Di Balik Panggung Jikustik Reunian

Waktu beranjak mendekati pukul 23.00. Beberapa orang yang bertugas di FOH (Front of House) pada pagelaran Jikustik Reunian di Grand Pacific Hall, Yogyakarta masih serius menjalankan tugasnya mengatur agar gelaran ini sesuai naskah yang direncanakan dan tetap berjalan baik dan sempurna. Masing-masing masih berada di peralatan kendali tata suara dan segala hal yang mendukung kesempurnaan acara ini. Continue reading

15 Tahun Kerispatih – Dukungan Sepanjang Usia

Setiap pertambahan usia selalu dirayakan. Setiap pertambahan usia selalu ada harapan. Tak terkecuali pada sebuah band yang terus berkarya dan dalam perjalanannya mengalami perubahan berada di atas lalu di bawah. Hampir semua band mengalaminya termasuk Kerispatih. Continue reading

Doadibadai Hollo – Bertambah Usia dan Teruslah Berkarya

 

Kekaguman saya pada seorang Badai yang bernama lengkap Doadibadai Hollo tak bisa dipungkiri datang ketika saya mengidolakan Kerispatih sebagai band yang karyanya saya masukkan ke daftar koleksi milik saya. Bagi beberapa orang, mengidolakan sebuah band atau seorang penyanyi terjadi karena mereka suka pada lagu yang dibawakan oleh band atau penyanyi tersebut. Mereka berhenti di sana. Bagi saya kadang itu tak cukup. Sebuah karya lahir karena pencipta dan penciptaan. Orang di balik karya tersebut menjadi penting karena tanpa kreasinya, tak ada hasil yang bisa dinikmati. Continue reading

Padi Terlahir Kembali

Di saat group-group lain menggunakan kata ‘reunion’ untuk menandakan kembalinya mereka ke dunia musik Indonesia, Padi yang beranggotakan Ari pada gitar, Fadly sebagai vokalis, Piyu pada gitar, Rindra pada bass dan Yoyo pada drum memilih frasa ‘reborn’ saat menancapkan batangnya agar dapat kembali hidup dan dipanen dari ladang musik di negeri tercinta. Continue reading

Di Balik Panggung Krakatau Reunion Prambanan Jazz – Catatan Kecil Pengagum Krakatau

Di antara sekian banyak pengagum Krakatau, saya termasuk orang yang beruntung. Begitu mengagumi mereka sejak awal mereka merilis album diikuti album-album berikutnya yang totalnya hanya empat, saya yang dulu sangat berharap bisa bertemu dan mengenali mereka dengan dekat akhirnya bisa bertemu dan dekat. Dari Krakatau-lah saya bisa menikmati musik jazz yang dulu saya tidak suka.

Menonton mereka di panggung hanya terjadi satu kali pada masa mereka aktif. Itu terjadi di tahun 1987 tepatnya tanggal 24 Oktober di Sport Hall Kridosono. Masih teringat bagaimana suasana pertunjukan mereka di Yogyakarta yang dulu tak punya banyak pilihan untuk pertunjukan musik. Kerasnya volume suara yang memekakkan telinga membuat telinga berdengung ketika keluar dari tempat pertunjukan. Bagaimana mereka yang saat itu masih berusia belasan tahun sudah menjadi musisi yang luar biasa dan bagaimana saat lagu terakhir selesai dibawakan kemudian Trie Utami memeluk Indra Lesmana semuanya tak pernah hilang dari ingatan saya. Continue reading

Kiki Maria Sang Pelintas Sunyi

Sore tadi.
Pertemuan pertama dengan penyanyi 80an ini terjadi beberapa tahun lalu di sebuah gereja. Kemudian setahun lalu bertemu lagi pada sebuah pertunjukan musik dimana Koes Plus/Bers tampil. Tapi baru sore tadi mendapat kesempatan untuk meminta tanda tangan di kelima album plus dua album kompilasi (terbaik) sekalian ngobrol tentang karir di masa lalu dan kegiatan saat ini.
Pendengar musik di tahun 80an mengenali lagu-lagunya tapi pendengar musik setelah era 90an tak semua tau karena sejak album terakhirnya, dia praktis tak lagi aktif di dunia musik Indonesia.
Lebih banyak orang Indonesia mengenali ibunya sebagai pemain film bergenre horor.
Penyanyi bernama Kiki Maria adalah anak dari Suzanna yang dijuluki sebagai artis bintang film horor.

📷 by Dhani

Terima kasih mas fotografer…..

View on Path