Dian Pramana Putra – Kau Seputih Melati

8 Oktober 2011. Ini adalah tanggal pertama kali saya berjumpa salah satu penyanyi Indonesia yang punya nama besar, Dian Pramana Putra alias Dian PP. Dian PP bersama pasangannya, pasangan berkarya, teman terbaiknya, teman hidupnya, Deddy Dhukun, melantunkan lagu-lagu hits mereka di acara di sebuah hotel berbintang lima yang secara reguler mementaskan band atau penyanyi hits tahun 80-an dan 90-an.

Acara itu tak mungkin saya lewatkan. Sebagai seorang pendengar musik sejak tahun 80-an, kedua nama itu sangat melekat. Mereka musisi yang tak hanya bernyanyi tapi juga berkarya. Lagu-lagu ciptaan mereka banyak yang menjadi hits baik yang mereka nyanyikan sendiri, berdua, trio, kumpulan atau dinyanyikan musisi lain. Dan, keinginan bertemu mereka tak lepas dari ritual yang biasa saya lakukan ketika bertemu musisi, meminta tanda tangan di karya mereka dalam bentuk kaset dan cakram padat.

Dian menunjukkan apresiasi ketika saya meminta tanda tangan di puluhan cover kaset karyanya yang saya miliki, Karyanya meliputi album solo, 2D, K3S, 7 Bintang dan beberapa kaset kompilasi. Pertemuan pertama ini menjadi jembatan buat saya dekat dengan mas Dian, begitu saya memanggilnya. Kami bertukar nomer telepon.

Malam hari saat mas Dian tampil bersama Deddy adalah pembuktian kharismanya. Saat membawakan lagu-lagunya yang hits, penonton tak henti-hentinya ikut bernyanyi. Dian yang tampil cool dan tak banyak tingkah memang punya daya pikat kuat khususnya bagi kaum wanita. Saya ingat dengan baik ketika mas Dian membawakan “Kau Seputih Melati” ciptaan almarhum Yockie Suryoprayogo hampir semua penonton mengeluarkan suaranya. Bahkan mereka mengekor setiap larik syair dengan suara “aha…aa…..” yang membuat mas Dian tak bisa menahan tawa menyaksikan kekompakan penonton tanpa komando dari siapapun.

Malam itu menjadi malam tak terlupakan buat saya yang pertama kali menyaksikan penampilan salah seorang raja hits ikon 80-an. Setelah pertemuan itu, sesekali kami bertegur sapa lewat aplikasi bicara BBM dan kemudian berlanjut ke Whatsapp. Mas Dian selalu membalas sapaan saya di aplikasi bicara. Adalah hal yang menyenangkan ketika interaksi dengan seorang figur publik yang saya kenali karyanya terbalaskan.

Pertemuan kedua kami terjadi lima tahun kemudian tepatnya saat mas Dian ikut tampil di konser Badai Pasti Berlalu Plus di Yogyakarta pada tanggal 6 November 2016. Sehari sebelum acara, seluruh pengisi acara sudah berada di Yogyakarta untuk konferensi pers. Saat bertemu di hotel, saya merasakan kerendahan hati dan keramahan mas Dian. Acara yang dikondisikan tidak formal ini membuat saya semakin mengenal mas Dian yang memiliki sense of humor tinggi. Tanpa sekat, kami bercerita dan banyak tertawa. Pembicaraannya tak ada lagi kesan jaim. Sudah seperti teman lama yang lama tak berjumpa.

Malamnya, kami berada di satu bis untuk makan malam bersama di Griya Sekar Aji, Cangkringan. Bersama almarhum Yockie Suryoprayogo, Keenan Nasution, Eros Djarot, Fryda Lucyana, Kadri Mohammad, Bonita, Pongki Barata, Andy /rif serta ketua “rombongan sirkus” Dion Momongan dan lain-lain, kami menuju restoran yang letaknya menuju ke Kaliurang. Interaksi di dalam bis semakin membuka bagaimana mas Dian sebenarnya. Suasana cair benar-benar terasa.

Penampilan mas Dian di acara itu yang mendapat sambutan luar biasa bisa dibaca di sini. Buat saya, konser malam itu sangat memiliki arti khusus karena mas Dian membawakan lagu yang mengantarnya ke popularitas yang lebih tinggi dengan membawakan lagu dan diiringi langsung oleh sang pencipta lagu, almarhum Yockie Suryoprayogo sementara konser itu sendiri merupakan pertemuan terakhir saya dengan mas Yockie sebelum beliau berpulang. Obituari mas Yockie bisa dibaca di sini.

Tahun ini, saya bisa bertemu lagi dengan mas Dian ketika beliau tampil bersama Fariz RM di resto Mezzanine dalam tajuk The Playmaker pada 27 Maret 2018. Acara yang digagas dan diorganisir oleh Lilo KLa Project ini juga dipadati pengunjung berusia paruh baya. Dalam setlist yang ditentukan, “Kau Seputih Melati” tak tercantum namun ketika mas Dian menantang penonton meminta lagu, dari pinggir panggung saya berteriak “Kau Seputih Melati’, lagu ini lalu menggema. Buat saya, lagu ini memang sangat lengket dengan nama Dian PP. Lagu yang diciptakan oleh almarhum Yockie Suryoprayogo sangat sederhana namun mendalam. Bercerita tentang sebuah pengorbanan tanpa peduli kesakitan yang dialami, sebuah persembahan untuk keindahan dan kenyamanan bagi orang lain.

Lilo sebagai penyelenggara acara malam itu menyatakan kepuasannya karena bisa menampilkan dua orang idolanya dalam satu panggung. Pertemuan malam itu berlanjut ke pengiriman foto-foto yang saya ambil malam itu. Pengiriman foto lewat aplikasi bicara yang mengurangi ukuran foto tak membuatnya puas. Beliau meminta foto-foto itu dikirim lewat surat elektronik agar ukurannya masih sama. Ternyata, foto-foto itu direkayasa olehnya menjadi lebih artistik dan menempelkan nama saya di foto itu. Mas Dian sangat mengapresiasi foto karya saya. Tapi, kenapa manggil saya ‘om’ ya?

Kami menjadi lebih akrab bahkan sempat berdiskusi tentang kemungkinan mas Dian bisa tampil lagi di Yogyakarta di sebuah event tahunan. Sayang kemungkinan itu menjadi nihil karena tak ada tindak lanjut dari panitia yang sudah coba saya hubungkan dengan mas Dian. Pertemuan ketiga dengan mas Dian ini tak saya bayangkan sebagai pertemuan terakhir. Beliau yang saya lihat segar bugar ternyata memiliki sakit. Keterkejutan ini saya alami ketika beberapa hari sebelumnya, seorang teman di Facebook memperbarui statusnya dan menyampaikan bahwa mas Dian sedang tergeletak sakit yang tidak ringan. Banyak teman berkomentar mendoakan kesembuhan mas Dian.

Sejak tersebarnya berita sakitnya mas Dian, saya langsung teringat lagunya bersama 2D di album Masih Ada (1989) yang berjudul “Sementara Berpisah” dengan tambahan suara Malyda. Lagu yang popularitasnya tak setinggi “Masih Ada” yang dinyanyikan 2D, “Biru” dibawakan oleh Vina Panduwinata atau Dian PP, “Melayang” dan “Aku Ini Punya Siapa” yang ada di album almarhum January Christy atau “Kuingin Kau Ada” yang dibawakan Trie Utami di album 7 Bintang Jalan Masih Panjang buat saya sebenarnya kurang sedap didengarkan karena bertema perpisahan seolah sebuah firasat buat saya akan perpisahan abadi dengan mas Dian. Namun, tak ada yang tak mungkin bagi Allah Sang Pencipta. Saya tetap berharap ada kesembuhan untuk mas Dian. Nyatanya, mas Dian berpulang kepada Sang Khalik pada hari Kamis, 27 Desember 2018 malam. Berita kematiannya telah menyebar. Maka, lagu yang tadinya hanya terngiang di benak, kini terlafalkan sebagai nyanyian pengiring kepergiannya….

Waktu jua
Akhirnya kini turut bicara
Dan kita harus berpisah dulu
Sementara

Maafkanlah
Terima kasih ucap dariku
Atas segalah yang t’lah terjadi
Hari ini

Tinggalkan kenangan di hati
Esok jumpa lagi di sini
Dengan senyum manis
Di antara kita
Satu lagi yang aku harapkan

Seandainya engkau jauh dariku
Jangan sampai, nanti
Engkau lupakan
Diriku…..

Seandainya….
Suatu saat engkau rindu
Padaku
Pintu hati ini s’lalu terbuka
Untukmu kawan
Aku ingin kau bahagia….

Aku ingin kau bahagia….

Selamat jalan menuju ke keabadian mas Dian Pramana Putra. Bernyanyilah dengan diiringi dentingan piano mas Yockie sebuah lagu yang membuat popularitasmu meninggi. Titip salam buat mas Yockie. Aku menangisi kepergianmu karena mas Dian dan mas Yockie adalah Melati untuk musik Indonesia;  Kau tumbuh diantara belukar berduri, Seakan tak peduli lagi, Meski dalam hidupmu kau hanya memberi, Kau tebar harum sebagai tanda, Cinta yang tlah kau hayati, Di sepanjang waktu

Kau bunga di tamanku
Di lubuk hati ini
Mekar dan kian mewangi
Melati pujaan hati

Bersemilah sepanjang hari
Mewarnai hidupku
Agar dapat kusadari
Artimu bagiku

Kau melati .. putih nan bersih
Kau tumbuh diantara belukar berduri
Seakan tak peduli lagi
Meski dalam hidupmu kau hanya memberi
Kau tebar harum sebagai tanda
Cinta yang tlah kau hayati
Di sepanjang waktu

Tj Singo

2 thoughts on “Dian Pramana Putra – Kau Seputih Melati

  1. Wah, Mas Singo punya banyak certia dengan almarhum rupanya.
    Saya pribadi terakhir menyaksikan penampilan beliau di Desember 2017 di Tangsel Jazz Festival.
    Semoga beliau berbahagia disisiNYA.

    Salam dari saya di Sukabumi,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s