Ngayogjazz 2019 – Kesedihan Yang Masih Tersisa Dan Optimisme Yang Terus Ada

16 November 2019 sore menjelang pembukaan Ngayogjazz di Padukuhan Kwagon Desa Sidorejo, Godean, Yogyakarta, terlihat sosok Bernadette Ika Sari alias Petra, istri almarhum Djaduk Ferianto, bersama Gallus Presiden Dewagana, Kadinda Rani Nyaribunyi dan Eugenia Rajane Tetabuhan di sekitar Panggung Gendeng, panggung yang digunakan untuk seremoni pembukaan Ngayogjazz.

Bagi beberapa orang mendatangi sebuah perhelatan atau pesta saat masa berkabung masih berlangsung merupakan suatu pantangan. Dalam kasus ini, bisa dipahami bahwa Petra bersama anak-anaknya mendatangi gelaran ini karena almarhum Djaduk adalah pencetus Ngayogjazz. Sebuah pertanyaan saya ajukan: “Mbak Petra ning kene tekan wengi? (Mbak Petra di sini sampai malam? – red)”. Dia menjawab: “Iyo. Nek ora, sopo sing ngancani Mas Djaduk? (Iya. Klo enggak, siapa yang menemani Mas Djaduk? – red).” Continue reading

Di Prambanan Jazz, RSD Masih Ada

masih ada cinta yang tersisa
ku berikan bila kau berubah
masih ada kesempatan kita
tuk membina semua cinta ini

Cuplikan bait kedua lagu “Masih Ada” yang dibawakan trio vokal neng geulis asal Bandung Rida Sita Dewi (RSD) menjadi afirmasi bahwa trio ini memang masih ada di hati para pecinta musik Indonesia. Lagu yang dibawakan sebagai pembuka penampilan mereka di ajang Prambanan Jazz Festival kelima pada tanggal 6 Juli 2019 yang lalu segera mendapatkan sambutan riuh penonton yang memang sudah tak bisa menahan rasa kangen penampilan trio yang menyatakan bubar di tahun 2003 namun bersatu kembali untuk membina semua cinta ini pada penggemarnya.

Continue reading

Air Supply – Masih Menggeliat

Duo Air Supply asal Australia yang menyanyikan lagu-lagu cinta singgah di Indonesia dalam rangkaian konser tur memperingati 40 tahun usia eksistensi mereka di blantika musik dunia. Kali ini, mereka hanya melakukan pertunjukan di dua kota, Malang dan Yogyakarta.

Air Supply 40th Anniversary Tour Concert
Rabu, 11 Maret 2015, Grand Ballroom Hotel Tentrem, Yogyakarta

Jika ukuran keberhasilan tontonan adalah keterlibatan penonton di pertunjukan dan jumlah tiket terjual, Air Supply sukses melakukannya di Yogyakarta. Menurut Anas Sahrul Alimi, CEO Rajawali Indonesia sebagai penyelenggara, 2000 tiket pada empat kelas habis terjual. Bahkan untuk kelas Platinum seharga Rp 1.500.000,00 yang untuk ukuran Yogyakarta adalah sebuah harga yang sangat mahal. Konser dimulai pukul 20.05 dengan ditandai gemuruh drum bak gempa bumi sebagai intro lagu ‘Even The Nights Are Better’. Konser berdurasi 90 menit ini menyajikan lima belas lagu. Persis seperti yang dijanjikan oleh Russel Hitchcock pada konferensi pers beberapa saat sebelum pertunjukan dimulai. Continue reading

Jikustik Reunian – Sebuah Reuni Sesungguhnya

Grand Pacific Hall, Yogyakarta, 29 Maret 2019.

Sepuluh menit setelah pembawa acara Anang Batas dan Awang Adjiewasita membuka dan mengawali acara malam itu dengan introduksi berupa biografi singkat group yang menjadi bintang malam itu dengan canda dan plesetan yang sangat akrab dengan Yogyakarta, waktu beranjak ke sepuluh menit menuju pukul sembilan malam. Suasana gedung yang gelap gulita disertai suara-suara personil Jikustik formasi awal memasuki dunia industri musik Indonesia terputar. Suara Adhi Nurdin (Dadik), Adhitya Bagaskara (Adhit), Aji Mirza Hakim (Icha), Carolus Liberianto (Carlo) dan Pongki Barata (Pongki) terdengar memberikan pendapat tentang lagu “Maaf” disertai tulisan yang terpampang pada putaran rekaman video. Continue reading

Ngayogjazz 2018 – Jazz Untuk Bangsa Yang Lebih Besar

Selalu saja ada yang berbeda dan baru ketika berada di Ngayogjazz, festival jazz ndeso ala Yogyakarta. Berlokasi di desa Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, di tahun ke-12 pelaksanaannya hari Sabtu, 17 November 2018, Ngayogjazz mengambil tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara”. Tema ini mengadopsi ungkapan (peribahasa) Jawa “Negara mawa tata, desa mawa cara”. Ungkapan asli diterjemahkan oleh Kris Budiman seorang akademisi, antropolog dan pemerhati budaya sebagai “negara memberikan atau membawakan tatanan bagi komunitas bangsa, yang membawa cara atau menjalani adalah desa di tingkat mikro.” Kris yang menyatakan bahwa tagline tahun ini sangat kontekstual dengan situasi sosial dan politik saat ini menerjemahkan Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara sebagai jazz memberikan jalan atau cara menjadi bagian dari bangsa yang lebih besar. Continue reading

Prambanan Jazz 2018

“Pengalaman adalah guru terbaik.”

Pepatah ini menjadi pegangan bagi Rajawali Indonesia Communication (RIC) yang menyelenggarakan acara Prambanan Jazz untuk keempat kalinya di tahun 2018 ini. Setelah penyelenggaraan pertama dan kedua yang meninggalkan banyak kritikan dan pekerjaan rumah serta penyelenggaraan ketiga tahun lalu yang memunculkan “drama Korea” yang menghabiskan tenaga pikiran, tahun ini Prambanan Jazz jauh lebih tertata dan jauh lebih bagus serta memuaskan baik bagi penonton, penampil maupun penyelenggara. Continue reading