Di Balik Panggung Jikustik Reunian

Waktu beranjak mendekati pukul 23.00. Beberapa orang yang bertugas di FOH (Front of House) pada pagelaran Jikustik Reunian di Grand Pacific Hall, Yogyakarta masih serius menjalankan tugasnya mengatur agar gelaran ini sesuai naskah yang direncanakan dan tetap berjalan baik dan sempurna. Masing-masing masih berada di peralatan kendali tata suara dan segala hal yang mendukung kesempurnaan acara ini.

Di belakang para pengendali alat terdapat orang-orang jajaran atas Rajawali Indonesia, promotor yang mengadakan acara ini. Ada Bakkar Wibowo sang project director, Agus Noor dan Asthie Wendra sebagai show director dan tak ketinggalan Anas Alimi sang CEO Rajawali Indonesia. Sambil terus mengamati pertunjukan di panggung, Anas ikut menyenandungkan lagu-lagu yang ditampilkan Jikustik formasi awal berkarir di blantika musik Indonesia. Dia hafal lirik lagu-lagu yang tersaji. Sebuah bukti bahwa dia bukan sekedar promotor yang membuat acara demi mereguk keuntungan finansial belaka tapi dia juga pecinta Jikustik.

Begitu lagu “Akhiri Ini Dengan Indah” hampir selesai, Anas bersalaman dan berpelukan dengan para pekerja dan pengendali acara itu. Sebuah tanda acara ini berlangsung sukses dan membuatnya bahagia. Saya ikut bersalaman dan memeluknya sambil terharu karena bisa menyaksikan kelima orang yang tergabung dalam band idola saya ini akhirnya bisa memberikan penampilan terbaiknya malam itu. Seusai memeluk Anas, saya sedikit mundur. Dalam keharuan dan kebahagiaan, saya mencoba menahan air mata yang hampir tumpah.

Jikustik yang menjadi idola saya dengan formasi awal itu hanya dua kali saya saksikan. Pertama di tahun 2006 saat ada acara pengumpulan dana untuk korban gempa bumi di Yogyakarta yang dilangsungkan di (almarhum) Java Café. Yang kedua di tahun 2007 ketika terjadi tren stasiun televisi swasta mengadakan pertunjukan gratisan di lapangan besar sebagai penunjang acara musik on air. Praktis setelah Pongki mundur dari Jikustik, saya hanya menyaksikan mereka dengan formasi baru. Dan Jikustik Reunian menjadi yang ketiga kali buat saya menyaksikan Adhit, Dadik, Carlo, Icha, dan Pongki di satu panggung. Ini menjadi peristiwa yang tak mungkin saya lewatkan dan lupakan.

Tren bersatunya kembali band-band yang personilnya memisahkan diri baik dengan alasan vakum atau berpisah memang belum selesai bergulir sampai saat ini. Ada Krakatau Reunion, Padi Reborn, Base Jam Reunion dan lain-lain. Upaya mempersatukan mereka menjadi tontonan pelepas rindu masa kejayaan mereka bukanlah hal gampang. Konsolidasi butuh waktu panjang. Kesibukan masing-masing adalah sebuah alasan. Belum lagi jika terjadi disharmoni dan tak adanya komunikasi lancar antar personil band. Yang terakhir disebut inilah yang terjadi pada Jikustik.

Bukanlah masalah gampang untuk bisa membujuk mereka berkumpul kembali karena faktor non teknis yang terjadi. Menyatukan kelima personil yang memiliki ego dan kekeuh mempertahankan prinsip masing-masing bak mencari jarum di tumpukan jerami. Bahwasanya bujukan fans sudah merindukan kehadiran mereka tak bisa membuat mereka luluh walaupun Jikustik terkenal dekat dengan Jikustikan. Dan sebagai sebuah band yang menorehkan catatan emas di dunia musik Indonesia, Jikustik sangatlah pantas dihadirkan kembali ke pentas pertunjukan.

Banyak yang mencoba menghadirkan Jikustik ke panggung namun tawaran-tawaran itu tak pernah jadi nyata. Anas sendiri telah mencoba di tahun 2016. Komunikasi sudah dibangun sejak tiga tahun lalu namun tak langsung membuahkan hasil. Jalan terjal harus dilalui. Namun, Anas tak menyerah. “Saya suka tantangan,” begitu katanya ketika saya bagaimana Rajawali akhirnya berhasil membuat acara Jikustik Reunian yang butuh waktu tak pendek untuk merealisasikannya.

“Jikustik bisa menjadi manuscript musik Indonesia. Perlu ada momentum yang bisa jadi monumen. Monumen bersatunya mereka dalam satu panggung dengan lagu-lagu yang menjadi hasil karya mereka,” lanjut Anas tentang ambisinya untuk menghadirkan Jikustik. Jalan terjal ini dilalui Anas setelah di tahun 2016 kurang mendapat tanggapan. Dia mencoba lagi di tahun berikutnya. Masih juga tak ada respon. Namun di tahun 2018, ada perubahan yang terjadi. Tanggapan Jikustik, Pongki dan Icha lebih positif. Tanggapan positif ini tentu menggembirakan Anas. Dia bahkan trenyuh melihat Jikustik, Pongki dan Icha menyatakan kerinduannya untuk kembali bersama di panggung.

Anas yang selalu melakukan pekerjaan atas dasar kesungguhan, rasa senang dan dengan hati merasa harus mewujudkan mimpinya menghadirkan Jikustik karena band ini adalah soundtrack hidupnya. Lagu-lagu mereka menemani dan mewarnai hidupnya semasa kuliah. Anas memiliki emotional binding dengan Jikustik. Dan Jikustik adalah identitas Yogyakarta. Di situ pula Anas semakin yakin bahwa pementasan Jikustik di Yogyakarta adalah sebuah keharusan karena Anas memiliki visi menggerakkan Yogyakarta dan memberi kontribusi positif untuk kota ini. Dan apa yang diinginkan Anas terbukti pada pelaksanaan acara Jikustik Reunian. Terbayarlah segala impian yang melibatkan emosinya.

Acara ini sukses digelar. Tempat duduk yang tersedia hampir penuh. Semua yang hadir ikut bergembira malam itu. Bakkar, sang project director, memberikan kesan dan pendapatnya: “Apik. Reunian yang menarik. Memberikan banyak pesan kepada penggemar Jikustik. Terutama penggemar Jikustik lama. Soal bahwa merekatkan kembali sebuah relasi yang sempat hilang selama sepuluh tahun melalui sebuah panggung pertunjukan, menunjukkan semangat mereka untuk rekonsiliasi dalam satu momentum pertunjukan itu melegakan untuk para personil Jikustik dan penggemar Jikustik lama mereka. Malam yang fantastik”

Bagi Asthie Wendra yang sudah malang melintang di dunia pertunjukan panggung musik Indonesia, Jikustik adalah sebuah band yang telah mengisi sejarah musik Indonesia dan layak “untuk dikenang”. Memang sudah saatnya mereka kembali ke panggung. Sebagai salah satu konser yang melibatkannya, ini adalah salah satu konser yang takkan pernah bisa dia lupakan. “Konser ini bikin hati campur aduk. Lagu-lagunya bikin mewek tapi terus langsung ganti jadi ngakak di setiap speech moment,” katanya.

Bagi personil Jikustik formasi awal, Jikustik Reunian sungguh mengaduk emosi mereka. Mereka sepakat ada rasa haru, bahagia dan juga puas bisa kembali bersama di satu panggung sebagaimana mereka lakukan dahulu. Bagi Adhit, secara mental ini adalah pentas terberat dalam hidupnya. Namun semua terbayar dengan bahagia di akhir. Kejadian ini merupakan fase yang memang harus dilalui, dan dia bersyukur sudah melewatinya. “Konser ini adalah harmoni yang sangat indah seperti passing notes untuk menuju chord yang indah,” ujarnya. Keharuan yang dirasakan Adhit terjadi karena dia bisa konser lagi dengan teman-teman lama. “Teringat seperti itu rasanya waktu dulu.. then we become old, break up, terus bermusik lagi dengan semua kekurangan kita dan membuat penonton bisa merasakan emosi kita.”

Carlo adalah personil Jikustik yang paling emosional dengan konser ini. “Jujur saya pas latihan ada satu lagu membuat saya mbrebes mili. Tapi saya jaim, mosok drummer nangis,” katanya bergurau. Drummer yang setia kawan ini malam itu menabuh drumnya sambil melawan flu yang melanda dirinya. “Terima kasih semuanya. Maaf saya sedang flu. Kita bisa bertemu di sini. Pongki dari Bali dan Icha dari Kalimantan datang ke sini. Semoga ini membawa kebaikan bagi kita semua dan banyak hikmat yang dapat diambil dari rekonsiliasi ini,” katanya di atas panggung. Bahkan setelah konser, Carlo masih terharu melihat banyak unggahan foto dan video di sosial media. “Setiap melihat postingan-postingan itu juga masih pengen nangis rasanya, pak,” begitu katanya pada saya. Mosok drummer nangis, Lo? Hahaha ……

Bagi Dadik, selain mengalami perasaan yang sama dengan yang lain, dia juga memuji faktor teknis. “Tim produksinya hebat, sehingga hiruk pikuk perasaan yang kami alami bisa direspon dengan sangat baik oleh audio dan visual kreatifnya. Didukung penonton yang mengikuti Jikustik sejak lama, semua saling melengkapi dan menjadikan konser Jikustik Reunian ini jadi sempurna.” Secara khusus Dadik memberikan apresiasi kepada Anas yang berjuang sangat serius untuk membuat konser reuni ini menjadi nyata.

Icha yang malam itu sempat dijadikan bahan gurauan di panggung karena lupa lirik saat menyanyikan “Menggapaimu” juga ikut merasakan haru atas sambutan penonton terutama Jikustikan yang setia mengikuti karir mereka sejak awal. “Energi saya ada di band ini. Kita dulu punya proyek masing-masing dan disukai orang tapi ketika berada di Jikustik, proyeknya lebih sukses daripada saat saya bersolo. Saya bergabung dengan Jikustik karena Carlo. Saya lihat dia main dan drummer ini mainnya bagus banget. Itu saja dari saya daripada saya mbrebes mili kalau dilanjutkan,” kata Icha.

Pongki bersedia menerima tawaran konser ini dari Anas karena dia melihat konser ini punya konsep yang bagus dan matang. Dia menolak beberapa tawaran konser reuni seperti ini karena alasan konsep yang baginya tak menarik. Rasa bahagia karena bisa bersama lagi dengan teman-teman lama juga diungkapkan Pongki: “Saya senang bisa ketemu dengan teman-teman semua dan Jikustikan, menuntaskan rasa rindu dari mereka yang sudah kangen dengan formasi lama. Saya harap juga mereka yang pulang dari nonton konser itu bisa paling tidak merasakan kebahagiaan seperti yang kami rasakan.”

Konser telah usai, tapi vibe itu masih terasa. Beberapa Jikustikan masih mengunggah gambar dan video konser Jikustik Reunian di akun sosial media mereka beberapa hari setelahnya. Pembahasan belum selesai. Tanda-tanda masih belum bisa move on. Mau sampai kapan? “Seribu Tahun Lamanya” atau sampai “Samudra Mengering”? Entahlah. Yang jelas, Jikustik yang malam itu melakukan rekonsiliasi – perbuatan memulihkan hubungan persahabatan ke keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan (menurut KBBI) – menutup konsernya dengan “Akhiri Ini Dengan Indah” dan memang layak “Untuk Dikenang”.

ketika selamanya pun harus berakhir
akhirilah ini dengan indah
kau harus relakan setiap kepingan
waktu dan kenangan
ketika pelukanku pun tak lagi bisa
menenangkan hatimu yang sedih
aku memilih ‘tuk mengakhiri ini dengan indah

Sebagai penutup

tulisan dariku ini
mencoba mengabadikan
mungkin akan kau lupakan
atau untuk dikenang

 

Tj Singo
Pengagum Jikustik

One thought on “Di Balik Panggung Jikustik Reunian

  1. Bener bener keren…ada lagi pasti mau banget
    semua pas pada porsinya,emosinya bener bener dapet sampe saya juga brebes mili
    betapa kerennya live mereka lebih keren dr mp3nya
    bener bener….
    harapan kita tak selalu jd kenyataan, tpi setidaknya dengan perpisahan ini kita jadi tau bahwa the best ever itu adalah kita
    tapi live must go on bukan?…
    apapun adanya Jikustik…saya tetap mendukung dan akan selalu SETIA
    formasi lama adalah kerinduan dan harapan saya sebagai fans
    namun dengan formasi baru pun..saya akan tetap disini untuk SETIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s