Glenn Fredly – Penyanyi Penuh Cinta & Kasih

Dua minggu yang lalu, 8 April 2020. Waktu beranjak lima belas menit menuju pukul 20.00. Saat sedang mengisi metadata pada lagu-lagu yang ada di perpustakaan musik saya, notifikasi komunikasi telepon pintar berbunyi. Seorang teman bertanya: Koq barusan ada yg nanya Glenn meninggal. Benarkah?” Teman ini beberapa kali sebelumnya meminta konfirmasi saat dia mendengar atau membaca berita tentang Glenn Fredly. Berita apa saja yang receh. Glenn memang sasaran empuk berita tidak benar karena dia punya nilai berita yang tinggi.

Saya tak begitu terkejut atas pertanyaannya karena sudah beberapa kali Glenn menjadi korban hoaks. “Kalau iya, pasti sudah ramai di berita atau sosmed,” jawab saya. Dan untuk memastikannya, saya langsung menuju laman berita terpercaya. Tak ada berita tentang Glenn yang saya temukan. Kemudian saya saya berpindah ke sosial media Instagram. Terdapat dua posting teman saya yang mengonfirmasi bahwa berita itu benar. Saya langsung lemas.

Saya langsung mencari lagi penyebab kepergiannya, bertanya pada teman musisi dan mendapatkan jawabannya. Pikiran saya langsung kacau. Baru seminggu yang lalu saya bergabung saat Glenn melakukan interaksi langsung di Instagram lewat Live IG. Waktu itu sudah lewat tengah malam. Banyak sekali pengikutnya yang menanyakan berbagai macam pertanyaan dan memintanya menyanyi. Saya pun meminta sebuah pertemuan kalau dia datang ke Yogya setelah badai Corona berlalu. Glenn sempat mengiyakan permintaan saya karena kami memang sudah lama tak bertemu. Glenn mengamini sabda rindu. Terakhir kami bertemu di tahun 2018 di acara Prambanan Jazz.

Dalam sekejap, ucapan duka cita, keharuan dan ketidakpercayaan membanjiri lini masa Instagram. Semuanya merasa kehilangan seorang penyanyi Indonesia yang berbakat, bersemangat dan penuh antusiasme dan idealisme memajukan musik Indonesia. Glenn telah pergi menghadap Sang Pencipta dengan membawa cinta.

Ingatan saya langsung terbawa ke masa awal berkenalan dengannya. 18 Juni 2008. Glenn mengadakan pertunjukan di Yogyakarta yang dipromotori Ruth Sahanaya Production, penyanyi wanita Indonesia yang menjadi role model buatnya. Saat itu, saya hanya memiliki album Selamat Pagi Dunia (Repackage) dan album kompilasi #1 Radio Hits. Padahal saat itu dia sudah memiliki delapan album di luar group pertamanya, Funk Section. Saya menunggu di hotel tempat dia menginap dan ketika melihatnya, saya langsung memperkenalkan diri dan meminta tanda tangan. Glenn terlihat begitu gembira menandatangani kedua album tersebut.

Sambutannya yang begitu hangat membuat saya ingin melengkapi semua karyanya. Dua tahun setelahnya, kami bertemu lagi. Saat itu, saya meminta lebih banyak tanda tangan termasuk album Funk Section. Dia terkejut saya memiliki album itu dan bertanya apakah saya bisa mendapatkan untuknya. Album ini saya dapatkan dan serahkan padanya pada pertemuan ketiga di 5 Februari 2011. Pertemuan ketiga ini adalah awal kedekatan kami. Kami bertukar nomor telepon dan sesekali berinteraksi lewat telepon pintar Blackberry saat itu.

Suatu saat, kami bertemu di tahun 2012 bulan Oktober tanggal 24. Hari itu, Glenn tampil di acara bertajuk Virtual World di Grand Pacific. Kami bertemu di senja hari dan ngobrol di hotel. Lebih dari satu jam. Banyak hal yang disampaikan Glenn. Dari percakapan itu saya menyimpulkan Glenn adalah orang yang sangat peduli pada kondisi dunia musik Indonesia. Dia seorang yang visioner dalam memperbaiki kondisi permusikan negara ini. Glenn menyampaikan: “Makanya itu mas, Singo. Daripada aku ngomongin bajakan, lebih baik aku ngomongin selamatkan rumah musik Indonesia seperti Lokananta”.

Glenn sedang serius menjabarkan tentang tatanan bagaimana sebaiknya industri musik yang ideal. Dia juga membandingkan hukum di negara lain yang idealnya juga berlaku di Indonesia. Saat itu, dia belum lama merilis album Luka, Cinta Dan Merdeka (2012), album yang dirilis setelah dia tak lagi bersama label tempatnya bernaung sebelumnya. Dia mengirim album ini kepada saya dan saya membuat ulasannya di sini. Dia sangat senang dengan adanya ulasan dari seorang penikmat musik seperti saya. “Ulasan mas Singo adalah sudut pandang yang baru dan berbeda, bukan sudut pandang umum dari seorang wartawan atau kritikus,” katanya pada saya saat kami mengobrol panjang lebar itu.

Di perbincangan dengan Glenn pada Oktober 2012 itu, dia mengajak saya bergabung di acara yang dia pandu di radio Hard Rock FM sebagai nara sumber membahas album-album Indonesia delapan puluhan. Glenn menjadi host bersama tandemnya di Trio Lestari, Tompi dan Sandhy Sondoro. Kehadiran saya di acara itu terjadi beberapa kali sejak bulan November. Saya lupa sampai kapan tepatnya saya selalu bergabung di acara itu.

Glenn membuat Musik Bagus Indonesia. Ini adalah sebuah upayanya memberi stempel pada musik Indonesia. Usaha Glenn terus berusaha memajukan musik Indonesia dengan tajuk tersebut memang tak pernah usai. Promosi tagar tersebut dilakukannya secara konsisten. Dia juga merealisasikan apa yang diucapkan secara utuh dan komprehensif. Keseriusannya direalisasikan dengan membuat laman Musik Bagus Indonesia (musikbagus.org) namun sekarang laman itu sudah tak ada. Glenn mengajak almarhum Denny Sakrie, penulis artikel musik untuk menulis di sana.  Dia juga mengajak saya bergabung namun orang yang diserahi untuk menghubungi hanya sekali saja menghubungi saya tanpa pembicaraan yang tuntas.

Dia juga tak melupakan sejarah. Dia ingin mengurai keberadaan musik Indonesia tanpa melupakan akar historis. Dia mengunjungi Lokananta, studio rekaman milik negara di Solo yang dan menghidupkan lagi peran studio tersebut dengan merekam secara live albumnya, Live At Lokananta (2012) yang juga dikirimkan ke saya. “Menggelar konser tertutup di studio Lokananta agar generasi muda, khususnya para penggemarnya, paham atau setidaknya mengenal Lokananta, syukur-syukur beserta sejarahnya.”. Demikian tertulis di album tersebut.

Apresiasinya pada sejarah musik, dalam hal ini keberadaan Lokananta, dia wujudkan dengan cara tersebut. Dia juga tak mengambil satu sen pun royalty penjualan album ini. Semuanya dia berikan pada Lokananta. Apa yang dilakukannya akhirnya juga diikuti musisi dan penyanyi lain seperti Slank dan White Shoes & The Couples Company. Inilah salah satu bukti pengabdian Glenn pada musik Indonesia. Dia terus berjuang untuk (musik) Indonesia secara total. Dia ingin menciptakan ekosistem musik yang sehat dan apresiasi untuk semua musisi yang terlibat dalam berkarya, tak hanya penyanyi saja tapi juga pemain musik. Ini bukan hanya wacana dan Glenn telah menerapkannya pada musisi yang mendukungnya di band yang telah menyertainya selama 12 tahun. Dia memberi apresiasi yang layak pada mereka.

Menurut James F Sundah, Glenn menjadi terbuka wawasannya tentang hak cipta setelah mereka bertemu di tahun 2002. Dan, sejak itulah Glenn terus berjuang. Dia bukanlah orang yang konfrontatif. Dia menata setapak demi setapak dengan cara yang santun. Lewat berbagai forum dia bersuara tentang tatanan ekosistem musik yang sehat. Dan dia tak canggung berbicara dengan siapapun, memberikan edukasi tentang Musik Bagus Indonesia. Semua lapisan dirangkulnya, mulai dari musisi senior seperti Candra Darusman sampai musisi atau penyanyi muda belia. Glenn sangat cair. Dia bisa berada di mana saja dan berkomunikasi dengan elegan.

Panggung Adalah Kehidupan
Saya menyaksikan pertunjukan Glenn berkali-kali. Di sinilah terlihat Glenn adalah seorang yang kharismatik, dicintai banyak orang, khususnya wanita, komunikator yang ulung dan punya konsep dalam menyajikan pertunjukannya.

Kesempatan pertama di tahun 2011 di sebuah bar di hotel. Glenn yang mendapat stempel sebagai penyanyi romantis tampil di hadapan sekitar 700 orang di cafe yang sebenarnya berkapasitas kecil. Glenn memanjakan penikmat karyanya. Para wanita seperti terbius dengan suara dan sikapnya yang manis. Seorang wanita yang sudah menyiapkan krans bunga mendadak maju, memeluk Glenn dan tak mau melepaskan pelukannya. Dia menangis di pelukan Glenn.

Setahun berikutnya, Glenn tampil di sebuah gedung pertunjukan besar yang mampu menampung ribuan penonton. Meskipun ada pembatas antara panggung dan penonton, Glenn bersedia turun dari panggung mendekati penonton. Dia ingin dekat dengan mereka yang telah mengapresiasi dirinya. Di gedung yang besar ini, dia menyebut nama saya sebagai seorang pengumpul karya-karyanya dan mengungkapkan apresiasinya.

Sebulan kemudian, Glenn kembali manggung di Yogya. Kali ini di Taman Budaya Yogyakarta. Glenn bahagia karena bisa tampil di sebuah taman budaya karena dia punya sikap bahwa musik adalah kebudayaan. Lantunan lagu-lagu cinta yang didendangkannya menghipnotis penonton yang kerap memberikan tepuk tangan, bernyanyi massal dan juga berdiri untuk memberikan apresiasi lebih. Pancingan kalimat yang diucapkannya adalah bumbu bagaimana Glenn bisa membuat penonton betah menikmati penampilannya.

Penampilan berikutnya di Yogya yang saya tonton adalah di sebuah café tempat dugem. Glenn dijadwalkan bermain mulai tengah malam. Dia tidak terlalu bahagia bermain di tempat semacam ini karena baginya orang yang datang tidak semuanya penonton yang mengapresiasinya secara utuh. Mereka hanya mengenal Glenn sebagai seorang penyanyi saja. Namun, Glenn tetaplah menyajikan penampilan terbaik. Dia tetap menghibur semua yang hadir dan mereka menikmati penampilan Glenn.

Di tahun 2015, Glenn kembali tampil di Taman Budaya Yogyakarta dalam tajuk 20 Tahun Berkarya. Bagi Glenn, Yogyakarta adalah salah satu kota yang berkesan bagi karirnya. Penonton di Yogyakarta sangat apresiatif dan selalu memberi energi. Di gedung pertunjukan yang menampung ratusan penonton dengan kursi duduk, Glenn bisa membuat mereka berdiri mengikuti lagu-lagu yang dibawakan bersama band-nya, Bakuucakar yang beranggotakan Andre Dinuth (gitar), Bonar Abraham (bass), Harry Anggoman (kibor), Kenna Lango (Hammond), Nicky Manuputty (saksofon), Rayendra Sunito (drum) dan Rifka Rachman (sequencer). Nama ini dicetuskan oleh Kenna Lango yang berarti saling cakar.

Di tahun-tahun berikutnya, Glenn tampil di Festival Prambanan Jazz empat tahun berturut-turut sejak 2016. Glenn termasuk penampil yang selalu ditunggu di festival tahunan yang selalu berlokasi di Candi Prambanan ini. Sihirnya selalu membuat para wanita terbawa perasaan. Penampilannya dengan lagu-lagu romantis bisa membawa suasana yang menghanyutkan. Tapi jika tiba waktunya melantunkan lagu-lagu bertempo sedang atau cepat, Glenn bersama Bakuucakar bisa membuat penonton berjingkrak dan menyerukan namanya.

Di Luar Panggung
Di luar panggung, Glenn adalah orang tanpa batas. Ketenaran dan kebesaran namanya tak membuatnya ingin dikawal bodyguard. Dia tak suka dengan itu. Dia tetap saja bisa pergi kemana saja dengan bebas sesuai kehendaknya. Dia bisa saja makan di tempat yang tidak populer, di sebuah warung kecil. Pada saat sesi tes tata suara di sebuah konser, dia menyampaikan pada saya dia baru saja makan babi kecap di warung kecil tak jauh dari tempat pertunjukan. Babi kecap yang nikmat buatan seorang tante. Saya tau warung itu ada di jalan Jagalan. Memang tidak terkenal. Entah bagaimana dia bisa sampai ke warung itu?

Glenn tak hanya bersuara di panggung. Kehidupan yang dijalani Glenn tidak melulu menyanyi. Dia punya keyakinan musik adalah budaya yang bisa mengubah bangsa sehingga akhirnya dia meluas dan bersentuhan dengan birokrasi demi mewujudkan apa yang menjadi angan-angannya dalam menata ekosistem permusikan. Untuk itulah dia terus bersuara lewat jalur-jalur yang kemudian membawanya terlibat dalam menyusun UU Permusikan.

Dia bergabung dengan PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia) atas ajakan AM Hendropriyono yang menjadi ketua organisasi tersebut di tahun 2017. Bersama Anang dan Kadri Mohammad, Glenn menjadi partner DPR mengkaji ulang RUU Permusikan dan menata ekosistem musik. Wacana ini terus berkembang sampai Glenn mengusulkan adanya sebuah sarasehan atau kongres musik Indonesia sampai akhirnya terjadi Konferensi Musik Indonesia I di Ambon serta mengusulkan Ambon sebagai salah satu kota musik dunia. Glenn menjadi ketua panitia di konferensi tersebut.

Hasil dari konferensi tersebut akhirnya menjadi acuan RUU Permusikan dan menimbulkan pihak yang menolak dan mendukung untuk penyempurnaan. Di sinilah peran Glenn terlihat. Dia bisa mendamaikan pihak-pihak yang berseberangan. Dengan gaya bicaranya, Glenn bisa menjadi jembatan yang baik.

Glenn memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi.Dia juga bergabung dengan kelompok-kelompok kemanusiaan HAM seperti kegiatan untuk Munir. Dia juga bergabung di kelompok sosial menggalang dana untuk Palu dan Lombok dan berhasil mengumpulkan dana sebesar 21 milyar rupiah. Glenn juga seorang humanis, pluralis dan visioner. Dia senang berdiskusi tentang hak asasi manusia, cara mengatasi intoleransi dan memiliki wawasan kebangsaan dan kemanusiaan. Itulah yang disampaikan Candra Darusman ketika saya meminta pendapatnya tentang Glenn.

Manusia Tanpa Musuh
Cairnya seorang Glenn ditambah dengan kharisma serta kerendahan hati membuatnya orang yang tidak punya musuh. Dari beberapa orang yang saya tanya, mereka semua setuju. Glenn punya kemampuan komunikasi yang baik. Dia bisa mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain tanpa menyinggung perasaan.  Dia bisa menyampaikan pesan dengan sangat santun, humanis dan tidak menyakiti orang lain. Dia menggunakan kata-kata yang terpilih dalam menyampaikan gagasannya.

Glenn bukan orang yang terlalu banyak mencampuri urusan orang lain. Dia juga tak suka membagikan cerita pribadinya, bahkan sakitnya. Dia lebih banyak membagikan cerita bahagia kepada temannya. Rio Febrian misalnya. Dalam sebulan terakhir Glenn menunjukkan kebahagiaannya pada Rio tentang kehidupan baru setelah memiliki anak. Di balik kebahagiaan ini, penyakit yang merenggut jiwanya tak diketahui siapapun termasuk kawan dekatnya.

Glenn adalah seorang musisi yang memiliki konsep dalam hidup dan berkarya. Dia memiliki visi misi yang keren. Tak heran dalam perjalanan hidupnya, dia juga berpikir tentang lingkungannya termasuk di dunia musik. Apresiasi terhadap musisi juga dilakukannya. Jika di awal-awal karirnya dia tampil dalam pagelaran yang digelar oleh Ruth Sahanaya, Glenn kemudian memberi tempat pada Ruth Sahanaya dengan membuat konser Tanda Mata Ruth Sahanaya di tahun 2016. Selanjutnya juga membuat konser Tanda Mata Slank (2017), Tanda Mata Yovie Widianto (2018) dan Tanda Mata Koes Plus (2019). Semua konser Tanda Mata selalu dipentaskan pada tanggal 30 September, tanggal kelahirannya.

Di tahun ini, Glenn merencanakan konser Tanda Mata Broery Pesolima. Dia sudah merencanakan ini dan mengajak Rio Febrian untuk tampil di konser ini. Banyak hal yang ada di benaknya yang belum terealisasi. Dia memang orang yang punya banyak ide dan gagasan. Energinya yang luar biasa itulah yang membuat rekan-rekannya di Bakuucakar bisa bermusik seperti itu. Lebih dari satu decade mereka bersama tanpa ganti personil. Tak heran jika anggota band ini tak mampu menahan tangis saat ibadah pelepasan jenazah Glenn di gereja.

Apa yang menjadi perjuangannya memang belum selesai. Menurut Kadri, cita-citanya menciptakan ekosistem musik yang sehat sedang dalam perjalanan dan menurut Candra Darusman, Ketua Umum Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI), Glenn, Sekjen FESMI, sudah meletakkan dasar untuk berpijak dengan Konferensi Musik Indonesia. Candra menambahkan apa yang menjadi cita-cita Glenn harus dilanjutkan.

Orang baik pergi dengan cepat. Seperti lagu “Gone Too Soon” oleh Michael Jackson di album Dangerous (1992) yang sebagian liriknya adalah:

Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too soon
 
Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day
Gone one night
 
Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
 
Gone too soon

Glenn, kepergianmu menghadap Sang Pemilik Kehidupan adalah sebuah “Sedih Tak Berujung”. Kamu telah sebarkan “Kasih Putih” dan membuat kami “Terpesona”. “Kau” tebarkan banyak “Kisah Romantis” di “Sepanjang Jalan Kenangan” yang berujung di “Pantai Cinta”. Akan banyak “Sabda Rindu” terucap dari kami yang merasa “Belum Saatnya (Berpisah)” dan “Ngga Sanggup” menerima kenyataan ini. Saat kami terbangun dan menghirup “Kelembutan Pagi” dan kami berpikir kepergianmu adalah “Kisah Yang Salah” itu terjadi “Karena Cinta”. Kamu adalah “Renjana”. Dan aku berharap kepergianmu bukanlah “Akhir Cerita Cinta” karena “Malaikat Juga Tahu” siapa yang jadi juaranya.

Banyak yang menyangimu, Glenn. Dari yang berusia muda belia sampai yang telah purna karya. Bermadahlah bersama para malaikat di surga dan tebarkanlah cinta yang tak pernah usai sebagaimana kau lakukan saat kau masih di tengah kami.

 

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s