Ngayogjazz 2018 – Jazz Untuk Bangsa Yang Lebih Besar

Selalu saja ada yang berbeda dan baru ketika berada di Ngayogjazz, festival jazz ndeso ala Yogyakarta. Berlokasi di desa Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, di tahun ke-12 pelaksanaannya hari Sabtu, 17 November 2018, Ngayogjazz mengambil tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara”. Tema ini mengadopsi ungkapan (peribahasa) Jawa “Negara mawa tata, desa mawa cara”. Ungkapan asli diterjemahkan oleh Kris Budiman seorang akademisi, antropolog dan pemerhati budaya sebagai “negara memberikan atau membawakan tatanan bagi komunitas bangsa, yang membawa cara atau menjalani adalah desa di tingkat mikro.” Kris yang menyatakan bahwa tagline tahun ini sangat kontekstual dengan situasi sosial dan politik saat ini menerjemahkan Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara sebagai jazz memberikan jalan atau cara menjadi bagian dari bangsa yang lebih besar.

Ngayogjazz memiliki kesamaan dalam pelenggaraan yaitu selalu diadakan di desa atau bagian kecil dari kota yang jauh dari pusat keramaian populer. Ngayogjazz bak sebuah rombongan safari sirkus yang berada di sebuah caravan besar nomaden. Dari duabelas kali pelaksanaan, pagelaran ini hanya dilaksanakan di tempat yang sama dua kali yaitu di Desa Wisaya Brayut pada tahun 2012 dan 2014. Ngayogjazz tak pernah diadakan di gedung megah berpengatur suhu ruangan dengan lantai keramik. Ngayogjazz selalu diadakan di tempat luas beratapkan langit dan lantai yang langsung bersentuhan dengan tanah. Ketika hujan, maka terjadilah basah. Jika udara panas, hampir semua penonton mengayunkan kipas dan berkeringat.

Pola pelaksanaan yang sama sudah menjadi garis besar haluan Ngayogjazz alias AD/ART. Hampir seluruh penampil memainkan jazz. Kalaulah ada selingan, boleh saja karena itu untuk mengakomodasi kemauan orang banyak meskipun tak semua keinginan bisa ditampung karena sudah menjadi keputusan yang punya acara. Dari pola yang sama pastilah ada perbedaan dalam tiap pelaksanaan dan perbedaan yang terjadi setiap tahunnya selalu membuat Ngayogjazz jadi unik.

Pemilihan Desa Gilangharjo sebagai lokasi tak lepas dari banyak pertimbangan. Salah satunya adalah nilai histori desa ini terhadap berdirinya Keraton Mataram. Gilangharjo memiliki petilasan Selo Gilang, sebuah petilasan yang dipercaya sebagai lokasi tumurun wahyuning Mataram, yang diturunkan kepada Panembahan Senopati. Desa yang sehari-harinya tenang dan tertib, hari Sabtu yang lalu tiba-tiba menjadi ramai karena menjadi pesta tahunan jazz ndeso. Masyarakat menjadi penerima tamu yang baik. Dengan keramahan ala desa yang sebenarnya, mereka menyambut tamu yang datang.

Lepas tengah hari, hiruk pikuk suara ribuan manusia dan bunyi musik mulai membahana. Penduduk desa yang berjualan makanan dan segala macam dagangan mulai meningkat aktivitasnya. Beberapa panggung masih diisi musisi yang melakukan uji coba tata suara. Tahun ini, Ngayogjazz menyediakan tujuh panggung dengan satu panggung khusus mempertunjukkan kesenian lokal sejak awal sampai habisnya acara. Panggung Lurah menjadi tempat berkespresi kesenian kearifan lokal. Di sana ada Reog Anak Gilangharjo, pertunjukan tari dari SMP 4 Pandak, Gejog Lesung, sampai Sendratari Gilangharjo.

Panggung-panggung lain berisi musisi yang hendak ikut berpesta. Ada panggung Bayan, Carik, Jagabaya, Jagatirta, Kamituwa, dan Reriungan. Saat waktu menunjukkan pukul 14.00, panggung-panggung mulai menggeliat. Semua panggung diisi oleh musisi dari komunitas jazz yang mendapatkan banyak panggung untuk menunjukkan kemampuan mereka belajar dan bermain musik. Pemberian panggung pada komunitas jazz dari seantero nusantara ini berlangsung sampai sesi setelah jeda Isya.

Penampilan Rukun Warga yang merupakan komunitas jazz dari Yogya di panggung Jagatirta tidaklah mengecewakan. Namun mereka harus belajar untuk tidak bertele-tele dengan banyak ucapan di panggung saat memperkenalkan personil. Mrs Holdingsky yang merupakan komunitas jazz dari Ponorogo bermain di Panggung Bayan. Mereka menunjukkan permainan dan pengalaman bermusik di banyak panggung. Yang cukup mengganggu adalah peran Hendro Plered sebagai pembawa acara yang terlalu menonjolkan diri.

Di sesi berikutnya, Komunitas Jazz Trenggalek yang bermain di panggung Carik yang dipandu Diwa Hutomo dan Fira Sasmita. Dengan lima belas personil yang datang, mereka membagi permainan menjadi tiga group, COLL jazz, Magnifico dan We Must Not Be Named dimana beberapa personil yang sama bermain untuk COLL jazz dan Magnifico. Ini adalah penampilan kedua mereka di Ngayogjazz setelah tahun lalu di Kledokan mereka juga tampil dengan para personil muda belia, masih duduk di bangku sekolah SMP dan SMA.

Di panggung Jagabaya yang dipandu Alit Jabang Bayi dan Gepeng KK, tampil Jazz Mben Senen All Stars. Dengan pengalaman manggung seluruh personil, mereka memberikan sajian yang sangat renyah dengan harmonisasi vokal yang kompak dan sesekali diselipi gurauan ala Yogyakarta. Sebuah hiburan yang asik ditonton.

Seusai penampilan Jazz Mben Senen All Stars, acara Ngayogjazz dibuka secara resmi dengan menampilkan para pemain ketoprak dan pelawak Yogya. Ada Pur Bonsai yang berperan sebagai Si Buta Dari Gua Hantu, Srundeng yang berkostum Superman, Novi Kalur yang menjadi monyet serta Tejo Badut dan Den Baguse Ngarso yang memberi wejangan inti tentang sejarah Gilangharjo dengan bahasanya yang terdengar serius namun meletupkan kelucuan di luar perkiraan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para pelaku seni dan budaya di Yogyakarta ini tampil penuh lelucon ala Yogyakarta yang selalu menghibur, penuh spontanitas dan menghadirkan gelak tawa penonton.

Acara pembukaan Ngayogjazz tak pernah menghadirkan tokoh pemerintah atau pejabat seperti kebiasaan di negara ini saat meresmikan suatu acara. Namun, inilah pembeda Ngayogjazz dengan acara (kebudayaan) lainnya. Ngayogjazz punya cara tersendiri menyajikan acaranya. Ngayogjazz memberi ruang untuk seni, tradisi dan budaya lokal sebagai pengejawantahan local wisdom.

Setelah prosesi pembukaan, masih di panggung yang sama, Syaharani & Queenfireworks langsung membangkitkan penonton yang sudah menunggu penampilannya setelah terakhir tampil di Ngayogjazz tahun 2015 di Pandowoharjo. Syaharani yang ikonik memang “biang keributan”. Dia bisa membuat penonton berdendang dengan irama jazz nan rancak dan kemampuan komunikasi yang dia jalin dengan akrab dengan penonton. Syaharani memang “jango”! Syaharani menutup sore yang indah di Gilangharjo saat matahari mulai terbenam dan berganti dengan keremangan senja.

Setelah break Maghrib, dua group komunitas dan satu group hasil rekrutan kompetisi band beraksi. Magnitudo yang merupakan MLD Jazz Wanted 2018 dari Yogyakarta tampil di panggung Carik. Komunitas Jazz Lampung yang diwakili Happy Project dan Phyla beraksi di Jagabaya sementara Mahakam Jazz River Samarinda bermain di panggung Jagatirta.

Hujan tidak turun dan membuat udara di Gilangharjo terasa panas meskipun langit mulai gelap. Setelah jeda Isya, penampilan Kika Sprangers Quintet dari Belanda di panggung Kamituwa menawarkan keasikan tersendiri dengan permainan mereka yang kompak. Sambil menunggu persiapan penampil berikutnya, Pembawa acara Bambang Gundhul yang selalu lucu dengan letupan-letupan spontan setelah mendapat umpan dari Lusy Laksita berinteraksi dengan penonton sambil menunggu persiapan penampil berikutnya, Simak Dialog, dengan formasi Cucu Kurnia pada kendang Sunda, Rudy Zulkarnaen pada akustik bass, Mian Tiara pada vokal dan Sri Hanuraga pada piano. Sepeninggal almarhum Riza Arshad, group ini masih terus berlanjut dengan konsep West meets Southeast memadukan iringan kendang Sunda yang berpadu dengan irama jazz.

Menjelang malam, penonton tidak menyurut namun tambah memadati desa Gilangharjo yang udaranya bak di siang hari. Penampilan Purwanto & Kua Etnika di Jagabaya menambah panas suasana dengan tetabuhan alat musik tradisi dan permainan world jazz music. Sementara itu, di panggung Jagatirta yang dikawal Gundhi Ssos dan Anggrian Simbah sedang berlangsung permainan Ozma Quintet dari Perancis. Perpaduan musik jazz, elektronik dan rock yang ditampilkan kelima warga Perancis ini beberapa kali mendapat tepuk tangan dari penonton karena musik yang mereka mainkan membutuhkan kemampuan tingkat tinggi.

Tohpati Bertiga yang terdiri atas Tohpati, Indro Hardjodikoro dan Bowie menutup gelaran di panggung Jagatirta. Tohpati yang sudah bersama Indro selama 20 tahun sejak mereka bermain di group Halmahera tak usah diragukan kekompakannya. Wajah-wajah cool ketiga musisi saat tidak berada di atas panggung berubah menjadi garang saat mereka memainkan alat musiknya. Tohpati yang menanyakan judul komposisi pertama yang dibawakan bisa dijawab oleh penonton. Arena penonton penuh dan sulit mencari tempat yang nyaman menyaksikan mereka. Musik yang cenderung ngerock tetap menampilkan alunan ciri musik jazz. Bowie yang menggebuk drum menjaga rhythm dengan baik. Petikan gitar Tohpati yang biasanya terdengar romantis berubah menjadi sangat progresif. Indro sangat rapi menjaga tempo permainan trio ini.

Ngayogjazz 2018 malam itu ditutup oleh penampilan Idang Rasjidi And His Next Generation dengan menampilkan sang legenda hidup Margie Segers dan Tompi, penyanyi dengan berbagai talenta. Dengan musikalitas yang tak usah diragukan, Idang dan teman-teman menyuguhkan pertunjukan jazz sesungguhnya, penuh improvisasi dan spontanitas.

Idang menampilkan Margie Segers yang namanya lekat dengan lagu “Semua Bisa Bilang”, yang sayangnya malam itu tak dinyanyikan karena situasi yang berubah. Malam itu, Margie membawakan lagu “Give Me The Night” dari George Benson dan “Kesepian” ciptaan Ariyanto. Margie yang memiliki dasar penyanyi blues menunjukkan kelasnya membawakan kedua lagu. Pada lagu “Kesepian” yang ada di album Kesepian tahun 1981, sebagian besar penonton ikut bernyanyi.

Seusai Margie membawakan dua lagu, Idang memanggil Tompi untuk tampil. Tompi membawakan “Selalu Denganmu” yang merupakan hits dari album pertamanya T tahun 2005. Tompi pun tampil dengan penuh improvisasi dan membuat banyak penonton ikut bernyanyi. Dia melanjutkan dengan “Come Together” milik The Beatles. Penyanyi yang juga dokter ini membuat panggung semakin panas dan para musisi di atas panggung bermain dengan mengeluarkan semua kemampuannya.

Panggung yang dijadwalkan selesai pukul 23.30 molor sampai 45 menit karena Idang membuat para musisi berimprovisasi tanpa batas. Tak hanya musisi yang berada di sana, Idang pun kembali memanggil Margie untuk bergabung dan semakin meramaikan panggung Jagabaya. Improvisasi tanpa batas ini terus dikendalikan Idang dengan mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang terlibat di Ngayogjazz dan memanggil Djaduk Ferianto sang inisiator acara untuk ikut ke panggung. “Kegilaan” ini menjadi pertunjukan di Ngayogjazz paling spektakuler selama Ngayogjazz digelar. Mereka memainkan jazz tak hanya dengan ketrampilan dan kemampuan musikal tapi sudah melibatkan hati. Apa yang ditunjukkan Idang malam itu belum tentu terjadi di panggung festival jazz yang lain. Inilah pembeda Ngayogjazz dengan festival jazz lain maupun Ngayogjazz sebelumnya. Inilah keunikan Ngayogjazz tahun ini.

Idang beserta semua yang ada di panggung itu menjadi bintang  Dia tau benar tagline Ngayogjazz tahun ini, Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara. Jazz memberikan jalan atau cara menjadi bagian dari bangsa yang lebih besar.

 

Singo Tj
Penonton setia Ngayogjazz

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s