Sari Koeswoyo – Pejuang Berhati Lembut Nan Cantik

Beruntungnya saya saat hari Kamis lalu, 19 September 2019, unggahan foto-foto Sari Koeswoyo muncul di lini masa akun sosial media saya. Ah….. rupanya doi sedang di Yogya. Maka, saya langsung berkomentar di dinding akunnya dan menyatakan ingin berjumpa dan meminta tanda tangan. Komunikasi tercipta dan terencanakan sebuah pertemuan. Sampai dengan hari Jumat, pertemuan itu masih belum final. Baru pada Sabtu malam kami membuat kesepakatan bertemu hari Minggu malam di suatu tempat kuliner nan tersohor karena seharian di hari Minggu Sari masih ingin berkunjung dari candi ke candi yang ada di sekitaran Prambanan.

Hari Minggu, Sari masih menginginkan pertemuan dilangsungkan di tempat ngopi di utara Stasiun Tugu. Tapi dia ingin makan malam terlebih dahulu. Saya mengiyakan untuk bertemu di sana sambil menunggu selesainya Sari makan malam. Saya berubah pikiran dan langsung menuju ke restoran gaya lama yang saya rekomendasikan padanya. Ubo rampe ritual pertemuan telah saya siapkan. Sampul- sampul kaset, spidol dan “buku tamu”.

Saat bertemu di restoran masakan Cina di jalan Pajeksan, kami langsung berbicara banyak. Makan malamnya hampir selesai. Cerita pertama tentang hubungan yang sebenarnya sudah berlangsung lama ketika kami berteman di sosial media bernama Multiply yang sudah almarhum. Sebuah sosial media yang kami setujui sebagai sarana yang asik banget. Sari menyesal dia tak sempat mengunduh balik foto-foto yang dipajangnya di sana. Dia tak lagi memiliki dokumentasi fotografi makro kesukaannya dan perjalanan di banyak tempat di Nusantara.

Pertemanan kami berlanjut di Facebook. Entah sudah berapa tahun dan baru kali ini kami bisa bertemu. Pembicaraan berlanjut ke politik. Sari bergabung dengan partai politik. Jiwa seni yang mengalir di tubuhnya dan kecintaan pada negara membuatnya merasa cocok dengan apa yang bisa diperjuangkannya lewat jalur budaya melalui partai ini. Dia memang tak berhasil menjadi wakil rakyat untuk Tuban, daerah asal kakeknya. Tapi, semangatnya berjuang nampak tak melunturkan minatnya untuk terus berjuang di jalur ini. Demi membangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Sesekali pembicaraan yang jadi serius pecah oleh tawa renyah karena kelucuan-kelucuan yang muncul. Kami sudah seperti teman yang lama tak berjumpa. Suasana yang begitu cair menjadi indikasinya. Di restoran, tinggal kami bertiga. Pengunjung lain sudah meninggalkan tempat ini. Saat suasana begitu nyaman, saya mengeluarkan sampul-sampul kaset yang hendak saya mintakan tanda tangannya. Ritual legalisir dimulai. Ada tigabelas jumlahnya. Lalu dimulailah cerita tentang karirnya di bidang tarik suara.

Pertanyaan pertama adalah bagaimana dia bisa terjun ke dunia industri musik. Tak bisa dihindari, saudara sepupunya, Chicha Koeswoyo, menjadi pelecutnya. Sebagai sesama anak-anak waktu itu, Sari juga ingin melakukan apa yang dilakukan Chicha. Maka, dia meminta pada ayahnya, Yok Koeswoyo, agar juga bisa menjadi penyanyi. Ayahnya lebih mengutamakan pendidikan sang anak. Sari diijinkan menjadi penyanyi jika dia menjadi juara kelas. Keinginan yang kuat membuatnya belajar serius dan meraih gelar terbaik di kelas. Ijin turun. Sari boleh rekaman. Itu pun dilakukan di saat liburan, bukan pada hari sekolah. Waktu sekolah yang lebih banyak membuat Sari memiliki album tak sebanyak sepupunya. Jadwal manggung juga hanya dilakukan pada saat liburan sekolah.

Sambil menandatangani sampul-sampul karyanya, sesekali Sari menyanyikan lagu yang dia masih hafal. Dia menyanyikan lagu “Adik Yang Lucu”, lagu di album Sari bersama sang ibunda, Michelle. Lagu ini bercerita tentang permintaan seorang adik. Saya sungguh beruntung mendengarkan Sari bernyanyi di depan saya. Sebuah hal yang hampir tak pernah dilakukannya di muka umum. Hm……..

Ada juga album Sari bersama Doel Kamdi. Doel Kamdi adalah orang yang dulu bekerja pada keluarga mereka. Dia seorang pembantu umum yang melayani kebutuhan mereka semua. Dari peralatan musik sampai hal lain yang bahasa kerennya adalah road manager. “Pakde Doel sampun kapundut wangsul wonten ngarsanipun Gusti,” begitu katanya dalam bahasa Jawa halus yang artinya Pakde Doel sudah dipanggil Tuhan.

Cerita berlanjut ke keluarga besar. Sari menjadi trah Koeswoyo generasi kedua yang saya temui kali ini. Sebelumnya saya sudah bertemu Chicha, Helen, Kenny, David, Gerry dan Damon. Dia pun bercerita tentang saudara-saudara sepupunya. Cerita seputaran karir musik mereka. Ada cerita bagaimana Helen akhirnya menghasilkan album. Lalu Gerry yang juga sempat nge-band. David yang ketika masih anak-anak punya album Chiki Boom dan jadi gurauan para sepupunya karena menggemari Hello Kitty. Dan tentu saja Damon yang sempat bersama Anang membentuk Kidnap Katrina yang sukses di awal tahun 90-an.

Tanpa terasa, waktu sudah beranjak lebih dari jam sembilan. Pramusaji restoran keluar untuk menutup pintu restoran. Maka, tak ada alasan bagi kami untuk tak mengakhiri percakapan yang menyenangkan malam itu. Sepanjang berada di sana, saya melihat wajah Sari yang lelah karena seharian berjalan mengelilingi beberapa candi. “Betis kemeng,” katanya lewat alat komunikasi sebelum kami bertemu di restoran. Bagi Sari, mengelilingi candi tak hanya sekedar berfoto atau swa foto saja tapi dia memperhatikan setiap detil ornamen yang ada di candi. Cocok lah jadi antropolog atau sejarahwati. Hahaha

Dengan wajah yang agak kucel karena capek, toh Sari masih antusias berbagi cerita. Di balik kelelahan dia masih bersedia ditemui. Bener-bener “jango” nih. Gak jaim dan asek. Di wajah yang lelah dan kusut karena belum mandi, Sari masih terlihat cantik. Sesuai arti namanya, Hapsari. Dan di balik semangat juang yang keras untuk kebaikan negara, dia juga orang yang lembut. Seperti namanya juga, Herning. Louisa Herning Hapsari, pejuang berhati lembut nan cantik.

“Besok lagi kalau aku ke Yogya, kita ketemu lagi deh,” katanya mengakhiri perjumpaan malam itu. Baiklah kakak. Next time, aku temani ngopi yang prosesnya pakai dicelupin arang di utara stasiun. Kita minum sambil ngobrol dan ngangkring. Aku tak akan hanya minum jus ledeng, istilah teman saya untuk air putih.

Last but not least, meskipun belum mandi saat bertemu, Sari tetap wangi di hatiku. #eeeeeaaaaa

 

 Tj Singo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s