Jikustik Reunian – Sebuah Reuni Sesungguhnya

Grand Pacific Hall, Yogyakarta, 29 Maret 2019.

Sepuluh menit setelah pembawa acara Anang Batas dan Awang Adjiewasita membuka dan mengawali acara malam itu dengan introduksi berupa biografi singkat group yang menjadi bintang malam itu dengan canda dan plesetan yang sangat akrab dengan Yogyakarta, waktu beranjak ke sepuluh menit menuju pukul sembilan malam. Suasana gedung yang gelap gulita disertai suara-suara personil Jikustik formasi awal memasuki dunia industri musik Indonesia terputar. Suara Adhi Nurdin (Dadik), Adhitya Bagaskara (Adhit), Aji Mirza Hakim (Icha), Carolus Liberianto (Carlo) dan Pongki Barata (Pongki) terdengar memberikan pendapat tentang lagu “Maaf” disertai tulisan yang terpampang pada putaran rekaman video.

Saat nada-nada pertama lagu yang melambungkan nama Jikustik ke blantika musik Indonesia terdengar, suara penonton di dalam gedung langsung bergemuruh. Mereka tahu itu adalah lagu yang telah membuat mereka jatuh cinta pada band asal Yogyakarta yang terlahir di tahun 1996. Suara gemuruh bercampur jeritan histeris adalah kerinduan akan kehadiran mereka kembali. Jikustik malam itu adalah Jikustik Reunian. Mereka membuka konser megah yang menguras emosi dengan lagu yang menjadi masterpiece dan identitas mereka, “Maaf”. Panggung yang tadinya hitam kelam kemudian sekejap berubah menjadi terang benderang seolah adalah gambaran perjalanan panjang mereka dari cah Yogya yang belum punya nama sampai menjadi sebuah karir dan karya yang menjadi lentera jalan hidup mereka dan dunia musik Indonesia.

Peran Pongki sebagai front man sangat jelas. Kemampuannya menguasai panggung dan penonton dengan kata-kata yang terangkai dan menyihir sebagaimana lirik-lirik lagu yang diciptakannya untuk band ini terejahwanta saat dia membuka komunikasi dengan penonton selepas membawakan lagu pembuka. Setelah lagu pertama yang ada di album Seribu Tahun rilisan tahun 2000, Jikustik Reunian melanjutkan perjalanan panjang malam itu dengan “Aku Datang Untukmu” dari album Kumpulan Terbaik (2005). Lagu yang di album tersebut dibawakan berduet dengan Lea Simanjuntak, pada konser ini dibawakan bersama Icha.

Pongki yang terus menata emosi penonton menggiring mereka dengan membawakan “Tak Ada Yang Abadi” dari album kedua Jikustik, Perjalanan Panjang (2002). Lirik lagu yang sempat menjadi perdebatan pada proses kreatifnya membuat suara penonton semakin tak bisa dibendung menjadi lautan nyanyi bersama. Emosi penonton yang terus diaduk menjadi semakin larut dengan lagu “Untuk Dikenang” dari album Sepanjang Musim (2003). Lagu yang pernah diinterpretasi ulang dengan apik oleh Endah N Rhesa di tahun 2014 adalah salah satu hits Jikustik dari album ini.

Tak hanya dengan ucapan-ucapan normatif di panggung pada umumnya, Pongki juga melemparkan gurauan yang tak jarang membuat penonton terbahak. Sebelum lagu “Seribu Tahun Lamanya” dibawakan, dia menyebutkan nama Tulus yang hendak membawakan lagu ini. “Seribu Tahun Lamanya” dari album pertama mereka memang pernah dibawakan Tulus di album Pongki Meets The Stars, album yang sama dengan Endah N Rhesa membawakan “Untuk Dikenang”.

“Meninggalkanmu” dari album yang sama dengan lagu “Tak Ada Yang Abadi” menjadi lagu keenam yang dibawakan pada malam yang tak hanya ajang pamer karya-karya indah Jikustik tapi juga membawa dan mengulang sentimen romantisme masa lalu. Setelahnya, mereka membawakan “Saat Kau Tak Disini” (SKTD) dari album pertama. “SKTD” adalah lagu yang diciptakan oleh Pongki dan Wiwik, teman kuliah Pongki. Hubungan pertemanan yang spesial dengan Wiwik diabadikan oleh Pongki pada lagu “Satu Hari Sebelum Dirimu Pergi” saat Wiwik “melepaskan hidup” karena sakit. “SKTD” merupakan lagu yang memberi ruang pada Icha sebagai vokalis lain Jikustik dan menjadikan band ini unik karena memiliki dua vokalis. Penampilan Icha pada lagu sentimentil dan romantis ini mengobati kerinduan berat para pemujanya.

Emosi penonton terus terbangun mengikuti alur yang dirancang. Perasaan suka, haru dan bahagia atas tampilnya kelima pria ini berlanjut pada lagu “Pandangi Langit Malam Ini” dari album kedua yang menciptakan banyak hits. Lagu ini termasuk lagu yang sering diputar di berbagai tempat dengan video clip di kanal YouTube Jikustik sudah ditonton sebanyak hampir mendekati angka dua juta. Kemudian, Jikustik Reunian melanjutkan penampilannya dengan lagu bertempo sedang ”Kau Menghilang” dari album pertama mereka. Penonton yang terus asik bernyanyi tanpa henti kemudian terdiam dengan perubahan tatanan panggung yang menjadi gelap dan menyisakan Adhit, Dadik dan Icha di atas panggung.

Bertiga mereka membawakan ”Tak Pantas Untukmu” secara akustik dari album ketiga, Sepanjang Musim (2003). Di album tersebut, lagu ini memiliki dua versi, versi band dan akustik. Versi akustik yang mereka bawakan di panggung menimbulkan kesan sedih dan alur yang terbangun romantis ini berlanjut ke lagu ”Samudra Mengering” masih dari album yang sama dimana Pongki telah berdiri di tengah panggung masih dengan tata cahaya yang minimal namun terfokus pada dirinya dan saat itu perjalanan konser ini sudah lebih dari enam puluh menit.

Perjalanan panjang Jikustik Reunian telah berjalan separuh dari keseluruhan konser malam itu. Lalu dari arah penonton, muncullah Brian Prasetyoadi membawakan ”Tetap Percaya” dari album Malam (2008), album terakhir Pongki bersama Jikustik. Lagu ciptaan Dadik yang diakui Pongki memiliki lirik yang indah membuat penonton larut. Bahkan beberapa penonton tertangkap berkaca-kaca saat mendengar lantunan suara Brian yang memiliki teknik yang bagus yang ditunjukkannya dengan bernyanyi tanpa mikropon pada bagian akhir lagu ini. Suaranya menggema memenuhi ruangan tanpa bantuan pengeras suara. Brian dan Pongki berangkulan di atas panggung. Pelukan hangat antara sang pendahulu dan sang pengganti mendapatkan apresiasi dari yang hadir di gedung itu.

Dilengkapi dengan video mapping yang menggambarkan suasana pulang ke rumah, Pongki melanjutkan dengan melantunkan ”Setia” dari album Seribu Tahun Repackage (2001). Lagu ini membuat Jikustik semakin terkenal dan menancapkan kakinya serta menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia. Selepas lagu ini, suasana menjadi sangat cair dengan lelucon-lelucon yang muncul di atas panggung dari para personil Jikustik. Mereka bercanda sebagaimana mereka lakukan di kehidupan keseharian mereka saat mengantar Icha membawakan ”Menggapaimu” dari album kedua Jikustik. Kejadian Icha yang sempat lupa lirik pada lagu ini tersamarkan dengan canda yang terjadi di panggung seolah kejadian ini merupakan bagian dari aksi panggung.

Suasana yang terbangun sangat kondusif berlanjut pada lagu ”Bahagia Melihatmu Dengannya” dan disusul dengan ”Kawan Aku Pulang” dari album Pagi (2004). Lagu ”Kawan Aku Pulang” seolah menjadi gambaran nyata pada apa yang terjadi pada Jikustik dengan gelaran ini dimana Pongki dan Icha yang terbang akhirnya pulang juga seperti pada lirik lagu:

Ingatkah janjiku kawan?
Bila nanti ku terbang
Takkan ku melupakan jalan pulang
Sebuah bangku halaman
Kita jadikan teman
Di situ kita mengukir
Tawa dan kepedihan

Meski aku tak lagi di situ
Tolong ingat-ingatlah aku
Demi senja dan secangkir teh hangat
Kusempatkan berkunjung pulang
Kawan, aku pulang

Lautan koor bersama para penonton terus berlanjut. Seolah tak merasakan lamanya berada di gedung pertunjukan, energi mereka tak habis dan terus bersuara lantang saat ”Dia Harus Tahu” dilantunkan. Lagu ciptaan Icha yang ada di album Malam membuat mereka terus bergoyang bersama lagu yang memiliki tempo cepat ini. Dan baru usai mereka berdendang, emosi penonton kembali mereda saat Pongki menceritakan tentang lagu yang diciptakan Dadik dan baru masuk ke album pada detik-detik akhir sebagai gacoan pada album Siang (2006). Saat Pongki menyebutkan lagu yang tak pernah lagi dibawakannya setelah dia meninggalkan Jikustik dan malam itu dibawakannya lagi dan intro menyeruak, penonton langsung menyambutnya dengan histeris. ”Puisi” yang merupakan identitas Jikustik yang lain kembali menjadi lautan paduan suara penonton.

Lagu “Selamat Malam” dari album Malam yang riang dibantu video mapping bola kristal tersaji, mengajak penonton berdendang bak arena disco. Lagu yang disiapkan sebagai penutup membuat penonton larut dalam pesta malam itu. Saat lagu usai, panggung kembali gelap namun penonton malas beranjak. Teriakan “we want more, we want more” terus berkumandang dan membuat Jikustik kembali ke panggung untuk memuaskan dahaga penonton dan membuat mereka yang telah menunggu penantian selama sepuluh tahun bahagia menyaksikan sebuah band Yogyakarta yang ikut menghiasi dunia musik Indonesia. “Akhiri Ini Dengan Indah” dari album kedua berkumandang dan penonton masih setia memenuhi ruangan yang terisi paduan suara massal.

Tajuk Jikustik Reunian malam itu benar-benar menjadi ajang reuni sesungguhnya bagi para personil maupun fans Jikustik yang disebut Jikustikan dan seluruh yang hadir di gedung. Sekelompok Jikustikan yang kompak membuat dan menggunakan seragam kaos dengan artwork publikasi acara ini dengan setia menunggu acara ini dan berdiri di barisan depan kelas festival. Mereka yang sejak awal mengikuti perjalanan Jikustik tak terbendung bernyanyi sepanjang pertunjukan.

Di panggung, suasana yang dibangun oleh para personil begitu akrab. Konser yang merupakan rekonsiliasi antar personil setelah Pongki mengundurkan diri dan tak berkomunikasi dengan personil tersisa selama hampir satu dasawarsa semua terceritakan di panggung. Komunikasi di panggung menjadi sebuah percakapan yang terjadi sangat natural dengan saling ejek dan penuh canda sebagaimana mereka dahulu lakukan. Cerita-cerita di balik panggung yang jarang terungkap ke publik, malam itu mereka sampaikan. Gurauan faktual seperti Pongki dan Icha yang tak lagi menjadi anggota Jikustik atau saling berteman di sosial media antar mereka mengundang tawa penonton. Gojek kere yang tak ada di naskah semuanya tersaji menjadi bumbu sedap penampilan mereka.

Menurut Anas Alimi. CEO Rajawali Indonesia sebagai promotor acara ini, tiket sebanyak 2600 dari 3200 yang telah terjual sehari sebelum pelaksanaan menjadi tolok ukur bagaimana penampilan Jikustik memang dirindukan banyak orang dan mendapatkan respon yang sangat bagus. Konser ini juga disaksikan Adi Riyanto, Rudi Wibowo dan Andika Prabhangkara yang merupakan orang yang memberi jalan bagi Jikustik masuk dunia rekaman.

Beberapa orang dari komunitas Alamanda yang merupakan tempat Jikustik bermula juga menyaksikan pagelaran ini. Suasana reuni juga terjadi setelah panggung usai. Teman-teman lama Jikustik dari Alamanda telah menunggu. Terjadilah gurauan jaman mereka pernah bersama. Para Jikustikan garis keras yang datang dari berbagai kota pun melakukan hal yang sama. Mereka yang datang dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Bandung dengan setia menunggu sampai para personil hendak pulang dari tempat pertunjukan untuk bisa berfoto dan melepaskan rindu pada mereka.

Esensi reuni pada Jikustik Reunian benar-benar tercipta. Panggung yang menyajikan personil Jikustik formasi awal di dunia industri menunjukkan sebuah penyatuan kembali kelima jagoan dan tak ada lagi rasa canggung antara mereka. Banyak cerita lama tersaji sebagaimana sebuah reuni. Mereka memuaskan dahaga pecinta Jikustik dan menyatukan penonton dengan lagu-lagu yang mengisi ruang hidup mereka kala itu.

Lagu ”Maaf” yang memulai konser seolah menjadi sebuah cerita permintaan maaf atas hubungan yang terputus selama ini. Rangkaian lagu-lagu yang disusun dan tersaji mewakili perjalanan panjang mereka di dunia musik Indonesia. Seluruh lagu yang tersaji di panggung ada di delapan album yang mereka hasilkan. Dua puluh lagu dari tujuh puluh tiga karya di delapan album dibawakan. Jika saja masih ada beberapa lagu hits yang tak ditampilkan, itu adalah masalah durasi yang menjadi keterbatasan sebuah acara pada umumnya. Lagu ”Akhiri Ini Dengan Indah” sebagai penutup rangkaian acara memang pantas disajikan sebagai encore. Jikustik memang melakukan pagelaran ini dengan indah, menghadirkan kembali kenangan-kenangan indah insan manusia yang pernah tumbuh bersama perjalanan mereka.

Confetti yang ditembakkan tak hanya berupa kertas warna biasa. Di sana juga ada kertas berwarna emas sebagai simbol Jikustik yang menorehkan tinta emas untuk banyak orang dan juga dunia musik Indonesia. Salam hormat untuk penonton yang dilakukan oleh Adhit, Dadik, Icha, Carlo, Pongki di akhir acara meninggalkan kesan mendalam dan juga keharuan. Tak hanya bagi penonton yang hadir tapi juga para personil Jikustik sendiri yang tak bisa menyembunyikannya sejak awal mereka ada di panggung. Mungkinkah Anda termasuk penonton yang bahagia dan terharu malam itu dan belum bisa move on sampai hari ini?

 

Tj Singo
Pengagum Jikustik

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s