Di Prambanan Jazz, RSD Masih Ada

masih ada cinta yang tersisa
ku berikan bila kau berubah
masih ada kesempatan kita
tuk membina semua cinta ini

Cuplikan bait kedua lagu “Masih Ada” yang dibawakan trio vokal neng geulis asal Bandung Rida Sita Dewi (RSD) menjadi afirmasi bahwa trio ini memang masih ada di hati para pecinta musik Indonesia. Lagu yang dibawakan sebagai pembuka penampilan mereka di ajang Prambanan Jazz Festival kelima pada tanggal 6 Juli 2019 yang lalu segera mendapatkan sambutan riuh penonton yang memang sudah tak bisa menahan rasa kangen penampilan trio yang menyatakan bubar di tahun 2003 namun bersatu kembali untuk membina semua cinta ini pada penggemarnya.

Continue reading

Prambanan Jazz: Festival Musik Kaum Milenial

Bagi Generasi Baby Boomer dan Generasi X, membeli barang dilakukan di toko yang umumnya menjual barang yang dikehendaki. Membeli sepatu ya di toko sepatu. Membeli baju ya di toko baju dan seterusnya. Sementara itu, bagi Generasi Milenial alias Generasi Y dan Z, pola membeli barang telah berubah. Apa yang menjadi kebutuhan mereka dapat ditemukan di satu tempat yang memfasilitasi para pedagang menawarkan berbagai macam barang jualan. Munculnya toserba atau toko serba ada dan pusat perbelanjaan di awal tahun 80-an menjadi permulaan berdirinya tempat yang lebih besar dan masal di tahun-tahun setelahnya. Mal, plaza, hypermart dan tempat-tempat belanja terpadu yang besar menjadi tujuan melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan.
Continue reading

Di Balik Panggung Jikustik Reunian

Waktu beranjak mendekati pukul 23.00. Beberapa orang yang bertugas di FOH (Front of House) pada pagelaran Jikustik Reunian di Grand Pacific Hall, Yogyakarta masih serius menjalankan tugasnya mengatur agar gelaran ini sesuai naskah yang direncanakan dan tetap berjalan baik dan sempurna. Masing-masing masih berada di peralatan kendali tata suara dan segala hal yang mendukung kesempurnaan acara ini. Continue reading

Jikustik Reunian – Sebuah Reuni Sesungguhnya

Grand Pacific Hall, Yogyakarta, 29 Maret 2019.

Sepuluh menit setelah pembawa acara Anang Batas dan Awang Adjiewasita membuka dan mengawali acara malam itu dengan introduksi berupa biografi singkat group yang menjadi bintang malam itu dengan canda dan plesetan yang sangat akrab dengan Yogyakarta, waktu beranjak ke sepuluh menit menuju pukul sembilan malam. Suasana gedung yang gelap gulita disertai suara-suara personil Jikustik formasi awal memasuki dunia industri musik Indonesia terputar. Suara Adhi Nurdin (Dadik), Adhitya Bagaskara (Adhit), Aji Mirza Hakim (Icha), Carolus Liberianto (Carlo) dan Pongki Barata (Pongki) terdengar memberikan pendapat tentang lagu “Maaf” disertai tulisan yang terpampang pada putaran rekaman video. Continue reading

Kuaetnika – Sesaji Nagari

“Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” – John F Kennedy

Kutipan di atas dicetuskan oleh Presiden John F Kennedy pada upacara pelantikannya sebagai Presiden Amerika Serikat ke-35 di tahun 1961. Kalimat tersebut menjadi kontekstual diterapkan saat ada warga negara “menggugat” pemerintah yang dirasakan tak memberi apa-apa. Pemerintah yang sudah melakukan banyak hal untuk mengangkat kehidupan rakyat masih dirasa kurang sehingga yang terjadi adalah tuntutan. Idealnya, seperti kutipan di atas, rakyat bisa melakukan sesuatu untuk negara.

Continue reading

Ngayogjazz 2018 – Jazz Untuk Bangsa Yang Lebih Besar

Selalu saja ada yang berbeda dan baru ketika berada di Ngayogjazz, festival jazz ndeso ala Yogyakarta. Berlokasi di desa Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, di tahun ke-12 pelaksanaannya hari Sabtu, 17 November 2018, Ngayogjazz mengambil tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara”. Tema ini mengadopsi ungkapan (peribahasa) Jawa “Negara mawa tata, desa mawa cara”. Ungkapan asli diterjemahkan oleh Kris Budiman seorang akademisi, antropolog dan pemerhati budaya sebagai “negara memberikan atau membawakan tatanan bagi komunitas bangsa, yang membawa cara atau menjalani adalah desa di tingkat mikro.” Kris yang menyatakan bahwa tagline tahun ini sangat kontekstual dengan situasi sosial dan politik saat ini menerjemahkan Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara sebagai jazz memberikan jalan atau cara menjadi bagian dari bangsa yang lebih besar. Continue reading

Ngayogjazz – Kawah Candradimuka Komunitas Jazz

Kata ‘jazz’ menjadi kata yang seksi untuk ditempelkan pada pagelaran acara musik yang disebut festival beberapa tahun belakangan ini. Sebut saja International Jazz Day, Java Jazz, Jazz Atas Awan (Dieng), Jazz Goes To Campus, Jazz Gunung (Bromo), Jazz Traffic, Loenpia Jazz (Semarang), Ngayogjazz, Prambanan Jazz, Ramadhan Jazz Festival, TP Jazz (Bandung) dan lain-lain. Dari sekian pagelaran tersebut, beberapa menyematkan jazz sebagai tempelan saja.

Musisi jazz yang tampil di pagelaran tersebut bisa dihitung dengan jari dua tangan atau dengan prosentase yang jauh lebih kecil dibanding musisi yang tidak memainkan jazz. Mereka bermain di ranah non jazz namun sangat populer. Pada satu sisi, penampilan mereka bisa menarik lebih banyak penonton namun di lain sisi bisa juga menyesatkan para pendengar musik yang tanggung pengetahuan. Mereka akhirnya menggeneralisasi semua musik adalah jazz. Continue reading