Ngayogjazz – Kawah Candradimuka Komunitas Jazz

Kata ‘jazz’ menjadi kata yang seksi untuk ditempelkan pada pagelaran acara musik yang disebut festival beberapa tahun belakangan ini. Sebut saja International Jazz Day, Java Jazz, Jazz Atas Awan (Dieng), Jazz Goes To Campus, Jazz Gunung (Bromo), Jazz Traffic, Loenpia Jazz (Semarang), Ngayogjazz, Prambanan Jazz, Ramadhan Jazz Festival, TP Jazz (Bandung) dan lain-lain. Dari sekian pagelaran tersebut, beberapa menyematkan jazz sebagai tempelan saja.

Musisi jazz yang tampil di pagelaran tersebut bisa dihitung dengan jari dua tangan atau dengan prosentase yang jauh lebih kecil dibanding musisi yang tidak memainkan jazz. Mereka bermain di ranah non jazz namun sangat populer. Pada satu sisi, penampilan mereka bisa menarik lebih banyak penonton namun di lain sisi bisa juga menyesatkan para pendengar musik yang tanggung pengetahuan. Mereka akhirnya menggeneralisasi semua musik adalah jazz. Continue reading

Advertisements

Ngayogjazz: Bahagia Di Pesta Sebenarnya

Di dalam pesta ada pita-pita
Musik yang keras juga derai canda
Di dalam pesta ada gelak tawa
T’rasa malam semakin ceria
Wooo…

Di dalam pesta buanglah duka
Biarkan saja angan-angan lepas
Di dalam pesta mari berdansa
Ambil langkah ikuti irama

Cuplikan lirik di atas diambil dari lagu “Pesta” yang dibawakan Elfa’s Singers di album kompilasi Festival Lagu Populer Indonesia 1987 ciptaan Hentriesa dan Wieke Gur. Ya. Di pesta semua orang bergembira, ada gelak tawa, semua bisa bertemu dalam ruang tanpa ada sekat di sana. Semua membaur menjadi satu.

Ngayogjazz adalah sebuah festival. Festival secara semantik bisa memiliki arti pesta. Ya, Ngayogjazz adalah sebuah pesta jazz di Yogyakarta. Jadi, kalau pesta ya gembira. Gembira bermuara pada rasa bahagia. Continue reading

Ngayogjazz 2017: (Masih) Sebuah Perjuangan

Dipilihnya Dusun Kledokan, Selomartani, Kalasan, Sleman sebagai tempat pelaksanaan Ngayogjazz ke-11 di tahun 2017 adalah pernyataan tentang perjuangan. Dusun Kledokan dipilih dari sekian desa yang mengajukan diri menjadi tuan rumah padahal dusun ini tidak menyerahkan penawaran pada panitia. Selain faktor teknis yang menjadi standar tempat pelaksanaan yang memenuhi syarat, nilai sejarah yang dimiliki desa ini dalam berjuang dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia menjadi faktor penentu lain.

Continue reading

Emerald BEX – Sebuah Memori, Improvisasi & Atraksi di Ngayogjazz

Ngayogjazz, sebuah perhelatan jazz ndeso yang gaungnya sudah menasional, adalah sebuah perhelatan unjuk kebolehan bermain musik jazz sesungguhnya. Di kala banyak event yang menyematkan kata jazz namun sebagian besar penampilnya bermain di genre pop yang populis, Ngayogjazz konsisten, menurut istilah Hatta Kawa salah satu board pagelaran ini, hanya menyematkan prosentase kecil musisi yang bermain di ranah pop. Itu pun dengan syarat musik yang mereka mainkan berbalut jazz.

Puluhan artis yang tampil di acara setahun sekali di Yogyakarta selalu memberi dilema penampil mana yang hendak ditonton. Campuran musisi lama dan tunas-tunas muda yang terus berkembang memainkan jazz menjadi adonan yang hasilnya bikin mabok ketika harus memilih. Entah apa rahasia dapur ramuan mereka sehingga bisa menyodorkan buah simalakama bagi penonton yang serius ingin menikmati musik jazz secara live di enam panggung berbeda pada saat yang bersamaan. Continue reading

Ngayogjazz: Perbelanjaan Modern di Pasar Tradisional

Menghadiri pagelaran Ngayogjazz seperti berada di perbelanjaan modern (pasar swalayan) di pasar tradisional. Ngayogjazz yang selalu diadakan di desa pada tahun ke-10 pelaksanaannya tahun ini diadakan pada hari Sabtu Pon, 19 November 2016 di Padukuhan Kwagon, Godean, Sleman dengan tema Hamemangun Karyenak Jazzing Sasama yang terinspirasi dari Pupuh Sinom Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV. Ungkapan tema ini berasal dari kata Amemangun Karyenak Tyasing Sasama yang artinya berbuat untuk menyenangkan hati sesama manusia. Lengkapnya bisa di baca di sini

Hiraukan sejenak tentang tema tahun ini yang membutuhkan konsentrasi linguistik tingkat tinggi nan filosofis dan agak sulit dihafalkan. Lebih baik saya melanjutkan tentang pasar swalayan di pasar tradisional saja. Ini adalah sebuah cerita pengalaman menghadiri Ngayogjazz tahun lalu yang diadakan di Desa Pandowoharjo, Sleman. Continue reading

Kecewa Di Ngayogjazz 2014

Catatan: Harap jangan hanya baca judulnya tapi selesaikan sampai akhir tulisan.

Ngayogjazz. Sebuah perhelatan jazz tahunan di Yogyakarta. Sebuah pesta musisi jazz ala ndeso. Ndeso? Ya, karena selalu diadakan di desa. Perhelatan yang diadakan sejak tahun 2007 ini awalnya menarik saya hanya untuk menonton para penampil yang sudah punya nama alias musisi level nasional. Itu pun menarik saya mulai tahun 2008 di Tembi karena penampilnya adalah idola.

Kejadian di Tembi berlanjut ke tahun-tahun berikutnya: tahun 2009 di Pasar Seni Gabusan, Bantul; 2011 di Pelataran Djoko Pekik, Bantul (yang ini seharusnya tahun 2010 tapi diundur menjadi 2011 karena bencana meletusnya Gunung Merapi di bulan Oktober 2010); 2011 kedua di Kotagede; 2012 di Brayut; 2013 di Sidoakur dan 2014 kembali ke Brayut. Continue reading

Ngayogjazz 2014 – Tung Tak Tung Jazz

ngayogjazz 2014 2Tak terasa, seminggu lagi, tepatnya 22 November, Ngayogjazz 2014 akan digelar. Ini adalah gelaran ke delapan sejak 2007. Ngayogjazz yang pertama diadakan secara sederhana di Padepokan Bagong Kussudiardja berangkat dari semangat yang sederhana pula. Namun siapa sangka akhirnya acara ini menjadi acara yang ditunggu-tunggu ulang tahunnya?

Apa sih yang menarik dari acara ini? Buat saya yang suka nonton pertunjukan musik, Ngayogjazz tak sekedar pertunjukan musik (jazz) dimana penonton hanya terfokus pada sebuah panggung, berdiri atau duduk sekitar 60 menit lalu bubar membawa kenangan. Ngayogjazz memberikan hal yang berbeda daripada sekedar menonton pertunjukan musik. Bagi saya yang tak pernah menonton pertunjukan musik besar bersifat internasional karena alasan ruang dan waktu (dan duit juga), Ngayogjazz adalah pilihan tepat. Continue reading