Kuaetnika – Sesaji Nagari

“Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” – John F Kennedy

Kutipan di atas dicetuskan oleh Presiden John F Kennedy pada upacara pelantikannya sebagai Presiden Amerika Serikat ke-35 di tahun 1961. Kalimat tersebut menjadi kontekstual diterapkan saat ada warga negara “menggugat” pemerintah yang dirasakan tak memberi apa-apa. Pemerintah yang sudah melakukan banyak hal untuk mengangkat kehidupan rakyat masih dirasa kurang sehingga yang terjadi adalah tuntutan. Idealnya, seperti kutipan di atas, rakyat bisa melakukan sesuatu untuk negara.

Inilah yang hendak disampaikan Kuaetnika sebagai warga negara lewat karya seni, khususnya seni musik. Kelompok musik yang suka menyebut dirinya sebagai “cah ndeso” atau “wong mBantul” memilih berkarya dan menyuarakan bagaimana semestinya warga negara berkontribusi pada negara – apa yang bisa kamu berikan untuk negara.

Setelah album-album Nang Ning Nong Orkes Sumpek (1997), Ritus Swara (2000), Unen-unen (2001), Many Skien One Rhythm (2002), Pata Java (2003), Vertigong (2008) dan Nusa Swara (2010), album ke delapan yang dirilis tahun 2018 dari kelompok yang memainkan musik tradisi(onal) yang digabungkan dengan genre jazz atau bahasa kerennya world music ini diberi tajuk Sesaji Nagari yang secara semantik berarti persembahan untuk negara. Persembahan apakah yang diberikan untuk negara oleh kelompok musik yang para personilnya setia, tak sering berganti anggota? Di bawah komandan Djaduk Ferianto, anak bungsu maestro tari dan lukis almarhum Bagong Kussudiardja, kelompok ini cukup tanggap atas situasi politik yang akhir-akhir ini cenderung memanas dan mengancam persatuan berbangsa dan bernegara.

Lewat ketrampilan musikal yang mereka miliki, mereka mengemas lagu-lagu daerah dengan interpretasi ala Kuaetnika. Lagu-lagu daerah yang merupakan aset daerah maupun negara adalah sebuah kekuatan etnik nan unik yang bisa mempersatukan negara  Indonesia yang multi etnis dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.  Dari sepuluh lagu yang ada di album, ada tujuh lagu daerah yang tak sering diinterpretasi ulang di album-album penyanyi atau group yang ada di Indonesia.

Interpretasi ketujuh lagu tersebut menjadi menarik didengarkan karena memadukan orisinalitas dan sentuhan musik Kuaetnika yang di album ini berkompromi dengan pendengar musik Indonesia yang lebih banyak menyukai musik-musik yang tidak ruwet alias easy listening sementara album-album Kuaetnika sebelumnya cenderung lebih berat didengarkan karena unsur jazz yang lebih kental sehingga karya Kuaetnika memiliki – istilah dalam dunia pemasaran – segmented market yang secara kuantitas berangka kecil.

Lagu Doni Dole dari Sulawesi Tengah, Lalan Balek dari Bengkulu, Made Cenik dari Bali, Batanghari dari Jambi, Sigule Pong dari Batak, Ulan Andung-andung dari Banyuwangi dan Kadal Nongak dari NTB sangatlah ringan didengarkan dengan aransemen dengan unsur tradisi ala Kuaetnika dan sedikit sentuhan jazz yang kali ini kompromistis pada tiap komposisi dan tak mengernyitkan dahi atau membuat keriting telinga. Lagu-lagu tersebut terasa dinamis dan ngepop. Lagu Ulan Andung-andung yang mendayu-dayu pada awalnya dengan sedikit sentuhan blues pada gitar yang dimainkan sangatlah menarik didengarkan. Lagu rakyat suku Using yang masif terdengar di kabupaten Banyuwangi mengalami pembaruan di album ini.

Tiga lagu baru di album ini semuanya diciptakan oleh Djaduk. Mereka adalah Sesaji Nagari, Anak Khatulistiwa dan Air Kehidupan. Benang merah dari ketiga lagu tersebut adalah kecintaan pada tanah air. Djaduk sebagai pencipta lagu sedang prihatin pada kondisi politik sosial negara sehingga dia ingin menggugah kita semua untuk mau mempersembahkan sesuatu untuk negara. Lewat Anak Khatulistiwa, sang pencipta lagu mengajak untuk mensyukuri anugrah alam yang diberikan untuk bangsa ini dan selalu optimis di bawah naungan Pancasila. Air Kehidupan adalah ajakan untuk sebuah perubahan.

Sesaji Nagari adalah sebuah simpul dari aset yang dimiliki bangsa ini berupa keunikan etnis dan optimisme atas apa yang bisa dieksplorasi di negeri ini untuk sebuah perubahan, untuk kebaikan bangsa ini. Sesaji Nagari adalah sebuah bentuk kontribusi dari Djaduk Ferianto, Purwanto, Sukoco, Indra Gunawan, Agus Wahyudi, Dhanny Eriawan Wibowo, Benny Fuad Herawan, Arie Senjayanto, Wibowo, Sony Suprapto, I Nyoman Cau Arsana, I Kadek Dwi Santika, Silir Pujiwati dan Anita Siswanto yang tergabung dalam Kuaetnika dalam merespon “Jangan bertanya apa yang negara bisa berikan untukmu tetapi bertanyalah apa yang bisa kamu berikan untuk negara”

 
 
Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s