Lagu Yogyakarta Bukan Kreasi KLa Project?

Lagu Yogyakarta Bukan Kreasi KLa Project?

Minggu 19 Juli 2020 sore, seorang teman penggila karya-karya KLa Project mengirim pesan bahwa ada yang mengunggah tulisan di akun sosial media Facebook bahwa lagu “Yogyakarta” yang terdapat di album KLa Project Kedua (1990) dan “Tak Bisa Ke Lain Hati” dari album Pasir Putih (1992) merupakan sebuah puisi yang diciptakannya puluhan tahun lalu. Pengunggah tulisan itu bernama Sem Cornelyoes Bangun.

 

Continue reading

Prambanan Jazz 2018

“Pengalaman adalah guru terbaik.”

Pepatah ini menjadi pegangan bagi Rajawali Indonesia Communication (RIC) yang menyelenggarakan acara Prambanan Jazz untuk keempat kalinya di tahun 2018 ini. Setelah penyelenggaraan pertama dan kedua yang meninggalkan banyak kritikan dan pekerjaan rumah serta penyelenggaraan ketiga tahun lalu yang memunculkan “drama Korea” yang menghabiskan tenaga pikiran, tahun ini Prambanan Jazz jauh lebih tertata dan jauh lebih bagus serta memuaskan baik bagi penonton, penampil maupun penyelenggara. Continue reading

Konser Sepenuh Cinta 2017 – Gita, Cita dan Cinta & Yogyakarta (bagian Kedua)

Waktu menunjukkan pukul 21.45. Bintang utama Konser Sepenuh Cinta (KSC) 2017 telah berada di panggung dan membuka penampilan mereka dengan mengajak penonton bekerja dengan cinta. KLa Project membawakan “Hey” dengan intro cuplikan puisi dari penyair besar Khalil Gibran dari bukunya Sang Nabi:

Kerja adalah cinta, yang ngejawantah
Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cara
Hanya dengan enggan
Maka lebih baik jika kau meninggalkannya
Lalu mengambil tempat di depan gapura candi
Meminta sedekah dari mereka
Yang bekerja dengan suka cita

Lagu berusia seperempat abad dari album Pasir Putih langsung menggebrak ruang pertunjukan dan menghadirkan tepuk tangan membahana dari penonton khususnya KLanese yang selalu merindukan penampilan group yang namanya besar karena judul lagu yang sama dengan nama kota ini, Yogyakarta. Continue reading

Konser Sepenuh Cinta – Cinta Pada Siapa Saja

Yogyakarta. Banyak yang menyebutnya Indonesia Mini karena di kota ini terdapat jutaan orang yang berasal dari seluruh pelosok negeri ini termasuk orang-orang usia produktif dari pelajar sampai pasangan keluarga yang merupakan pasar dunia musik. Tak heran di kota ini sering terlaksana pertunjukan musik. Banyak musisi berpendapat Yogyakarta adalah salah satu kota tolok ukur keberhasilan bermusik. Di kota ini, apresiasi selalu ditunjukkan para orang muda. Continue reading

KLa Project – Grand KLakustik CD 1

KLa Project - 2014 GrandKLakustik 1 kodak wmBagi penggemar berat KLa Project seperti saya, tak menghadiri Konser Grand KLakustik pada 26 November 2013 sebagai konser 25 tahun mereka berkarya di industri musik Indonesia adalah sebuah kerugian besar. Ada penyesalan mendalam bagaimana saya tak menyaksikan para jendral itu beraksi. Namun sudahlah. Harus move-on dan tidak larut karena saya yakin idola saya tak akan melewatkan momen itu menjadi sebuah karya yang tak bisa dinikmati penggemarnya dalam bentuk lain sebagaimana mereka lakukan di tahun 1996 ketika mengadakan konser KLakustik. Continue reading

Pongki Barata – Pongki Meets The Stars

Pongki Barata - 2014 Pongki Meets The Stars wmMenginterpretasi ulang karya-karya lama yang sudah populer menjadi satu album kompilasi dengan artis-artis yang berbeda dari sebelumnya bukanlah barang baru. Di tahun 2003, Sony Music Indonesia merilis Tribute To Ian Antono, sebuah album yang berisi karya-karya ciptaan Ian Antono sang gitaris God Bless dan Gong 2000 yang dinyanyikan para musisi yang bernaung di bawah label perusahaan rekaman tersebut.

Di tahun 2004, label tersebut merilis Salute To Koes Plus/Bers yang berisi lagu-lagu legendaris Koes Plus dan atau Koes Bers di bawah komando Erwin Gutawa yang memang sejak kecil sudah mengagumi kelompok band bersaudara tersebut. Musisi yang terlibat di album itu juga mereka yang bernaung di label tersebut. Continue reading

Ditha – Pemain Biola nan Cantik

Ditha, pemain biola cantik dengan badan yang mungil. Menurut bio di akun Twitter-nya, namanya Cecilia Ditha. Saya belum tau nama lengkapnya. Yang saya tau hanyalah ia salah satu personil Violet, group yang beranggotakan tiga orang cewek yang semuanya bermain biola. Sebuah group yang bernaung di bawah KLa Corp, perusahaan tempat KLa Project berada. Karya mereka yang saya dengar baru Bahagia Tanpamu, sebuah lagu KLa Project dari album V (1995) ciptaan Katon Bagaskara, Lilo & Adi Adrian yang ada di album A Tribute To KLa Project (2011). Interpretasi ulang Bahagia Tanpamu yang mereka bawakan menyajikan sesuatu yang baru dengan unsur biola yang tak terdapat di versi aslinya.

Tapi, kali ini saya tak ingin bercerita panjang lebar tentang Ditha. Saya hanya ingin menikmati hasil foto saya ketika Ditha memainkan biolanya di reinKLanasi di Yogyakarta, 14 Pebruari 2014 beberapa hari yang lalu. “A thing of beauty is a joy forever”. Begitu kata John Keats (1795 – 1821).

BTW, ini update nama lengkap Dhita: Cecilia Ditha Rachmani 🙂

Adi – Sang Maestro di KLa

Pembawaannya yang pendiam dan cenderung “cool”, banyak KLanese yang berpendapat, Adi adalah mastermind dari karya-karya KLa Project. Kebenaran pendapat ini memang perlu dikonfirmasi padanya. Tapi, percuma saja. Ia pasti merendah dan akan mengatakan tidak. KLa adalah Katon, Lilo & Adi. Anyway, KLanese berhak berpendapat tanpa harus dikonfirmasi karena ini adalah sebuah proses pengamatan ribuan atau bahkan jutaan orang atas maha karya KLa Project. Memang perlu melihat bagaimana Adi memainkan jari-jemarinya di atas tuts kibor pada saat show, terutama pada lagu Semoga yang seringnya memberi ruang luas padanya untuk menunjukkan bahwa ia adalah pemain piano klasik.

Tj Singo
Pengagum KLa Project

Lilo – Gitaris Asik Dan Komunikator di KLa

 

Lilo mengakui dirinya bukanlah gitaris hebat tapi dia adalah gitaris asik. Asik memang memiliki konotasi yang luas. Asik main gitarnya, asik menghadapai orang-orang yang berkomunikasi dengannya. Tak pernah bosan berbicara dengannya. Ia adalah seorang komunikator yang ulung, berjiwa rock ‘n roll. Dia bukan orang yang birokratis. Dialah pencetus wadah fans KLa Project yang disebut KLanese. Dan, dia memang orang yang hangat bagi para KLanese. Dialah “ayah” bagi banyak orang di seputaran KLa seperti musisi tambahan, backing vocal, teknisi dan orang-orang lain yang terlibat dalam produksi. Pantaslah dia dipanggil “papi”.

Tj Singo
Pengagum KLa Project