Prambanan Jazz: Festival Musik Kaum Milenial

Bagi Generasi Baby Boomer dan Generasi X, membeli barang dilakukan di toko yang umumnya menjual barang yang dikehendaki. Membeli sepatu ya di toko sepatu. Membeli baju ya di toko baju dan seterusnya. Sementara itu, bagi Generasi Milenial alias Generasi Y dan Z, pola membeli barang telah berubah. Apa yang menjadi kebutuhan mereka dapat ditemukan di satu tempat yang memfasilitasi para pedagang menawarkan berbagai macam barang jualan. Munculnya toserba atau toko serba ada dan pusat perbelanjaan di awal tahun 80-an menjadi permulaan berdirinya tempat yang lebih besar dan masal di tahun-tahun setelahnya. Mal, plaza, hypermart dan tempat-tempat belanja terpadu yang besar menjadi tujuan melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan.

Ini pula yang menjadi kebiasaan ketika generasi Baby Boomer dan Generasi X menonton pertunjukan musik. Nonton Koes Plus ya nonton Koes Plus saja. Sebagai bonus, ada band atau musisi lain yang tampil sebelum bintang utama. Pola ini masih terus berlangsung saat ini. Pertunjukan musik dengan bintang utama didahului pengisi acara yang lain. Pola berbelanja di tempat belanja terpadu bagi generasi Milenial alias Generasi Y juga menulari pertunjukan musik. Selain pertunjukan musik dengan satu penampil utama, kini pertunjukan musik yang menyediakan banyak penampil juga telah menjadi suguhan yang lazim sebagaimana pola belanja kaum milenial. Pertunjukan musik dengan banyak bintang populer yang disebut festival sudah menjadi sebuah tren walaupun di tahun 80-an juga ada. Namun, festival yang terjadi di tahun 80-an lebih merujuk pada ajang pencarian juara. Sebut saja Light Music Contest yang menjadi ajang pencarian jagoan musisi jazz. Atau Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI) yang menerima ribuan karya dan diseleksi menjadi 10 sampai 12 lagu untuk dijadikan sebuah album kompilasi.

Tak bisa dipungkiri, pemenuhan kebutuhan akan sebuah tontonan seperti pola belanja yang one stop shopping, semakin mewabah. Sebut saja Java Jazz Festival yang sudah terselenggara selama 15 tahun, Soundrenalin, La La La Fest, Ramadhan Jazz Festival, Synchronize Fest, Djakarta Warehouse Project (DWP), Jazz Traffic dan lain-lain. Selain Jakarta dengan segala kelebihannya, Bandung juga merupakan kota yang meriah dengan pertunjukan musik festival. Sementara itu, Yogyakarta juga punya pertunjukan musik bersifat festival. Ada Ngayogjazz yang sudah terlaksana lebih dari satu dasawarsa. Kemudian ada Mocosik yang memadukan pertunjukan band-band indie dan diskusi buku, Yogyarockarta yang merupakan festival band-band rock dan juga Prambanan Jazz. Ketiga festival yang disebut terakhir merupakan produksi Rajawali Indonesia sebagai pelaksana.

Perhelatan Prambanan Jazz yang menempelkan kata jazz memang sempat dipertanyakan penikmat jazz karena acara ini tidak banyak menampilkan musisi jazz. Menurut Bakkar Wibowo sang creative director, perhelatan festival ini ada sebuah pesta musik yang memfasilitasi musisi tanpa melihat latar belakang genre dan bertujuan menyajikan musik untuk dinikmati masyarakat lebih luas.

Tahun ini, Prambanan Jazz merupakan gelaran kelima setelah yang pertama di tahun 2015 hanya dilaksanakan dalam satu hari dengan menyuguhkan empat penampil; Isyana Sarasvati, Trisum, Tompi dan Kenny G. Di penyelenggaran berikutnya, hari pelaksanaan bertambah menjadi dua hari dengan jumlah penampil berlipat. Ada Marcell, Mocca, Raisa, Rio Febrian, Shaggydog, Tulus di pertunjukan festival dan Boyz 2 Men, Glenn Fredly, Kahitna, Krakatau Reunion dan Rick Price di Special Show.

Bertambahnya penampil yang jauh lebih banyak di pelaksanaan tahun berikutnya membuat festival ini juga menambah hari. Ada Band, Andre Hehanussa, Base Jam Reuninon, Emerald, Kahitna, Lingua, Naif, Rif/, Shakey, T-Five, The Groove menjadi representasi musik 90-an yang tampil di pagelaran tahun itu. Festival di tahun itu juga menampilkan Afgan, Hivi, Kunto Aji, Marcell, Payung Teduh, Rio Febrian, The Overtunes, Tompi, Yovie Nuno, Yura Yunita dan lain-lain yang merupakan musisi yang sedang dan tetap digemari. KLa Project, Raisa dan Isyana, Sarah Brightman, Shakatak dan Shane Filan menjadi pengisi acara di panggung Special Show.

Di tahun keempat pelaksanaannya, seperti tahun sebelumnya, tiga hari pelaksanaan yang menampilkan Abdul & The Coffee Theory, Barasuara, Fariz RM, Father & Son (Yovie & Arsy feat Brisia Jodie), Gigi, Glenn Fredly, Hivi, Idang Rasjidi feat Syaharani, Indra Lesmana feat Eva Celia, Iwa K, Java Jive, Jikustik, KLa Project, Letto, Monita Tahalea, Sierra Soetedjo, Stars & Rabbit, The Rain, Tompi feat Nadya Fatira, Tulus dan Yura Yunita di panggung festival dan Boyzone, Dewa 19 feat Ari Lasso, Diana Krall, KahitRan, dan Tohpati feat Sheila Majid, Marcell, Rio Febrian di panggung Special Show, Prambanan Jazz jauh lebih tertata dan lebih rapi seperti yang tertulis di sini.

Bagaimana dengan tahun ini? Dengan penampil yang tak lebih banyak dari tahun sebelumnya, Rajawali Indonesia tetap akan memberikan suguhan yang berkualitas dengan menampilkan penampil-penampil tersohor seperti Andien, Ari Lasso, Bali Lounge, Calum Scott, Calvin Jeremy, Danilla, GAC, Glenn Fredly, Maliq & D’essentials, Pusakata, Rida Sita Dewi, Tashoora, Tulus, Yovie & His Friends, Yura dan beberapa lainnya di panggung festival serta Anggun, Brian McKnight dan Yanni di panggung Special Show.

Sebagai catatan, tahun ini Prambanan Jazz bisa menjadi istimewa karena tampilnya Bali Lounge. Sebuah band bersifat proyek yang digagas oleh Gita Wirjawan, mantan ketua BKPM dan Menteri Perdagangan pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Proyek ini akhirnya melambungkan nama Tompi di dunia musik Indonesia. Padahal, awalnya Tompi bukanlah vokalis yang diproyeksikan untuk band ini namun karena alasan teknis saat akan launching album di Singapura, Tompi dipanggil untuk menjalani audisi dan dianggap cocok untuk mengisi vokal pada band ini (Sumber: Facebook Teuku Adifitrian). Tampilnya Bali Lounge di Prambanan Jazz adalah sebuah “keisengan” CEO Rajawali Indonesia, Anas Alimi, yang menghubungi Tompi akan kemungkinan menghadirkan band ini untuk tampil di Prambanan Jazz. Sebuah ide iseng yang akhirnya menjadi kenyataan dan tak mudah untuk direalisasikan namun bisa menjadi nyata di Prambanan Jazz.

Selain itu, kelompok vokal neng geulis asal Bandung, Rida Sita Dewi (RSD) juga akan tampil di pagelaran ini. Kelompok vokal yang dibidani oleh Adjie Soetama, Adi Adrian dan melibatkan Andre Hehanussa dalam mempersatukan mereka pada saat aktif berkarir melahirkan empat album; tiga album penuh dan satu album kompilasi terbaik. Kemudian mereka menyatakan bubar pada tahun 2003 karena alasan idealisme. Mereka sempat tak mau membicarakan tentang karir mereka di group ini sampai akhirnya mereka sempat berreuni beberapa kali dan berkarya lagi dengan single “Langit Amat Indah” yang ada di album OST Perahu Kertas (2012). Penampilan di Prambanan Jazz merupakan penampilan mereka setelah terakhir mereka tampil dua tahun lalu di Kapsul Waktu di Galeri Indonesia Kaya.

Tentu saja, penampil-penampil lain di Prambanan Jazz kali ini tak boleh dilewatkan. Nama-nama yang telah disebut di atas dan juga para penampil internasional yang namanya juga tak asing merupakan jaminan. Pagelaran bersifat festival dengan menyajikan banyak penampil di sebuah tempat cagar budaya yang luas dimana penonton bisa memilih musisi mana yang hendak mereka tonton tanpa perlu khawatir kelaparan karena bisa sambil menikmati kudapan yang ada di arena adalah sebuah mal atau pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan akan kepuasan menikmati musik para milenial yang terpola dengan kebiasaan one stop shopping.

Prambanan Jazz, festival untuk kaum milenial

 

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s