Djaduk Ferianto – Seniman Besar Itu Telah Pergi

Pagi ini, saya dibangunkan oleh panggilan telepon dari teman di Jakarta. Belum sempat saya menerima panggilan, telepon terputus. Saya langsung menelepon balik namun tak terjawab. Lalu saya membaca pesan dari sang penelepon yang terikirim pagi hari sebelum saya terbangun. Pesan yang dikirim pukul 4.38 isinya sungguh mengejutkan: “Mas Djaduk sudah ndak ada…duh Gusti“. Sekejap, telepon berbunyi lagi dari sang pengirim berita lalu kami bercakap. Suara tangis sang penelepon terdengar lirih. Saya masih antara terbangun dan tidak.

Mbak Ernie Bintang, terima kasih telah mengabari berita duka yang menyesakkan ini. Terima kasih juga telah mengingatkan saya untuk menjaga kesehatan.  Setelah menutup percakapan, saya membuka satu per satu percakapan grup telepon pintar dan pesan pribadi dari teman-teman lain, isinya seragam. RIP Djaduk Ferianto. Berita duka tersebar dengan cepat. Begitu pula di sosial media. Isinya sama. Semua menyatakan duka bagi kepergian seorang seniman besar yang sedang berkonsentrasi penuh untuk pelaksanaan acara Ngayogjazz yang digelar besok Sabtu, 16 November 2019.

Saya tak langsung ikut mengungkapkan perasaan duka karena harus mengantar anak sekolah. Sepanjang perjalanan ke dan pulang dari sekolah, pikiran saya terisi bagaimana perjumpaan dan interaksi kami selama ini. Ingatan saya langsung tertarik ke belakang ke masa perkenalan kami. Saya lupa tahunnya, mungkin 1998 atau 1999. Saat itu saya dilibatkan di sebuah proyek pertukaran seni dengan para seniman dari Filipina di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) sebagai penerjemah.

Praktis setelah proyek itu, kami tak banyak bertemu. Intensitas bertemu kembali terjadi sejak saya mulai mengumpulkan karya-karyanya dan pagelaran Ngayogjazz 2008. Dalam banyak kesempatan bertemu, Djaduk tak pernah merasa orang populer. Dia selalu menempatkan diri sebagai orang biasa. Kami bertemu dimana saja. Di pementasan Teater Gandrik, pagelaran Ngayogjazz yang tak pernah absen saya hadiri, di warung sate Ayam Ponorogo yang menjadi salah satu makanan favoritnya di Ngabean, di rumah Warta Jazz saat sedang kumpul bersama teman-teman atau rapat pelaksanaan Ngayogjazz.

Terlahir dengan mewarisi bakat seni dari orangtua dan didukung lingkungannya, Djaduk adalah seorang seniman tulen. Dia dibesarkan di ranah seni tradisional. Dunia musik menjadi pilihannya. Dia juga besar lewat dunia teater. Bersama Teater Gandrik, dia menjadi aktor dan beberapa kali menjadi sutradara untuk lakon teater itu. Djaduk juga pernah menjadi aktor di film Petualangan Sherina. Dunia musik membawanya berkeliling dunia. Kemampuannya memainkan banyak alat musik adalah sebuah anugerah dan bakat yang diasahnya terus. Dia bisa memainkan alat musik tradisional maupun modern.

Bersama Kua Etnika dia berkeliling dunia. Sebuah band yang memilih memainkan genre world music yang memadukan tetabuhan tradisional dan nada-nada modern. Saya sempat bertanya apa arti Kua Etnika pada awal-awal saya mengenalnya. Katanya, “Kua itu dari kata kualitas, bukan kuah.” Begitu jawabnya sambil menyisipkan canda yang tak pernah terlupa ketika berinteraksi dengannya. Etnika adalah etnik, musik yang mereka mainkan. Kua Etnika yang nge-jazz ini akhirnya membuat masyarakat mematok Djaduk sebagai musisi jazz. Dan, akhirnya Djaduk menciptakan wadah pada musisi jazz untuk berkembang. Dia mempelopori ruang untuk musisi jazz lewat Jazz Mben Senen yang embrionya dipentaskan di sebuah rumah kecil di daerah Kotabaru sampai akhirnya mendapat tempat permanen di Bentara Budaya Yogyakarta sampai sekarang. Sebuah acara kecil yang rutin dijalankan sampai sekarang. Kecil tapi terus menghasilkan. Sudah banyak musisi yang lahir dari komunitas ini.

Kecintaannya pada musik asli Indonesia dia lestarikan lewat grup lain yang dia bentuk, Orkes Keroncong Sinten Remen. Karya-karya Sinten Remen merasuk dan digemari anak muda yang sudah mulai melupakan keroncong. Lagu-lagu yang dihasilkan oleh Sinten Remen merupakan tangkapan gejala sosial dan politik yang terjadi di negeri ini dan disampaikan dengan canda.

Kepeduliannya juga terlihat ketika banyak acara di Yogyakarta yang saling bertabrakan pelaksanaannya. Baginya, acara-acara ini akan tidak saling menguntungkan jika terus terjadi. Dia menginisiasi sebuah pertemuan dengan mengumpulkan para penyelenggara acara agar terjadi sebuah sinergi yang saling membangun atau tidak saling merugikan. Dan, Djaduk berhasil mengumpulkan para penyelenggara acara.

Djaduk memang lucu. Dimanapun dia berada, di atas dan di luar panggung. Beberapa kali dia selalu menghindar dan bilang : “Weh, ono singo. Aku wedi.” Gurauan yang menjadi ice breaking ini lalu berlanjut ke pembicaraan serius lalu di tengahnya meledak oleh kelucuan-kelucuan yang disampaikan. Interaksi dengan Djaduk tak pernah berjarak. Dia selalu menjadi teman menyenangkan untuk diajak bicara.

Kelucuan-kelucuan itu kini tak ada lagi. Djaduk telah pulang ke keabadian di hari-hari persiapan Ngayogjazz yang kurang hitungan hari saja. Seniman besar itu telah pergi. Besar dalam banyak arti. Besar badannya, besar pemikirannya, besar kontribusinya, besar jiwanya, besar namanya. Dan kebesarannya itu takkan lekang oleh waktu.

Selamat jalan mas Djaduk. Kami mengiringi kepergianmu dengan duka mendalam sambil mendengarkan lagu “nDerek Dewi Maria” yang dinyanyikan anakmu, K. Ratu Hening dan “Tuhan Sumber Gembiraku” yang kau nyanyikan bersama Jajoek Suratmo dari album religi “Tuhan Sumber Gembiraku” yang dirilis tahun 2006. Percayalah Dewi Maria telah menjemput dan mengantarmu ke hadapan Gusti Yesus dan

semua lorong di bumi haruslah kau jalani
bersama dengan sesama menuju pada Bapa
semua roda hidupmu mendambakan imanmu
di perjamuan abadi Bapa sudah menanti

Langit mendung di Yogyakarta menjadi pertanda kami semua berduka.

 

Tj Singo

 

3 thoughts on “Djaduk Ferianto – Seniman Besar Itu Telah Pergi

  1. Terharu baca tulisan ini Mas…

    Saya pribadi belum mengenal alm Mas Djaduk, saya hanya mengenalnya melalui karyanya terutama dalam bentuk pergelaran Ngayogjazz yang sungguh luar biasa. Suatu perhelatan besar yang gratis dikunjungi dan memberikan efek ekonomis bagi penduduk di desa wisata yang ditempatinya.

    Secara usia, saya seusia dgn alm Mas Djaduk ini. Saya lahir pada bulan dan tahun yang sama, hanya terpaut beberapa hari saja.

    Terakhir, semoga Ngayogjazz tetap eksis walaupun kini telah ditinggalkan oleh sang maestro penggagasnya.

    Salam dari saya di Sukabumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s