misi. Menampilkan musisi jazz yang sebenarnya adalah idealisme yang dipegang Ngayogjazz. Selain itu, Ngayogjazz yang selalu diselenggarakan di desa memiliki jalinan dengan masyarakat lokal dan memberi ruang bagi kesenian tradisional lokal untuk ditampilkan. Ada juga penampil yang memainkan jenis genre lain semacam musik indie.

Ngayogjazz juga pernah menampilkan musisi yang berkompromi dengan pasar pop seperti Fariz RM, Endah N Rhesa atau Gugun Blues Shelter yang jika ditelisik lebih jauh, sebenarnya mereka juga punya akar jazz. Memadukan jazz, kesenian tradisional lokal dan musisi pop yang disebutkan inilah yang terus dijaga Ngayogjazz sebagai konsep mereka.

Selain konsep, pemberian wadah bagi musisi jazz sebenarnya tampil di Ngayogjazz sekaligus merupakan visi dan misi untuk mengedukasi bahwa gelaran ini memang acara dimana jazz berpesta dan jazz memang aslinya adalah musik yang berasal dari kalangan marginal. Dengan kata lain, Ngayojazz ingin mengatakan bahwa musik-musik yang dimainkan di panggung-panggung di acara tahunan ini adalah musik jazz sesungguhnya. Penyematan kata jazz di sini bukan sekedar tempelan.

Selain menampilkan musisi jazz yang sudah punya nama, Ngayogjazz juga selalu memberi ruang bagi para pembelajar musik jazz untuk tampil. Pembelajar ini selanjutnya disebut komunitas jazz. Yang menarik adalah ketika komunitas jazz yang berasal dari seluruh Indonesia bisa tampil di festival tahunan ini. Sebuah kesempatan yang tak selalu bisa mereka dapatkan untuk tampil di festival jazz lain khususnya yang sudah dijual secara komersil.

Ngayogjazz memberi mereka panggung untuk tampil dan belajar. Belajar memainkan jazz, belajar tampil di depan massa dan belajar menguasai panggung serta belajar dengan arti yang lebih luas yaitu menimba pengalaman dari musisi jazz yang lebih berpengalaman. Inilah visi dan misi Ngayogjazz yang lain. Ngayogjazz selain mengedukasi massa untuk memahami jazz yang sesungguhnya juga memberikan kesempatan pada para pembelajar agar nantinya mereka bisa menjadi musisi jazz yang bisa mengangkat nama mereka di kancah yang lebih besar.

Menampilkan komunitas jazz berlaga di festival ini sudah menjadi komitmen sejak pertama Ngayogjazz diadakan tahun 2007. Pada saat kelahirannya, komunitas jazz yang ditampilkan masih terbatas komunitas jazz tuan rumah tanah Mataram. Penyelenggaraan pertama yang masih coba-coba dan sarat anggaran menjadi alasan untuk hanya melibatkan komunitas lokal. Namun, pelibatan komunitas jazz berkembang pada pelaksanaan Ngayogjazz kedua di desa Tembi. Sudah ada komunitas jazz luar Yogya yang tampil.

Konsep, idealisme, komitmen serta visi dan misi untuk menjadikan Ngayogjazz sebagai pesta tahunan yang jazz tenanan terus berlanjut. Pada pelaksanaan ketiga di Gabusan tahun 2009, yang terjadi tidak hanya manggung tapi juga temu komunitas jazz se-Indonesia yang lebih mendekatkan para pemain musik jazz dengan berbagi ilmu. Tahun demi tahun, komunitas jazz yang diundang ke Ngayogjazz juga beragam. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk menguji dan mempertontonkan  ketrampilan bermusik jazz mereka.

Tak ada rumusan pasti berapa banyak komunitas jazz yang tampil dalam setiap penyelenggaraan. Panitia tidak mematok jumlah tapi selalu berusaha mengundang komunitas jazz dari berbagai daerah dengan segala fasilitas yang disediakan. Bisa saja sama dengan tahun sebelumnya, bisa juga bertambah sesuai jumlah komunitas yang memastikan kehadirannya. Ajang ini selalu disambut baik oleh para komunitas. Inilah ajang yang menjadi arena unjuk kebolehan dengan harapan suatu saat nanti mereka menjadi musisi yang punya nama dan berkarya lebih luas.

Ngayogjazz memberi kesempatan pada komunitas jazz untuk berkembang. Di pagelaran ini, selain bertemu dengan sesama komunitas, kesempatan berjumpa dengan para musisi jazz yang sudah punya nama sangat terbuka lebar. Dari pertemuan itu mereka bisa menimba ilmu, berdiskusi, memperlebar jejaring dan berbagi pengalaman lewat obrolan informal seperti workshop. Mereka bertemu tanpa sekat prosedural karena arena Ngayogjazz adalah arena yang terbuka. Bisa bertemu dengan siapa saja tanpa birokrasi berbelit-belit.

Beberapa nama komunitas jazz yang pernah tampil adalah Jes Kidding dan Jes Udu dari Purwokerto. Blue Batik Replica dari Pekalongan, Palembang Jazz Community, Komunitas Jazz Lampung dan puluhan group dari komunitas jazz Yogyakarta. Beberapa komunitas jazz tampil berturut-turut pada penyelenggaraan ini. Mereka datang atas undangan panitia dan kesanggupan mereka mendapat fasilitas apa adanya dari panitia. Solo Jazz Society dan Jazz Ngisor Ringin Semarang misalnya. Mereka tampil pada tahun 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016 dan 2017. Gubuk Jazz Pekanbaru tampil di tahun 2011, 2012, 2013, 2015 dan 2016. Balikpapan Jazz Lovers mengisi Ngayogjazz pada tahun 2011, 2012, 2013 dan  2016.

Banyak komunitas jazz yang sudah menjadi bagian dari perhelatan ini. Ngayogjazz menjadi tempat mereka menempa diri untuk memiliki ketrampilan dan kemampuan bermusik yang lebih mumpuni. Sebagian dari mereka menjadi musisi yang serius, menonjol dan telah berkarir di musik. Sebutlah Aditya Ong yang dulunya bermain bersama Solo Jazz Society. Ong telah mengembara di dunia musik yang lebih lebar.

Everyday Band tampil di Ngayogjazz sebagai band komunitas pada tahun 2011 dan 2012. Di tahun 2013, mereka tak lagi menjadi band komunitas tapi sebagai band mandiri. Di tahun itu, mereka merilis album A Beautiful Day sehingga tak lagi bisa dikatakan band komunitas.Ada juga Tricotado, komunitas yang lahir dari Jazz Mben Senen, sebuah acara yang digelar setiap Senin di Bentara Budaya Yogyakarta. Tricotado sudah bermain di banyak panggung, tak hanya di Yogyakarta.

Ketiga contoh di atas menjadi bukti bahwa Ngayogjazz bisa menjadi ajang penempaan diri bagi musisi jazz yang tampil. Ibaratnya Ngayogjazz adalah orangtua yang memberi kesempatan pada anaknya untuk bisa hidup dan berkembang. Semua dikembalikan pada sang anak untuk bisa memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Ngayogjazz bisa dibilang menjadi kawah candradimuka yang memiliki definisi “tempat penggemblengan diri pribadi supaya kuat, terlatih, dan tangkas” (http://kbbi.web.id/candradimuka.html)

Komunitas jazz yang tampil di Ngayogjazz sejatinya menjadi daya tarik tersendiri dan mereka mewarnai festival ini. Mereka memainkan komposisi jazz standar yang diaransemen sendiri. Ketrampilan yang mereka pertontonkan tak jarang mengundang tepuk tangan. Mereka tak kalah menariknya dengan musisi yang sudah punya nama. “Menonton penampilan komunitas jazz adalah hal yang menarik. Jika hendak menonton Ngayogjazz seutuhnya, tontonlah mulai dari komunitas. Ngayogjazz tidak hanya sekedar hiburan tapi juga apresiasi.” Itulah pesan Aji Wartono, salah satu Board of Event Creative Ngayogjazz.

Bersiap-siaplah menyaksikan Ngayogjazz 2018 di desa Gilangharjo, Pandak, Bantul. Di sana akan bertebaran komunitas jazz se-nusantara. Ada komunitas jazz Jogja, Jogja Blues Forum, Gubuk Jazz Pekanbaru, Komunitas Jazz Lampung, Komunitas Jazz Pekalongan, Jes Udu Purwokerto, Jazz Ngisor Ringin Semarang, Komunitas Jazz Magelang, Solo Jazz Society, Komunitas Jazz Trenggalek, Komunitas Jazz Ponorogo, Komunitas Jazz Surabaya dan Mahakam Jazz River Samarinda. Festival jazz mana yang mendatangkan komunitas untuk bermain di acaranya? Tinggal Ngayogjazz saja yang masih menampilkan komunitas jazz. Se-Indonesia pula! So, ayo nonton komunitas jazz yang digodok di kawah candradimuka Ngayogjazz.

Yo ra, honn?

Tj Singo
Penonton setia Ngayogjazz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s