Ngayogjazz 2019 – Kesedihan Yang Masih Tersisa Dan Optimisme Yang Terus Ada

16 November 2019 sore menjelang pembukaan Ngayogjazz di Padukuhan Kwagon Desa Sidorejo, Godean, Yogyakarta, terlihat sosok Bernadette Ika Sari alias Petra, istri almarhum Djaduk Ferianto, bersama Gallus Presiden Dewagana, Kadinda Rani Nyaribunyi dan Eugenia Rajane Tetabuhan di sekitar Panggung Gendeng, panggung yang digunakan untuk seremoni pembukaan Ngayogjazz.

Bagi beberapa orang mendatangi sebuah perhelatan atau pesta saat masa berkabung masih berlangsung merupakan suatu pantangan. Dalam kasus ini, bisa dipahami bahwa Petra bersama anak-anaknya mendatangi gelaran ini karena almarhum Djaduk adalah pencetus Ngayogjazz. Sebuah pertanyaan saya ajukan: “Mbak Petra ning kene tekan wengi? (Mbak Petra di sini sampai malam? – red)”. Dia menjawab: “Iyo. Nek ora, sopo sing ngancani Mas Djaduk? (Iya. Klo enggak, siapa yang menemani Mas Djaduk? – red).” Continue reading

Ngayogjazz 2018 – Jazz Untuk Bangsa Yang Lebih Besar

Selalu saja ada yang berbeda dan baru ketika berada di Ngayogjazz, festival jazz ndeso ala Yogyakarta. Berlokasi di desa Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, di tahun ke-12 pelaksanaannya hari Sabtu, 17 November 2018, Ngayogjazz mengambil tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara”. Tema ini mengadopsi ungkapan (peribahasa) Jawa “Negara mawa tata, desa mawa cara”. Ungkapan asli diterjemahkan oleh Kris Budiman seorang akademisi, antropolog dan pemerhati budaya sebagai “negara memberikan atau membawakan tatanan bagi komunitas bangsa, yang membawa cara atau menjalani adalah desa di tingkat mikro.” Kris yang menyatakan bahwa tagline tahun ini sangat kontekstual dengan situasi sosial dan politik saat ini menerjemahkan Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara sebagai jazz memberikan jalan atau cara menjadi bagian dari bangsa yang lebih besar. Continue reading

Ngayogjazz – Kawah Candradimuka Komunitas Jazz

Kata ‘jazz’ menjadi kata yang seksi untuk ditempelkan pada pagelaran acara musik yang disebut festival beberapa tahun belakangan ini. Sebut saja International Jazz Day, Java Jazz, Jazz Atas Awan (Dieng), Jazz Goes To Campus, Jazz Gunung (Bromo), Jazz Traffic, Loenpia Jazz (Semarang), Ngayogjazz, Prambanan Jazz, Ramadhan Jazz Festival, TP Jazz (Bandung) dan lain-lain. Dari sekian pagelaran tersebut, beberapa menyematkan jazz sebagai tempelan saja.

Musisi jazz yang tampil di pagelaran tersebut bisa dihitung dengan jari dua tangan atau dengan prosentase yang jauh lebih kecil dibanding musisi yang tidak memainkan jazz. Mereka bermain di ranah non jazz namun sangat populer. Pada satu sisi, penampilan mereka bisa menarik lebih banyak penonton namun di lain sisi bisa juga menyesatkan para pendengar musik yang tanggung pengetahuan. Mereka akhirnya menggeneralisasi semua musik adalah jazz. Continue reading

Ngayogjazz: Bahagia Di Pesta Sebenarnya

Di dalam pesta ada pita-pita
Musik yang keras juga derai canda
Di dalam pesta ada gelak tawa
T’rasa malam semakin ceria
Wooo…

Di dalam pesta buanglah duka
Biarkan saja angan-angan lepas
Di dalam pesta mari berdansa
Ambil langkah ikuti irama

Cuplikan lirik di atas diambil dari lagu “Pesta” yang dibawakan Elfa’s Singers di album kompilasi Festival Lagu Populer Indonesia 1987 ciptaan Hentriesa dan Wieke Gur. Ya. Di pesta semua orang bergembira, ada gelak tawa, semua bisa bertemu dalam ruang tanpa ada sekat di sana. Semua membaur menjadi satu.

Ngayogjazz adalah sebuah festival. Festival secara semantik bisa memiliki arti pesta. Ya, Ngayogjazz adalah sebuah pesta jazz di Yogyakarta. Jadi, kalau pesta ya gembira. Gembira bermuara pada rasa bahagia. Continue reading

Ngayogjazz 2017: (Masih) Sebuah Perjuangan

Dipilihnya Dusun Kledokan, Selomartani, Kalasan, Sleman sebagai tempat pelaksanaan Ngayogjazz ke-11 di tahun 2017 adalah pernyataan tentang perjuangan. Dusun Kledokan dipilih dari sekian desa yang mengajukan diri menjadi tuan rumah padahal dusun ini tidak menyerahkan penawaran pada panitia. Selain faktor teknis yang menjadi standar tempat pelaksanaan yang memenuhi syarat, nilai sejarah yang dimiliki desa ini dalam berjuang dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia menjadi faktor penentu lain.

Continue reading

Emerald BEX – Sebuah Memori, Improvisasi & Atraksi di Ngayogjazz

Ngayogjazz, sebuah perhelatan jazz ndeso yang gaungnya sudah menasional, adalah sebuah perhelatan unjuk kebolehan bermain musik jazz sesungguhnya. Di kala banyak event yang menyematkan kata jazz namun sebagian besar penampilnya bermain di genre pop yang populis, Ngayogjazz konsisten, menurut istilah Hatta Kawa salah satu board pagelaran ini, hanya menyematkan prosentase kecil musisi yang bermain di ranah pop. Itu pun dengan syarat musik yang mereka mainkan berbalut jazz.

Puluhan artis yang tampil di acara setahun sekali di Yogyakarta selalu memberi dilema penampil mana yang hendak ditonton. Campuran musisi lama dan tunas-tunas muda yang terus berkembang memainkan jazz menjadi adonan yang hasilnya bikin mabok ketika harus memilih. Entah apa rahasia dapur ramuan mereka sehingga bisa menyodorkan buah simalakama bagi penonton yang serius ingin menikmati musik jazz secara live di enam panggung berbeda pada saat yang bersamaan. Continue reading

Ngayogjazz: Perbelanjaan Modern di Pasar Tradisional

Menghadiri pagelaran Ngayogjazz seperti berada di perbelanjaan modern (pasar swalayan) di pasar tradisional. Ngayogjazz yang selalu diadakan di desa pada tahun ke-10 pelaksanaannya tahun ini diadakan pada hari Sabtu Pon, 19 November 2016 di Padukuhan Kwagon, Godean, Sleman dengan tema Hamemangun Karyenak Jazzing Sasama yang terinspirasi dari Pupuh Sinom Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV. Ungkapan tema ini berasal dari kata Amemangun Karyenak Tyasing Sasama yang artinya berbuat untuk menyenangkan hati sesama manusia. Lengkapnya bisa di baca di sini

Hiraukan sejenak tentang tema tahun ini yang membutuhkan konsentrasi linguistik tingkat tinggi nan filosofis dan agak sulit dihafalkan. Lebih baik saya melanjutkan tentang pasar swalayan di pasar tradisional saja. Ini adalah sebuah cerita pengalaman menghadiri Ngayogjazz tahun lalu yang diadakan di Desa Pandowoharjo, Sleman. Continue reading